BRIN Kembangkan Kain Pintar, Deteksi Pewarna Berbahaya Makanan

4 Min Read
Two scientists in masks and hairnets examine peppers on a lab bench; one points at a clipboard held by the other, with a microscope nearby and plant shoots on the table.
Ilustrasi. (Foto: rmc-indonesia.com)

Mabur.co –Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan teknologi kain pintar atau smart fabric yang mampu mendeteksi zat pewarna berbahaya secara cepat dan praktis.

Inovasi yang dikembangkan oleh peneliti Pusat Riset Fotonika BRIN, Prof. Isnaeni, ini dirancang untuk membantu proses pengawasan keamanan pangan tanpa harus selalu bergantung pada pengujian laboratorium yang rumit dan memakan waktu.

Menurut Isnaeni, hingga saat ini keberadaan zat pewarna sintetis masih kerap ditemui pada makanan yang beredar di masyarakat, meski berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius jika terpapar dalam jangka panjang, mulai dari gangguan organ hingga meningkatkan risiko kanker.

Sementara di sisi lain proses pendeteksian zat berbahaya pada makanan tersebut cukup sulit dilakukan karena harus melalui berbagai tahapan panjang seperti pengambilan sampel dan pengujian di laboratorium. Sehingga diperlukan alat yang lebih simpel dan cepat.

“Kami ingin menghadirkan teknologi sensor yang tidak hanya memiliki sensitivitas tinggi, tetapi juga mudah digunakan di lapangan dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan demikian, proses deteksi bahan berbahaya dapat dilakukan secara lebih cepat tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium yang kompleks,” ujarnya dikutip dari laman Brin.go.id, Kamis (25/6/2026).

Teknologi yang dikembangkan BRIN ini sendiri berbentuk lembaran fiberglass fleksibel yang dilapisi nanopartikel perak (silver nanoparticles).

Menariknya, proses pembuatannya relatif singkat karena hanya membutuhkan waktu sekitar 30 detik menggunakan metode sintesis gelombang mikro untuk menghasilkan lapisan sensor yang optimal.

Mengenali Molekul Berbahaya

Disebutkan lapisan nanopartikel tersebut nantinya akan berfungsi memperkuat sinyal cahaya pada teknologi Surface Enhanced Raman Spectroscopy (SERS) sehingga mampu mengenali keberadaan molekul pewarna berbahaya meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah.

Hasil pengujian menunjukkan sensor ini memiliki tingkat sensitivitas tinggi dengan kemampuan mendeteksi zat pewarna hingga konsentrasi 10⁻⁷M. Tidak hanya itu, sensor juga mampu mengidentifikasi beberapa jenis pewarna sekaligus dalam satu kali pemeriksaan.

“Keunggulan sensor ini tidak hanya terletak pada sensitivitasnya, tetapi juga pada kemampuannya mengenali beberapa jenis pewarna secara bersamaan serta mempertahankan performa yang stabil meskipun digunakan berulang kali,” jelas Isnaeni.

Sementara keunggulan lain dari teknologi ini adalah sifatnya yang fleksibel dan dapat digunakan langsung di berbagai permukaan.

Uji Coba di Sayuran

Dalam serangkaian uji coba, sensor bahkan berhasil mendeteksi keberadaan zat pewarna pada permukaan sayuran seperti mentimun, pare, terong, hingga labu siam hanya melalui metode usap sederhana.

Kemampuan tersebut membuka peluang penggunaan perangkat Raman portabel untuk melakukan inspeksi keamanan pangan langsung di pasar, tempat produksi, maupun lokasi distribusi tanpa perlu membawa sampel ke laboratorium.

Selain itu untuk mendeteksi pewarna berbahaya, BRIN juga melihat potensi pengembangan teknologi ini ke berbagai bidang lain. Seperti mendeteksi residu pestisida, bahan kimia berbahaya, mikroplastik, hingga biomarker kesehatan.

“Inovasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi hadirnya perangkat sensor portabel generasi baru yang murah, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Isnaeni.

Hasil riset ini sendiri telah dipublikasikan dalam jurnal internasional “Biochemical Engineering Journal” tahun 2026 melalui artikel berjudul “Single-vessel microwave-assisted fabrication of flexible Ag@FG substrates for robust and reusable SERS multi-dye detection”.

Dengan kemampuan mendeteksi zat berbahaya secara cepat, akurat, dan dapat digunakan berulang kali, teknologi kain pintar buatan BRIN ini berpotensi menjadi terobosan baru dalam sistem pengawasan keamanan pangan di Indonesia. ***

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment