Kebebasan Influencer adalah Tanpa Batas?

Mabur.co – Kata “influencer” sudah begitu melekat di telinga kita, setelah media sosial kian menjamur dan mampu menjadi ruang komunikasi yang efektif bagi suatu informasi tertentu, yang bertujuan untuk mempengaruhi atau membawa perubahan terhadap kalangan tertentu.

Seiring berjalannya waktu, influencer juga kerap disamakan dengan artis, karena influencer sering mendapat atensi tinggi melalui berbagai postingan yang dibuatnya, mendapatkan banyak tawaran iklan maupun job, serta tidak jarang juga ikut bergaul dengan beberapa selebritis.

Dengan platform yang lebih luas dan beragam seperti media sosial, influencer bisa lebih mudah menyampaikan setiap ide dan gagasannya, tanpa perlu mendapat persetujuan berlapis seperti di televisi maupun radio dan seterusnya.

Namun, karena kebebasan itulah, justru banyak influencer yang menjadi kebablasan. Sehingga kerapkali menghadapi kasus hukum akibat postingan atau kontennya yang memicu kontroversi publik.

Seperti yang pernah terjadi pada Indra Kenz, Ahmad Rafif yang kedapatan menipu hingga triliunan rupiah. Lalu ada Rachel Vennya yang disorot karena kabur dari kewajiban karantina setelah kedapatan pergi ke luar negeri di masa pandemi COVID-19 lalu.

Selain itu ada Nikita Mirzani yang terseret dalam isu pemerasan dengan nilai fantastis saat membuat konten ulasan produk atau jasa. Ada pula Ferdian Paleka yang pernah membuat konten prank bantuan sembako yang ternyata berisi sampah kepada waria di Bandung.

Kebebasan Bukan Berarti Kebablasan

Meskipun media sosial adalah platform yang begitu luas dan bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja, tetap saja perlu ada koridor yang jelas dari setiap penggunanya, termasuk para influencer, untuk dapat menggunakannya dengan lebih bijak.

Setiap postingan maupun konten yang dibuat, menjadi cerminan bagi si pembuatnya, sehingga prinsip check and recheck harus selalu diberlakukan sebelum postingan tersebut sampai ke feed para followers-nya.

Apalagi media sosial juga memiliki algoritma tersendiri, yang mana hal itu tidak selalu sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku. Alhasil, banyak influencer yang kemudian “asal posting yang penting viral” untuk bisa menciptakan kehebohan di masyarakat, baik itu di ranah digital maupun dunia nyata.

Tentu saja, influencer juga memiliki tugas yang cukup berat. Selain meng-influence para followers-nya, mereka juga perlu memberikan edukasi dalam setiap postingannya yang diunggah ke media sosial, tanpa perlu mengandung unsur promosi di dalamnya.

Inilah yang masih cukup sulit dilakukan oleh para influencer di luar sana. Kebanyakan dari mereka hanya memposting sesuatu yang disukai, atau ujung-ujungnya selalu “jualan”.

Semakin Banyak Followers, Semakin Besar Tanggung Jawabnya

Sebenarnya tidak ada yang salah dari setiap postingan yang dibuat oleh para influencer ini (termasuk postingan jualan), karena pada akhirnya itu adalah akun media sosial mereka, dan kewenangan pribadi mereka untuk memposting apapun yang mereka sukai.

Bagaimanapun, dengan banyaknya followers yang dimiliki, setiap postingan mereka akan selalu menjadi perhatian publik, sereceh apapun postingan yang dibuat. Entah itu baru bangun tidur, susah tidur, make up, makan di restoran tertentu, dan seterusnya.

Semakin banyak influencer yang beredar dari berbagai bidang, maka semakin beragam pula konten yang dihasilkan, serta semakin rentan pula memicu kontroversi hingga terkena kasus hukum. Sesuatu yang jelas tidak pernah diharapkan akan terjadi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *