Tapak Majapahit-Raden Wunging di Mandar Sulawesi Barat

4 Min Read
Pile of broken clay pots scattered on a sooty ground outdoors.
Kerajinan gerabah di Mandar. (Foto: Tomadio Institute)

Entah mantra apa yang dibaca Raden Wunging (Wungen) salah satu prajurit kepercayaan Maha Patih Gajah Mada ketika meninggalkan Majapahit. Atau apa yang sedang bergolak di Majapahit di sekitar abad 15-16 Masehi sehingga Raden Wunging (Wungen) meninggalkan kerajaan pemersatu Nusantara itu.

Ia berlayar dengan sejumlah pasukan, melintasi Laut Jawa ke Selat Makassar dan akhirnya berlabuh di Pantai Barane’ Mandar, Sulawesi Barat (saat ini).  

Vintage illustration of two muscular men in armor standing on a shoreline with sailing ships in the background.
Ilustrasi. Pelayaran pasukan Maha Patih Gajah Mada. Foto: Galeri Mandar

Dalam tradisi lisan dan penelusuran sejarah lokal Mandar, terutama dari buku Mengenal Mandar Sekilas Lintas karya Andi Saiful Sinrang seorang sejarawan-budayawan Mandar, diterangkan, bahwa kedatangan Raden Wungen di Mandar sempat menggegerkan pa’banua (orang kampung).

Sebab ia menggunakan kapal, cara berpakaian dan bahasa yang berbeda dari masyarakat lokal. Ia kemudian disambut Tomakaka (Raja) Masawa Tande, lalu Raden Wungin menyampaikan ia datang dari negeri seberang Matahari Timur Laut.

Dari peristiwa ini ia kemudian diberi gelar oleh masyarakat lokal dengan nama Topole Pole yang berarti pendatang atau pengelana dari seberang lautan. Setelah mendarat dan berlabuh di kawtasan pesisir Barane, ia dan pasukannya kemudian memilih untuk menetap, bermukim, serta membangun komunitas di wilayah Pesisir Karama-Tinambung dan menamai daerah itu Majapahit. Lalu di lidah orang Mandar kata Majapahit bermetamorfosis menjadi Manjopaiq atau kini dikenal dengan Kampung Manjopai.

Saat ini kampung Manjopai yang terletak di pesisir Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menyimpan catatan historis yang erat kaitannya dengan ekspansi dan jaringan pelayaran Kerajaan Majapahit ke wilayah Nusantara bagian timur.

Toponimi “Manjopai” dari kata Majapahit tidak hanya meninggalkan sejumlah kisah pelayaran Raden Wunging, tapi juga meninggalkan sejumlah jejak tapak yang masih bisa ditemui di Mandar hari ini.

Kisah lain menuturkan bahwa orang Mandar menyebut pasir pantai dengan nama “Bunging” juga diduga berkaitan erat dengan nama Raden Wunging, yang datang dari laut, bertemu dengan Mara’dia Masawa di pantai berpasir dan tinggal di pesisir Pantai Mandar.

Jejak lain sejumlah kerajinan memahat batu seperti pembuatan lesung maupun ulekan dari batu serta berbagai keterampilan memahat batu lainnya masih jadi warisan para prajurit Majapahit di Manjopai ketika itu.

Collection of gray stone mortars and pestles of various sizes arranged on a pink cloth at a market stall.
Kerajinan lesung batu di Mandar. Foto: Tomadio Institute

Selain itu ada juga kerajinan pembuatan gerabah dan di sejumlah tempat di Mandar, termasuk di Salabose-Banggai, diduga masih bagian dari pengaruh Majapahit.   

Raden Wunging juga sempat membangun kerjasama dengan beberapa kerajaan di Mandar, termasuk kawin mawin pasukannya dengan masyarakat lokal.

Bahkan Raden Wunging sendiri menikah dengan Anak Mara’dia (Raja) Banggae (Poralle) lalu melahirkan keturunan dan terus beranak pinak serta kawin mawin di antara sesama para pembesar kerajaan di Mandar. Sebelum akhirnya Raden Wunging bertolak menuju Teluk Tomini, Luwuk Banggai di masa kini yang penamaannya diduga diambil dari nama Kerajaan Banggae di Mandar, Sulawesi Barat.  

Walaupun hubungan antara Majapahit dan Mandar melalui figur Raden Wunging ini oleh banyak pihak diduga bukan sebagai penaklukan militer yang destruktif, justru sebaliknya, kemungkinan Raden Wunging sedang melakukan suaka politik, atau hanya sebatas jalur diplomasi kultural, perdagangan, dan pertukaran peradaban.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah artefak peninggalan bernuansa Jawa Kuno di sekitar kawasan Manjopai, seperti artefak keris kecil atau keris Buddha yang diidentifikasi berasal dari era kejayaan Majapahit tengah, serta tradisi penempaan besi kuno yang coraknya mirip dengan teknik pertukangan besi khas Jawa masa lampau.

Kehadiran Raden Wunging di Manjopai menjadi tonggak penting yang menandai eratnya jalur maritim Nusantara di masa lalu, di mana interaksi antara peradaban Jawa kuno dan masyarakat adat Mandar terjalin secara harmonis dan meninggalkan jejak budaya yang masih dapat ditelusuri hingga kini. ***

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar