Radio Tabung, Antara Ditinggalkan dan Dicintai

3 Min Read
Cluttered collection of retro electronics and magazines: a beige CRT monitor, a red vintage telephone, a black appliance with a keypad, and Gun Digest magazines nearby. Also visible is a corded phone and a tray of colorful stickers in the foreground.
Ilustrasi. Radio tabung (hitam, kiri) beserta speaker-nya (kuning, atas) yang dijual di Pasar Kangen Jogja 2026. (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Masyarakat yang lahir di tahun 1980-an ke belakang pasti masih begitu familiar dengan radio tabung, yang menjadi sarana informasi terkini melalui suara (audio).

Radio biasanya menyajikan banyak hiburan menarik dalam bentuk audio, baik drama, berita, Iklan Layanan Masyarakat, anjuran atau imbauan pemerintah (pusat/daerah), pertunjukan musik/playlist, talkshow interaktif, kuis berhadiah, dan masih banyak lagi.

Namun dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, radio tabung sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Mereka lebih memilih untuk mencari informasi melalui saluran televisi, yang mampu menyediakan suara sekaligus gambar (audio visual) dengan sajian yang lebih menarik, atau melalui jaringan internet, yang dapat menjangkau konten dari seluruh penjuru dunia.

Sebaliknya, selain hanya mampu menyediakan hiburan dan informasi dalam bentuk audio, radio tabung juga mempunyai durasi siaran yang terbatas, dan tidak bisa selalu mengudara selama 24 jam/7 hari nonstop.

Masih Tetap Dicari

Kendati demikian, radio tabung sejatinya tidak pernah benar-benar mati, bahkan masih terus dikoleksi dan dirawat hingga saat ini.

Masyarakat era 80-an ke belakang masih terus menjaga vintage yang satu ini, agar nilainya tetap tinggi, dan mampu menjadi koleksi berharga bagi para kolektor barang-barang antik di luar sana.

Sehingga fungsi radio tabung pun mulai bergeser, dari yang awalnya sebagai sarana memperoleh hiburan informasi, kini menjadi buruan para kolektor, untuk menjadi pajangan abadi di rumah, layaknya foto pernikahan keluarga.

Row of colorful audio cassette tapes on a shelf with a pink handwritten label across them.
Kumpulan tape recorder lawas yang menjadi sarana konten di radio tabung (Foto: Azka Qintory)

Meskipun radio tabung tersebut terkadang tidak benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya, namun bagi para kolektor, mengoleksi barang ini seperti sudah merupakan kepuasan tersendiri.

Pemandangan itulah yang terjadi di perhelatan Pasar Kangen Jogja 2026 yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) beberapa waktu lalu, di mana masyarakat tumpah ruah dan berkeliling di banyak stan.

Salah satunya stan radio tabung dan tape recorder, untuk dapat membangkitkan lagi kenangan-kenangan di masa lalu, yang seringkali masih dianggap lebih baik ketimbang masa kini, sekalipun semuanya sudah serba canggih.

Bagi para kolektor vintage, memiliki radio tabung bukan hanya sekadar koleksi dan pajangan di rumah, melainkan juga bentuk pelestarian sejarah teknologi, dan simbol prestise yang memberikan nuansa klasik (retro) di tengah arus modernitas yang tidak bisa dibendung.

Keberadaan radio tabung juga bisa menjadi simbol, bahwa sang kolektor pernah mengalami masa itu (kejayaan radio tabung), dan ingin menjadikannya sebagai bagian dari sejarah perjalanan hidupnya, tanpa harus benar-benar meninggalkan seutuhnya.

Karena mengoleksi radio tabung bukan berarti sang kolektor masih terjebak di masa lalu atau belum move on, tapi lebih kepada apresiasi terhadap nilai estetika, mahakarya teknik, dan jejak sejarah peradaban.

Sesuatu yang mungkin tidak mudah dipahami oleh anak-anak Gen Z zaman sekarang, yang sudah terpapar kecanggihan teknologi sejak lahir. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar