Sejarah Mubeng Beteng, Ritual Sambut Tahun Baru Kalender Jawa

3 Min Read
Tradisi Mubeng Beteng (Foto: jogjaprov.go.id)

Mabur.co – Menyambut malam pergantian tahun bisa dilakukan dengan banyak cara, baik dalam konteks positif maupun negatif.

Dalam pergantian tahun Masehi (1 Januari), biasanya orang-orang akan menyambut atau merayakannya dengan ragam keseruan.

Baik bersama komunitas, keluarga, atau pribadi. Aneka perayaan itu bisa berupa menyalakan kembang api di pinggir jalan, pesta terompet, dan lainnya.

Namun dalam perayaan tahun baru kalender Jawa maupun Islam (1 Suro/Muharam), perayaan semacam itu umumnya tidak pernah terjadi, mengingat malam pergantian tahun kalender Hijriyah maupun Jawa hanya dirayakan oleh kalangan tertentu saja.

Adapun salah satu perayaan malam pergantian tahun yang lazim dilakukan adalah dengan melakukan tradisi atau ritual khusus yang disebut dengan budaya “Muben Beteng”.

Sejarah “Mubeng Beteng”

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Senin (15/6/2026), Mubeng Beteng adalah frasa bahasa Jawa, yang artinya “mengelilingi benteng”.

Istilah ini merujuk pada sebuah tradisi spiritual dan budaya masyarakat Yogyakarta, yang dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan benteng Keraton Yogyakarta.

Tradisi Mubeng Beteng ini dahulu merupakan upacara resmi atau kenegaraan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dalam pelaksanaannya, upacara ini dilakukan oleh para Abdi Dalem berdasarkan perintah Sri Sultan Hamengku Buwono atau raja Yogyakarta.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi yang satu ini kemudian juga ikut berkembang dengan keterlibatan langsung oleh masyarakat (tidak hanya Abdi Dalem). Sehingga masyarakat pun berhak untuk ambil bagian dalam tradisi ini, dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku.

Pelaksanaan tradisi untuk “mengelilingi benteng” ini terinspirasi dari perjalanan suci hijrah dari Mekkah-Madinah oleh rombongan Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Di situlah kemudian tradisi itu lahir, dan diakulturasikan dengan kebudayaan khas Jawa, untuk menjadi salah satu ritual yang rutin dilaksanakan menyambut malam 1 Suro.

Adapun pelaksanaan tradisi Mubeng Beteng umumnya dimulai dengan para Abdi Dalem yang melantunkan tembang macapat di Keben Keraton Ngayogyakarta.

Dalam lantunan lirik tembang macapat tersebut, diselipkan juga berbagai doa serta harapan kepada masyarakat, untuk satu tahun yang penuh berkah dan jauh dari segala marabahaya.

Seluruh prosesi tersebut dilakukan tanpa menggunakan alas kaki sama sekali, yang disebut dengan tapa bisu, tanpa berbicara, makan, minum, hingga merokok.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk renungan, keprihatinan, serta introspeksi diri dalam satu tahun terakhir, sehingga refleksi tersebut harus dilakukan dalam keadaan sunyi dan khidmat.

Untuk tahun 2026 ini sendiri, proses ritual Mubeng Beteng akan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) malam, di sekitar kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Rangkaian acara akan dimulai pukul 19.00 WIB, hingga memasuki malam pergantian tahun, atau 00.00 WIB keesokan harinya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment