Mabur.co – Eksistensi Tosan Aji atau senjata tradisional di Indonesia mulai banyak dilupakan oleh masyarakat. Padahal, sebagai salah satu warisan leluhur yang memiliki begitu banyak nilai filosofi di dalamnya, keberadaan Tosan Aji masih layak diperhitungkan sebagai warisan budaya yang patut untuk dipelajari, termasuk oleh generasi muda.
Tosan Aji juga tak melulu tentang warisan budaya masa lalu, tapi tetap mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tentu saja dengan sedikit penyesuaian dalam beberapa aspek.
Hadirnya Rapat Kerja Agung Senapati Nusantara sekaligus Pagelaran & Bursa Tosan Aji yang diselenggarakan di Pendapa Krida Manunggal, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, pada Sabtu dan Minggu, 17-18 Januari 2026, menjadi bukti usaha untuk terus melestarikan Tosan Aji di tengah kemajuan zaman yang semakin pesat.
Hal itu juga diamini oleh salah satu peserta Pagelaran & Bursa Tosan Aji, yakni Paguyuban Saton Aji, yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menurut Ketua Paguyuban Saton Aji, I Dewa Nyoman Angkasa, Tosan Aji masih layak untuk dilestarikan oleh generasi muda, karena sarat nilai-nilai filosofis yang dapat menjadi pedoman kehidupan, termasuk hingga saat ini.
“Keris itu bisa dibilang sebagai salah satu puncak pencapaian bangsa. Apalagi keris juga memiliki nilai, lambang, maupun simbol, yang tentu saja menarik untuk diketahui oleh siapa saja, termasuk generasi muda,” ucap Ketua Paguyuban Saton Aji, I Dewa Nyoman Angkasa, ketika ditemui mabur.co di Pendapa Krida Manunggal, Sabtu (17/1/2026).
Selain itu, menurut Nyoman, Tosan Aji tetap lebih unggul ketimbang persenjataan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) milik negara, karena meskipun secara teknologi jelas lebih maju, namun Alutsista hanyalah persenjataan biasa, sedangkan keris memiliki nilai filosofis tinggi yang sudah pasti tidak dimiliki oleh Alutsista.
“Keris sebagai sebuah senjata memiliki posisi yang lebih tinggi dari itu (Alutsista), karena nilai luhur yang terkandung di dalamnya sangat menonjol sekali. Bahkan UNESCO juga menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2005 lalu, padahal benda fisiknya juga ada,” tambah Nyoman.
Lebih lanjut, Nyoman menekankan agar pelestarian keris atau Tosan Aji pada umumnya bisa lebih dimaksimalkan oleh generasi pendahulunya, atau bapak-bapak yang masih menggemari keris hingga saat ini.
“Kita justru harus bertanya kepada bangsa ini, apakah budaya seluhur keris ini benar-benar perlu dijaga dan dilestarikan atau tidak. Karena pada akhirnya, generasi muda ini hanya tinggal mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh kita-kita sebagai pendahulunya, maka kitalah yang seharusnya mampu menjaga benda ini dengan sebaik mungkin, agar nantinya bisa ditiru oleh para penerus kita,” ujar Nyoman.
Bagi Nyoman, penerapan keris di zaman sekarang bukan lagi tentang berperang menghadapi musuh. Tapi soal bagaimana menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap detail bentuk keris tersebut, agar dapat membentuk karakter manusianya. Sekaligus akan membentuk karakter bangsa secara keseluruhan. (*)



