Lele Asap Jati Banaran, Warisan Kuliner Leluhur, Oleh-oleh Baru Khas Kulon Progo - Mabur.co

Lele Asap Jati Banaran, Warisan Kuliner Leluhur, Oleh-oleh Baru Khas Kulon Progo 

Mabur.co – Aroma asap dari sabut dan batok kelapa masih mengepul dari dapur-dapur sederhana di Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo. 

Di dusun inilah tradisi pengolahan lele asap bertahan selama puluhan tahun dan kini mulai disiapkan menjadi oleh-oleh khas baru Kabupaten Kulon Progo.

Kuliner tradisional ini bukan sekadar olahan ikan biasa. Lele asap Jati Banaran lahir dari kebiasaan masyarakat memanfaatkan hasil tangkapan ikan air tawar dari Sungai Progo sejak sekitar tahun 1970-an.

Kala itu hasil tangkapan ikan melimpah, sementara masyarakat membutuhkan cara agar ikan bisa bertahan lebih lama dan tidak cepat rusak. Dari situlah muncul teknik pengasapan tradisional yang diwariskan turun-temurun hingga sekarang.

Jika dahulu bahan baku berasal dari hasil tangkapan sungai, kini masyarakat menggunakan lele hasil budidaya sendiri. Meski begitu, cara pengolahannya tetap dipertahankan seperti warisan leluhur.

Salah seorang warga sekaligus pelaku usaha lele asap, Sudiyah mengatakan, ciri khas utama lele asap Jati Banaran terletak pada proses pengasapannya yang masih menggunakan bahan alami berupa sabut dan batok kelapa.

“Keunggulan lele asap Jati Banaran terletak pada proses pengolahannya yang masih tradisional menggunakan sabut kelapa. Itu menghasilkan tekstur yang lebih renyah dan cita rasa asap yang khas sehingga mudah diterima pasar,” ujarnya.

Penggunaan sabut dan batok kelapa menghasilkan aroma asap yang kuat namun tidak menyengat. Daging ikan menjadi lebih padat di bagian luar, tetapi tetap lembut di dalam. Permukaan lele juga tampak lebih kering dengan warna kecokelatan khas hasil pengasapan alami.

Sensasi gurih dari daging ikan berpadu dengan aroma asap tradisional membuat lele asap Jati Banaran memiliki karakter rasa yang berbeda dibandingkan olahan lele pada umumnya.

Selain proses pengasapan, teknik penyusunan ikan juga menjadi ciri khas tersendiri. Lele yang telah dibersihkan ditusuk menggunakan bambu dengan bentuk beragam, mulai dari lurus hingga menyerupai keris sebelum diasapi selama beberapa jam.

Proses tersebut tidak hanya menjadi bagian teknik memasak, tetapi juga mempertahankan identitas budaya pengolahan tradisional masyarakat setempat.

Saat ini terdapat sekitar delapan produsen lele asap aktif di Padukuhan Jati yang tergabung dalam tiga kelompok pengolah dan pemasar (poklasar), yakni Poklasar Jati, Poklasar Progo, dan Poklasar Mandiri.

Produksi lele asap di kawasan ini mencapai sekitar 400 hingga 500 kilogram per hari dan dapat meningkat hingga sekitar 800 kilogram saat hari libur maupun hari besar.

Sebagian besar produk dipasarkan ke pasar tradisional di Bantul dan Yogyakarta. Tingginya permintaan membuat lele asap Jati kerap habis hanya dalam waktu dua hingga tiga jam setelah sampai di pasar.

“Pasarnya sudah jelas dan sangat potensial. Di pasar tradisional biasanya tidak sampai dua atau tiga jam sudah habis,” katanya.

Lele Asap Jati Banaran oleh-oleh khas Kulon Progo (foto : JH Kusmargana)

Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo kini mulai memperkuat branding lele asap Jati Banaran sebagai identitas kuliner daerah sekaligus oleh-oleh khas baru Kulon Progo.

Pemerintah bahkan telah meluncurkan Kampung Lele Asap di Padukuhan Jati sebagai bagian dari pengembangan kawasan berbasis kuliner, perikanan, dan pariwisata.

Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo, Wakhid Purwosubiyantara bahkan mengaku telah mengusulkan lele asap Jati Banaran sebagai produk kuliner khas identitas Kulon Progo ke pemerintah pusat.

“Tujuannya agar lele asap ini tidak diklaim daerah lain. Dan bisa menjadi branding identitas yang memperkaya produk lokal dari Kulon Progo,” katanya.

Sementara itu, Ketua Desa Wisata Banaran, Duta Andika, mengaku akan mengembangkan warisan kuliner lele asap ini sebagai daya tarik wisata baru di Desa Wisata Banaran Kulon Progo. 

“Lele asap ini sudah ada sejak zaman simbahsimbah dulu. Sekarang kami ingin mengembangkannya agar tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga menjadi daya tarik orang untuk datang ke sini,” ujar Andika.

Ke depan, Kampung Lele Asap tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga dikembangkan sebagai destinasi wisata kuliner yang dintegrasikan dengan wisata lainnya. 

Wisatawan nantinya akan dapat melihat langsung proses pengasapan tradisional, menikmati sajian mangut lele, hingga membeli lele asap sebagai buah tangan khas Kulon Progo.

Selain menikmati kuliner wisatawan juga dapat menikmati paket wisata lain seperti konservasi penyu di pantai Trisik, pemantauan burung migrasi di Muara Sungai Progo hingga wisata susur sungai dan penanaman mangrove. 

Dengan berbagai upaya ini keberadaan kuliner lele asap diharapkan akan mampu mengembangkan berbagai potensi wisata di dusun Jati Banaran sekaligus juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *