Mabur.co – Jika Anda merupakan penonton setia serial FTV, film, atau sinetron stripping yang berseliweran di layar kaca maupun media sosial, Anda pasti akan selalu menemukan satu-dua sosok yang terlihat ngondek atau kemayu seperti lekong alias “bencong” (laki-laki yang berperilaku seperti wanita) di dalamnya.
Ya, fenomena ini sudah marak terjadi sejak era 80-an silam, dimulai dari sosok Tessy Srimulat yang selalu berdandan layaknya perempuan di setiap sketsa panggung-nya.
Lalu di pertengahan tahun 2000-an muncul lagi sosok baru yakni mendiang Olga Syahputra, yang mulai mencuri perhatian di industri hiburan tanah air, berkat penampilannya yang dianggap kocak, menghibur, dan mampu membuat orang tertawa terpingkal-pingkal berkat aksi komedinya di atas panggung, seperti di program Dahsyat RCTI, Pesbukers ANTV, hingga YKS Trans TV, sebelum akhirnya dinyatakan sakit meningitis dan meninggal dunia pada September 2013 silam.
Selain nama Olga, ada sejumlah artis senior lain yang juga dikenal memiliki karakter kemayu atau bencong, sebut saja Aming, mendiang Tata Dado, mendiang Ade Juwita, mendiang Avi (bintang video klip Naif berjudul “Posessif”), desainer Ivan Gunawan, hingga yang benar-benar berubah menjadi sosok perempuan sungguhan, seperti Alm. Dorce Gamalama (nama asli Dedi Yuliardi Ashadi).
Meskipun sosok Olga (sebagai pionir artis bencong) telah tiada, namun karakter semacam ini tetaplah hidup, bahkan sampai sekarang.
Beberapa artis “bencong” pendatang baru yang mulai eksis sekarang ini diantaranya Lucinta Luna (nama asli Muhammad Fatah), Anwar, Mimi Peri (Ahmad Jaelani), Stand up Komedian Dicky Difie, hingga artis yang berasal dari Thailand, Jirayut (nama asli Afisan Jehdueramae).
Satu pertanyaan besar yang kemudian muncul, mengapa artis-artis berkarakter “bencong” semacam ini tetap saja laku di industri hiburan tanah air?
Termasuk yang benar-benar bertransformasi menjadi perempuan (transgender) sekalipun, seperti Dorce Gamalama ataupun Lucinta Luna.
Bahkan banyak dari mereka yang punya banyak fans, followers, hingga merambah ke bidang pekerjaan lain, misalnya dengan menjadi penyanyi yang merilis single dadakan dan seketika meledak (seperti alm. Olga yang pernah merilis lagu berjudul “Hancur Hatiku” yang hanya memiliki satu lirik di sepanjang lagu), hingga diberi kesempatan terjun ke dunia politik, dan lain sebagainya.
Dilansir dari Tribunnews, berikut adalah beberapa alasan mengapa artis berkarakter “bencong” tetap laku di industri hiburan tanah air dari generasi ke generasi.
Punya Unsur Komedi yang Kuat
Tingkah laku kemayu atau “bencong” seringkali melebih-lebihkan sesuatu (over-the-top), yang ditambah dengan celetukan secara spontan, membuat karakter mereka sangat lekat dengan unsur komedi yang mudah diterima oleh masyarakat.
Karakter Unik
Karakter kemayu atau “bencong” tentu saja dianggap unik dan mampu memberikan warna yang berbeda di setiap sketsa komedi yang dibawakan. Sehingga tentu saja akan lebih mudah diingat oleh penonton bila dibandingkan dengan karakter biasa.
Mampu Menghidupkan Suasana
Dengan karakter-nya yang ceria, artis “bencong” akan lebih mudah dalam mencairkan suasana, ketimbang artis-artis dengan karakter biasa.
Strategi Industri Media
Salah satu alasan mengapa karakter “bencong” tetap eksis tentunya juga berasal dari industri TV yang kerap menaungi mereka dalam berkarya. Industri televisi masih sering terjebak dalam formula lama yang dianggap “aman” dan disukai oleh penonton.
Akibatnya karakter-karakter tidak lazim seperti kemayu atau “bencong” masih tetap malang-melintang di industri hiburan di Indonesia. Apalagi kehadiran karakter semacam ini juga sudah terbukti konsisten mendatangkan rating yang terbilang tinggi.
Meskipun pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pernah memberikan teguran terkait larangan pria berkarakter kemayu atau “bencong” di stasiun televisi pada 2016 silam, nyatanya sampai saat ini artis-artis berkarakter semacam itu masih terus eksis, bahkan terus memunculkan talenta-talenta baru, khususnya di media sosial. Terbukti kehadiran mereka juga masih disukai oleh masyarakat, dan mampu meraih banyak followers dan tawaran bekerjasama dengan brand-brand ternama.
***
Memang sah-sah saja jika masih banyak orang yang entah karena terpaksa, atau memang sengaja mengondek-ngondekkan jiwa maskulin-nya menjadi sedikit feminin, atau bahkan full feminin hingga menjadi transgender, agar bisa diterima oleh masyarakat sebagai salah satu bagian dari hiburan.
Namun tentu saja hal semacam ini akan membawa stereotip buruk bagi laki-laki, karena dianggap telah melecehkan kaum perempuan dengan aksi-aksi yang dinilai tidak pantas, apalagi jika itu dipertontonkan menjadi suatu hiburan bagi khalayak luas.
Karena pada akhirnya, yang membuat karakter “bencong” itu tetap eksis sampai hari ini, justru sebenarnya berasal dari kita sendiri (penonton), yang masih saja menikmati guyonan “receh” yang mereka sajikan. (*)



