Saudaraku, meski kolonialisme telah lama berlalu, bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk belajar merdeka.
Warisan terberat penjajahan bukan kerusakan fisik atau ekonomi, melainkan perbudakan mental struktural.
Karena itu, kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai melalui penguatan kapabilitas budaya, politik, dan ekonomi yang merdeka.
Budaya merdeka berkepribadian dibangun lewat pendidikan budi pekerti yang mengolah pikir, rasa, karsa, dan raga, sehingga melahirkan manusia merdeka dan berkarakter.
Manusia merdeka adalah pribadi yang mampu menguasai diri, percaya diri, mandiri, dan beradab.
Kemandirian ini tidak bermuara pada individualisme egoistik, melainkan pada etika pengabdian demi keselarasan kehidupan bersama.
Pendidikan karenanya harus menjadi wahana belajar berjiwa merdeka. Tanpa jiwa merdeka, kemerdekaan politik hanya menjadi formalitas, dan demokrasi berisiko menjadi ajang manipulasi-eksploitasi massal oleh kekuatan dominan.
Politik merdeka berkedaulatan ditempuh dengan pemberdayaan partisipasi dan tanggung jawab rakyat berdasarkan kesetaraan kebebasan dan kesempatan dalam semangat kekeluargaan.
Dalam pandangan Bung Karno, politik adalah perjuangan “semua buat semua” melalui deliberasi yang bijaksana, sekaligus harus menjaga keseimbangan antara demokrasi politik dan demokrasi ekonomi agar tidak jatuh ke dalam mayorokrasi identitas maupun minorokrasi oligarkis.
Ekonomi merdeka berkemandirian diwujudkan melalui semangat berdikari dan tolong-menolong.
Bung Hatta menekankan koperasi bukan sekadar bentuk usaha, melainkan jiwa perekonomian nasional yang mendidik kepercayaan diri, tanggung jawab bersama, toleransi, dan kerja sama tanpa penindasan. Koperasi menjadi wahana pendidikan, politik, dan ekonomi merdeka sekaligus.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan sekadar klaim, melainkan praktik hidup. Seperti diingatkan William Faulkner, kemerdekaan sejati hanya ada bila dipraktikkan.
Proklamasi tanpa belajar merdeka ibarat tubuh tanpa jiwa. Karena itu, semangat belajar merdeka harus terus dikobarkan. ***



