Mabur.co – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menetapkan Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, sebagai Kampung Lele Asap.
Penetapan ini menjadi langkah awal untuk menjadikan lele asap sebagai identitas kuliner sekaligus oleh-oleh khas Kulon Progo.
Peluncuran Kampung Lele Asap ini dilakukan dengan melibatkan seluruh masyarakat dusun, pelaku usaha, hingga sejumlah pihak baik instansi swasta maupun pemerintah.
Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo, Wakhid Purwosubiyantara, mengatakan, peluncuran Kampung Lele Asap ini dilakukan melihat potensi kuliner lele asap yang ada di Dusun Jati.
Terlebih kuliner lele asap ini telah diproduksi oleh masyarakat setempat selama berpuluh-puluh tahun dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Saat ini mayoritas pelaku usaha lele asap merupakan generasi ketiga.
Namun sayangnya meski sudah diproduksi sejak tahun 1970-an hingga saat ini, kuliner lele asap belum menjadi identitas produk lokal, serta tidak memiliki branding yang jelas, sehingga kurang dikenal masyarakat luas.
“Selama ini lele asap Jati sebenarnya sudah banyak dipasarkan, terutama ke Bantul dan Yogyakarta. Namun produk ini belum memiliki branding, logo, maupun pengakuan resmi sebagai produk daerah. Karena itu kami launching Kampung Lele Asap agar bisa menjadi identitas khas Kulon Progo,” ujar Wakhid kepada mabur.co, Kamis (7/5/2026).
Dulu awalnya masyarakat membuat ikan asap dengan memanfaatkan hasil tangkapan ikan air tawar dari Sungai Progo yang melimpah.
Namun kini masyarakat Dusun Jati mengolah ikan lele asap dari hasil budidaya mereka sendiri.
Lele tersebut diolah dengan teknik pengasapan tradisional menggunakan bahan alami warisan leluhur berupa sabut dan batok kelapa yang terus dilestarikan hingga saat ini.
“Dengan proses pengolahan ini ikan menjadi lebih awet atau tidak cepat rusak,” tambahnya.
Saat ini terdapat sekitar delapan produsen lele asap aktif di Padukuhan Jati yang tergabung dalam tiga kelompok pengolah dan pemasar (poklasar), yakni Poklasar Jati, Poklasar Progo, dan Poklasar Mandiri.
Masing-masing pelaku usaha mampu menyerap dua hingga tiga tenaga kerja lokal.
“Sekarang sudah berkembang menjadi delapan pelaku usaha. Total tenaga kerja yang terserap sekitar 30 orang dan semuanya warga lokal. Ini menunjukkan usaha lele asap bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupi masyarakat,” ujar Wakhid.

Sementara itu dari sisi produksi lele asap di Kampung Jati saat ini mencapai sekitar 400 hingga 500 kilogram per hari. Saat hari libur atau momentum hari besar, jumlah produksi dapat meningkat hingga sekitar 800 kilogram per hari.
Sebagian besar hasil produksi dipasarkan ke luar wilayah, terutama pasar-pasar tradisional di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.
Tingginya permintaan membuat produk lele asap Jati kerap habis hanya dalam waktu dua hingga tiga jam setelah tiba di pasar.
“Pasarnya sudah jelas dan sangat potensial. Di pasar tradisional biasanya tidak sampai dua atau tiga jam sudah habis. Ini menjadi peluang besar untuk terus dikembangkan,” kata Wakhid.
Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo pun menyiapkan konsep pengembangan kawasan berbasis ekosistem lele terpadu melalui program Kampung Lele Asap. Pengembangan tidak hanya difokuskan pada produksi, tetapi juga sektor wisata dan kuliner.
Konsep yang disiapkan meliputi pengembangan budidaya lele, sentra pengolahan, pusat kuliner mangut lele, tempat pelatihan masyarakat, hingga destinasi wisata berbasis perikanan dan budaya lokal.
“Tujuannya agar lele asap bisa menjadi branding Kulon Progo. Ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan daya tarik wisata,” jelas Wakhid.
Pemerintah daerah juga telah mengusulkan lele asap Jati Banaran sebagai produk indikasi geografis kepada pemerintah pusat guna memperkuat identitas serta daya saing produk lokal.
“Kami ingin lele asap ini diakui sebagai produk khas Kulon Progo sekaligus menjadi oleh-oleh unggulan daerah,” tambahnya.
Ketua Desa Wisata Banaran, Duta Andika, berharap keberadaan Kampung Lele Asap ini bisa menjadi branding baru Desa Wisata Banaran sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui sektor kuliner dan pariwisata berkelanjutan.
Terlebih Desa Wisata Banaran telah memiliki beragam spot maupun paket wisata unggulan berbasis konservasi. Seperti pemantauan burung migrasi di kawasan Muara Sungai, pelestarian mangrove di bibir pantai hingga wisata susur perahu dll.
“Lele asap ini sudah ada sejak zaman simbah-simbah dulu. Sekarang kami ingin mengembangkannya agar tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga menjadi daya tarik orang untuk mau datang berwisata ke sini,” kata Andika.
Dengan peluncuran Kampung Lele Asap Jati, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menargetkan lele asap tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional masyarakat Galur, tetapi juga berkembang menjadi oleh-oleh khas Kulon Progo yang memiliki nilai budaya, ekonomi, dan wisata.



