Ponsel Jadul dan Kenangan yang Ikonik

3 Min Read
Kumpulan ponsel jadul yang dijual di Pasar Kangen Jogja 2026. (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Jauh sebelum era disrupsi internet dan AI (Artificial Intelligence) seperti sekarang, manusia masih menikmati masa-masa awal kehadiran ponsel yang begitu sederhana, setidaknya pada akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Di masa itu, ponsel hanya mampu melakukan komunikasi sederhana, yakni telpon dan SMS (melalui pulsa), yang ditambah dengan fitur-fitur ringan lain seperti kalkulator, notes, serta game kecil-kecilan.

Uniknya, orang-orang di zaman itu sudah merasa puas dengan tampilan ponsel semacam itu. Tak pernah terpikirkan sama sekali bahwa ponsel di masa depan akan membutuhkan koneksi internet untuk bisa berfungsi, atau munculnya layar yang bisa disentuh sedemikian rupa, dan seterusnya.

Namun seiring perkembangannya, ponsel masa kini sepertinya sudah semakin kebablasan, dan banyak menciptakan hal-hal yang tidak baik bagi peradaban manusia secara umum. Salah satunya adalah membuat manusia menjadi sangat individualis, dan tidak lagi mementingkan keberadaan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Akhirnya, banyak orang (terutama generasi 1980-an ke belakang) mulai kembali merindukan ponsel-ponsel jadul era 1990-an hingga 2000-an awal, yang masih dianggap sebagai “ponsel yang seharusnya”, karena hanya berfungsi sebagai alat komunikasi singkat, tanpa banyak dilengkapi tools-tools canggih yang membuat orang ketagihan, serta lupa dengan dunia di sekitarnya.

Koleksi Berharga

Meskipun ponsel-ponsel jadul seperti Nokia, Sony Ericsson, Siemens, hingga Blackberry sudah tidak lagi beredar di pasaran, namun kehadirannya di tempat-tempat tertentu (seperti Pasar Kangen) bisa langsung membangkitkan memori-memori klasik tentang indahnya kenangan dari ponsel tersebut, saat menemani perjalanan hidup seseorang yang pernah hidup di masa itu.

Itulah mengapa, barang-barang retro semacam ini masih cukup sering diburu oleh para kolektor, karena memiliki nilai historis yang cukup tinggi, dan mampu menjadi pengingat akan perjuangan di masa lalu, ketika semuanya masih terasa natural, tanpa adanya distraksi dari media sosial dan semacamnya.

Ketika perkembangan ponsel sudah terlampau canggih seperti sekarang, terkadang kembali ke masa lalu bisa dianggap sebagai pelarian (escape) yang baik untuk bisa me-refresh ingatan manis di masa lalu, serta melepaskan diri dari ingar bingar dunia teknologi (seperti media sosial) yang begitu melelahkan, dan serasa tidak ada habisnya.

Mengoleksi ponsel jadul seperti Nokia, Sony Ericsson dan semacamnya bukan berarti terjebak di masa lalu atau belum bisa move on, melainkan bentuk apresiasi khusus terhadap estetika desain yang ikonik, kebutuhan untuk melakukan digital detox dari distraksi media sosial dan sejenisnya, sekaligus melestarikan nilai sejarah (vintage) perkembangan teknologi yang pernah hits di masa lalu.

Karena tidak semua hal yang bersifat canggih dan kekinian itu baik bagi manusia. Terkadang, kembali ke masa lalu juga efektif untuk menggali kenangan-kenangan positif yang pernah dialami sebelumnya, guna membangkitkan semangat hidup di masa kini. (Berbagai sumber)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar