Jika Anda melintas di jalan trans Sulawesi Barat, Anda akan kaget. Di tengah dominasi rumah panggung Mandar dan Bugis, tiba-tiba ada gapura dengan tulisan Desa Sumberjo, Sidorejo, Campurjo, Sidodadi, Kediri dan beberapa nama desa serta kelurahan lain dengan toponimi Jawa. Di pasar, orang menawar pakai logat Jawa medok, tetapi “sambalnya” Mandar-Sulawesi Barat.

Itulah Wonomulyo, Kappung Jawa, begitu orang Mandar menyebutnya. Wono bukan sekadar nama salah satu kecamatan di Polewali Mandar, tetapi ia adalah eksperimen kolonial paling berhasil di luar Jawa.
Koloni Jawa
Dibuka sebagai Colonie Mapilli oleh pemerintah Hindia Belanda. Rombongan pertama koloni Jawa: 1.569 keluarga atau 5.490 jiwa, tiba berduyun-duyun pada 1 September 1937 di dermaga Polewali-Mandar.
“Dengan senang sekali setiap orang menanti kedatangan orang-orang Jawa. Sesudah diregistrasi, disuntik, dan diangkut per bis, diberi secangkir teh panas dan nasi pada tengah hari,” tulis sejarawan Mandar, Dr. Abdul Rahman Hamid dalam power point saat menjadi pembicara di FGD Eksistensi Diaspora Kolonisasi Mapilli di Wonomulyo yang ia kutip dari arsip Asisten Residen Mandar W.J. Leyds.
Pembukaan Hutan Perawan
Hutan perawan yang dibuka itu kemudian diganti namanya menjadi Wonomulyo dalam sebuah syukuran fancy fair oleh pemimpin kolonisasi R. Soeparman. Wono berarti hutan, Mulyo berarti bahagia.
Hutan yang diolah dengan baik akan memberi kebahagiaan hidup. Dari 3.500 hektare awal, kini ia menjadi episentrum ekonomi Sulbar. Pasar Wonomulyo lebih ramai dari ibu kota kabupatennya sendiri.
Membaca dan menulis tentang Wonomulyo tak bisa hanya sekali dua kali, tetapi harus bersambung beberapa bagian hingga tuntas dan kita dapat mengenal bagaimana historitas migrasi orang-orang Jawa di jantung Mandar Sulbar ini berlangsung hingga kini.
Apa yang saya tuliskan di sini baru pintu masuk ke dalam eksistensi dan historisitas Wonomulyo. Nanti kita akan masuk lebih dalam bagaimana “luka” pembukaan hutan, sementara mereka hanya diberi cangkul dan kapak serta bertahan dari malaria.
Bagaimana pula dengan dialektika kebahasaannya: kenapa anak cucu generasi keempat masih fasih Jawa krama, dan sudah menikmati makan jepa serta bannang-bannang makanan khas lokal Mandar?
Bagaimana pula terjadinya akulturasi bahkan asimilasi budaya yang lahir dari pewarisan masing-masing genetik Mandar dan Jawa?
Belum lagi soal pertarungan identitas dan politik mutakhir, saat Wonomulyo menuntut menjadi kota otonom baru? Dan terakhir, tentang apa yang hilang: ketika pasar modern dan sawit datang, memasuki wilayah Kabupaten Polewali Mandar. (Bersambung)
.
