Mabur.co – Mengangkat kembali warisan sastra klasik bernilai tinggi tentang kemanusiaan dan perdamaian, acara Diseminasi Hasil Riset bertajuk “SWARA SEADANYA, RESONANSI JIWA, TRADISI, DAN IMAJINASI” telah sukses digelar pada Senin 26 Oktober 2026 di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok.
Acara ini merupakan pertunjukan alih wahana mahakarya Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dengan lakon utama “SUTASOMA VS PURUSADA: Pertarungan Sengit Antara Cahaya dan Kegelapan”.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Selasa (27/10/2026), dijelaskan, melalui perpaduan riset akademis, sastra, musik, tari, dan seni pertunjukan, perhelatan ini bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Kakawin Sutasoma, seperti keberagaman, kemanusiaan, toleransi, dan harmoni kehidupan, dalam konteks masa kini.
Kegiatan ini terselenggara atas dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, LPDP, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, serta kelompok seni lintas disiplin Swara SeadaNya.
Perjalanan Riset Swara SeadaNya: dari Naskah Kuno hingga Resonansi Jiwa
Pertunjukan alih wahana ini bukan sekadar pementasan seni, melainkan muara dari rangkaian penelitian panjang yang berakar kuat pada kajian filologi dan seni kebudayaan.
Oktober 2025 – Awal Penggalian Nilai Sutasoma:
Tim peneliti Swara SeadaNya memulai riset mendalam mengenai Kakawin Sutasoma dari sumber naskah lontar di Perpustakaan Universitas Indonesia.
Penggalian difokuskan pada rekonstruksi makna filosofis teks, dinamika simbolik antara filosofi Sutasoma (kebajikan dan cahaya) dan Purusada (kegelapan dan nafsu), serta pencarian bentuk ekspresi alih wahana yang tepat untuk penonton modern.
Juni 2026 – Penelitian ke Magelang dan Yogyakarta:
Tim yang diketuai oleh Dr. Turita Indah Setyani, beranggotakan: Gunawan Wicaksono, Ayi Sri Suminar, Indonesiana Ayuningtyas, Wulan Fitria Ramadani, Theressa Rida Febriana, Asep Rachman Muchlas, Abrar Husin, Bergas Satrio Wicaksono, dan Sano Rizal ini mengikuti acara “Sarasehan Borobudur: Membangkitkan Spirit Sutasoma dalam Kancah Indonesia Masa Kini” yang berbentuk Bincang Budaya bersama pencetus Wayang Jataka yang menggunakan lakon Sutasoma sebagai bahan ceritanya, Bambang Eka Prasetya atau dikenal sebagai Bambang BEP dari Magelang, Jawa Tengah.
Sarasehan tersebut atas dukungan dari budayawan Dr. Ngatawi Al Zastrouw dan Abbet Nugroho.
Guna memperkaya komparasi naskah dan kedalaman konteks sejarah, tim peneliti juga melakukan studi lapangan langsung ke Perpustakaan Pura Pakualaman, Yogyakarta, atas restu Gusti Putri Paku Alam X dan sekaligus menerima serta memberi semangat tim peneliti.
Penelitian di Perpustakaan Pura Pakualaman ini dibimbing langsung oleh filolog terkemuka Dr. Sri Ratna Sakti Mulya dan juga mendapat masukan dari seniman sekaligus akademisi UGM, Paksi Raras Alit.
Penelusuran arsip dan teks-teks tradisi di Pura Pakualaman ini memberikan landasan autentik bagi penyusunan tata panggung, dramaturgi, penulisan narasi dalang, hingga komposisi musik pertunjukan.
Swara SeadaNya juga belajar merancang “Batik Sutasoma” dengan corak yang diambil dari salah satu kutipan naskah di galeri batik milik Mbak Ninuk di Kulon Progo, Yogyakarta.
Swara SeadaNya juga mendapat bimbingan dan supervisi langsung dari Maestro Tari Indonesia, Didik Nini Thowok, untuk memperkaya dan mendalami nilai wirasa dalam gerak tari.
