Mabur.co – Hari ini, 36 tahun silam, tepatnya pada 7 Maret 1989, Sri Sultan Hamengku Buwono X resmi dinobatkan sebagai Raja Kasultanan Mataram Yogyakarta.
Selain dikenal sebagai pemimpin yang bersahaja, Sri Sultan HB X juga dikenal sebagai seorang raja yang sangat setia kepada pasangannya.
Sri Sultan HB X bahkan merupakan Raja Mataram Islam pertama sekaligus satu-satunya yang menerapkan prinsip monogami atau hanya berisi satu.
Hal ini tentu sangat berbeda dengan kebiasaan para pendahulunya, Raja Kasultanan Yogyakarta lainnya, yang selalu memiliki banyak permaisuri serta selir.
Sultan Hamengku Buwono III (1812–1814) misalnya tercacat memiliki 3 istri resmi serta lebih dari 20 selir.
Bukan tanpa alasan seorang raja memiliki banyak istri maupun selir.
Salah satunya adalah untuk mendapatkan keturunan anak laki-laki yang kelak akan mewarisi takhtanya.
Namun tak seperti para pendahulunya, Sri Sultan HB X memilih jalan yang berbeda.
Menikah dengan GKR Hemas di awal tahun 1970-an, Sri Sultan HB X dikaruniai 5 orang anak yang seluruhnya adalah perempuan.
Meski tidak memiliki anak laki-laki sebagai pewaris takhta, nyatanya Sri Sultan HB X tetap tak mau berpoligami dan menduakan rasa cintanya terhadap permaisurinya.
Alasan tak ingin melakukan poligami pernah diungkapkan Sultan HB X dalam sebuah acara Komisi II DPR RI Gedung DPR RI, Jl Gatot Subroto, Jakarta, sekitar tahun 2009 lalu.
Saat itu salah seorang anggota DPR RI, Tengku Mahmud Yus dari Fraksi PPP, melontarkan pernyataan atau saran bahwa sultan semestinya layak untuk berpoligami.
“Seharusnya sultan memiliki istri lebih dari satu, karena hingga saat ini sultan belum punya anak laki-laki yang menggantikan. Kesultanan harus dipimpin laki-laki bukan perempuan,” celetuk Tengku Mahmud di tengah forum sebagaimana dikutip Detik.com.
Namun saat itu sultan membalas masukan terkait masalah poligami itu dengan santai.
Sambil tersenyum ia pun membeberkan alasannya untuk memilih tidak berpoligami.
“Sebagai laki-laki keinginan itu pasti ada, tapi saya khawatir tidak mampu memberi kenyamanan dan keadilan kalau punya istri lebih dari satu,” ungkap sultan.
“Kalau fisik mungkin bisa, tapi kalau hati saya tidak bisa. Makanya saya tidak mau,” tambahnya.
Sikap Sultan HB X yang secara konsisten menolak poligami ini membuktikan begitu besarnya rasa cinta sultan terhadap sosok sang permaisuri GKR Hemas.
Begitu besarnya rasa cinta Sultan HB X tersebut, bahkan sampai membuatnya rela mengubah paugeran atau tata aturan Keraton Mataram Islam yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Melalui Sabda Raja pada 30 April 2015 serta Dhawuh Raja pada 5 Mei 2015, sultan secara resmi mengganti gelar sultan demi bisa mengangkat putri sulungnya sebagai putri mahkota atau pewaris takhtanya.
Meski memicu penolakan besar di lingkungan internal keraton karena dinilai melanggar tradisi, nyatanya Sultan HB X tetap kukuh pada sikap dan keputusannya.
Sultan tetap memilih setia dengan tidak berpoligami, meski hal itu sangat mungkin akan menimbulkan gejolak besar dalam proses suksesi atau pergantian raja di masa mendatang nantinya. ***



