Mabur.co – Pesta Adat Erau Kutai 2026 resmi dimulai di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Pembukaan festival ini ditandai dengan prosesi Mendirikan Tiang Ayu atau Pinang Ayu di Kompleks Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman, Minggu (20/9/2026).
Dipimpin pemangku adat Kesultanan Kutai Kartanegara, dalam prosesi sakral tersebut Tiang Ayu yang dihiasi berbagai ornamen didirikan sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan sekaligus tanda dimulainya Erau.
Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, mengatakan Erau memiliki posisi penting dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya.
“Festival Adat Erau juga menjadi benteng sekaligus jendela pelestarian warisan leluhur, sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata,” ujar Dwi saat pembukaan Erau, dikutip dari ANTARA.
Menurutnya kekayaan budaya semacam ini sangat penting karena dapat menjadi daya tarik wisata luar biasa bagi Indonesia. Karena itu, pemerintah daerah dan pelaku budaya dinilai perlu menjaga adat istiadat agar tetap lestari.
Tradisi Kerajaan Kutai Sejak Tahun 1300-an
Dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Erau merupakan upacara adat di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Nama Erau berasal dari kata “eroh” yang berarti ramai, riuh, atau suasana penuh kegembiraan. Tradisi ini pada awalnya berkaitan erat dengan kehidupan kerajaan.
Erau pertama kali digelar ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia lima tahun melalui upacara pijak tanah dan mandi ke tepian.
Setelah dewasa dan menjadi Raja Kutai Kartanegara pertama pada 1300-1325, upacara Erau kembali digelar. Tradisi tersebut kemudian dilakukan setiap kali terjadi penobatan atau pergantian raja.
Dalam perkembangannya, Erau juga menjadi kesempatan raja memberikan gelar kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa kepada kerajaan.
Rakyat dari berbagai wilayah akan datang membawa bahan makanan, ternak, buah-buahan, hingga kesenian.
Sultan dan kerabat keraton kemudian menjamu mereka sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian kepada kerajaan.
Berubah Menjadi Pesta Rakyat dan Budaya
Setelah Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir pada 1960 dan wilayahnya menjadi daerah otonomi, tradisi Erau sempat berhenti.
Pemerintah Kabupaten Kutai kemudian menghidupkan kembali tradisi ini sebagai bagian dari peringatan hari jadi Kota Tenggarong, yang sejak 1782 menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Sejak itu, Erau berkembang menjadi festival budaya yang tidak hanya menampilkan ritual Kesultanan, tetapi juga berbagai kesenian dan budaya daerah, Nusantara, hingga mancanegara.
Festival Adat Erau Kutai 2026 sendiri mengusung tema “Raja Menjamu Rakyatnya”. Selain ritual adat, rangkaian kegiatan juga diisi berbagai kegiatan seperti expo dan bazar UMKM, serta berbagai pertunjukan budaya.
Rangkaian Erau berlangsung hingga 27 September dan ditutup dengan prosesi Merebahkan Pinang Ayu pada 28 September 2026, bertepatan dengan HUT Kota Tenggarong.
Identitas Masyarakat Kutai
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, mengatakan Erau bukan sekadar festival tahunan, melainkan warisan budaya leluhur sekaligus bagian dari identitas masyarakat Kutai.
“Di dalam Adat Erau tersimpan penghormatan kepada leluhur, kesetiaan kepada adat, kebersamaan masyarakat, serta prinsip harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Aulia, dikutip dari Pemkab Kukar.
Dengan sejarah panjang tersebut, Erau kini tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang luar biasa.