Selama melakukan penelitian di Yogyakarta, Swara SeadaNya juga mendapatkan dukungan dari Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) Republik Indonesia Marsekal Muda TNI Donald Kasenda, S.T., S.I.P., M.M., bersama istri, Ny. Meidy Donald Kasenda.
Marsekal Muda TNI Donald Kasenda, S.T., S.I.P., M.M selama ini dikenal sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang memiliki perhatian besar terhadap seni dan kebudayaan Indonesia, khususnya alat musik tradisional kolintang.
Perpaduan Talkshow Akademis dan Kolaborasi Pertunjukan Multidisiplin
Selain pementasan alih wahana, acara ini menghadirkan sesi talkshow interaktif yang membedah proses kreatif serta hasil temuan riset Kakawin Sutasoma bersama para pakar: Dr. Turita Indah Setyani (Ketua Tim Peneliti), Dr. Ngatawi Al Zastrouw (Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia), dan Dr. Ari Prasetyo, S.S., M.Hum (Moderator).
Pertunjukan seni ini didukung oleh para seniman dan musisi berbakat:
Para Pemeran: Ganeshauman Taqwa Lumakso (Sutasoma), Gunawan Wicaksono (Purusada), Indonesiana Ayuningtyas (Bidadari), dan Ki Faqih Trisera Fil Ardhi (Dalang).
Tim Musik: Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, Bay Guitaro, Abrar Husin, Ari Prasetyo, Ayi Suminar, Farhan Maulana, Dandi Prasetyo, Rahmad Fitriyanto, Nugroho Cahyo Saputro, Damar Abdul Subhi, M. Zaidan Abid, Rendy Yogi Saputro, dan Juliana Putri Pratama.
“Kakawin Sutasoma bukan sekadar warisan sastra klasik yang menyimpan jejak kejayaan intelektual leluhur Nusantara, melainkan sumber pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan, kebijaksanaan, dan kesadaran hidup yang tetap relevan hingga saat ini.
Naskah klasik ini bukan sekadar bernilai historis dan estetis, tetapi juga mengandung pemikiran etis dan spiritual yang dapat ditafsirkan kembali untuk menjawab persoalan masyarakat kontemporer, sehingga Kakawin Sutasoma dapat dipandang sebagai sumber pengetahuan peradaban.
Melalui kisah Sutasoma dan Purusada, kita diajak menyadari bahwa pertarungan antara cahaya dan kegelapan sesungguhnya tidak hanya berlangsung di luar diri manusia, tetapi juga di dalam batin setiap individu. Kemenangan sejati bukan semata-mata menundukkan lawan, melainkan mengatasi kebencian, keserakahan, dan ketidaksadaran melalui kebijaksanaan, welas asih, serta keberanian untuk menegakkan kebenaran.
Oleh karena itu, penelitian Kakawin Sutasoma menjadi seni pertunjukan, mewujudkan alih wahana sebagai jembatan antargenerasi. Penelitian filologis dipertemukan dengan musik, tari, sastra, dan seni pertunjukan agar kebijaksanaan yang tersimpan dalam teks dapat dialami, direnungkan, dan diaktualisasikan oleh masyarakat masa kini”, ungkap Ketua Tim Peneliti Kakawin Sutasoma Dr. Turita Indah Setyani.
“Pagelaran ini bisa menjadi model untuk diseminasi hasil penelitian. Melalui cara ini hasil penelitian akademik dapat disampaikan secara menyenangkan sehingga mudah diterima dan dipahami. Sutasoma adalah kanon tradisi yang sarat nilai dan ajaran mulia yang perlu digali dan diaktualisasikan untuk menjawab berbagai problem kekinian. Pagelaran ini merupakan cara kreatif dan inovatif mengaktualisasikan Sutasoma,” ujar Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia, Dr. Ngatawi Al Zastrouw.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam acara ini, seperti budayawan ibu Sri Teddy Rusdy, Presiden Direktur PT. J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor, Wakil Dekan 2 FIB UI Lily Tjahjandari, dan Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan.
