Mabur.co – Jauh sebelum informasi hadir dalam satu sentuhan layar, pengetahuan diwariskan melalui lembar demi lembar naskah. Di dalamnya tersimpan cara orang belajar, beragama, berhitung, berkarya, hingga memahami kehidupan pada zamannya.
Filolog dari Sraddha Institute Surakarta, Rendra Agustan mengatakan, di balik lembaran-lembaran tua yang usang, tersimpan warisan leluhur yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.
Pusaka Sakral
Sayangnya, banyak naskah kuno di Indonesia lebih diperlakukan sebagai pusaka sakral ketimbang sebagai pustaka yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan secara luas.
“Kesadaran akan pentingnya pelestarian naskah kuno kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan masyarakat,” katanya, saat usai mengisi bincang literasi Magisme Aksara Nusantara di Halaman Grhatama Pustaka, DPAD DIY, Kamis (3/9/2026) malam.

Menurut Rendra, naskah kuno bukan hanya babad atau cerita sejarah. Arsip pertanahan desa pun termasuk, selama berusia lebih dari 50 tahun, ditulis tangan, dan memiliki nilai penting.
“Saya menekankan bahwa dalam proses penelusuran, peneliti harus menghormati kearifan lokal. Beberapa masyarakat menganggap naskah kuno sebagai benda sakral, bahkan sebagai jimat,” katanya.
Naskah Kuno Inspirasi Industri Kreatif
Rendra pun menyoroti potensi besar dari pemanfaatan naskah kuno, yang tak hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah, tetapi bisa menjadi inspirasi dalam industri kreatif, alat mitigasi bencana, hingga pengembangan wisata edukatif berbasis living philology.
“Saya mencontohkan kisah masyarakat Tengger yang sempat kehilangan rapalan mantra adat karena naskahnya berada di Inggris selama 250 tahun. Naskah itu akhirnya bisa kembali berkat penelusuran dan penerjemahan,” ujarnya.
Rendra menuturkan, merawat naskah seperti merawat manusia. Pencegahan lebih baik daripada perbaikan, karena naskah yang rusak sulit dipulihkan.
“Saat ini banyak naskah kuno belum teridentifikasi dan hanya tersimpan secara individu,” ucapnya.
