Imlek tahun ini merupakan representasi semangat Kuda Api. Oleh sebab itu, semangat yang dibawa menjadi-jadi. Usaha apa pun juga bisa sukses jika dijalani dengan penuh keyakinan dan kesungguhan.
Lebih jauh dari Imlek, ikon kuda dalam kebudayaan Indonesia kerap menjadi ciri estetik yang dikembangkan oleh banyak seniman.
Misalnya perupa Ugo Untoro, identik dengan lukisan mengenai kuda. Begitu pula dengan karya almarhum Prof. Dr. Timbul Raharjo, yang hanya lima bulan menjadi Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, pernah mengulik juga tema tentang kuda.
Bahkan nama dirinya di media sosial ikut bertambah menjadi Timbul Raharjo Kuda Egrang.
Dalam ranah sastra, novel Kuda juga menjadi perbincangan hangat. Novel Kuda karya Panji Sukma itu juga berhasil merekam jiwa zaman Orde Baru.
Begitulah nasib kuda menjadi simbol kebesaran dan kesuksesan juga. Presiden Prabowo Subianto juga menggunakan kuda sebagai perpanjangan hobi keseharian.
Sebagaimana raja-raja Jawa dan kaum aristokrat lain yang menggunakan kuda sebagai salah satu simbol kekayaan dan ciri keningratan.
Kita tahu, biaya pelihara kuda cukup mahal, maka memang hanya orang dengan dompet berlebih yang mampu memelihara.
Meskipun kini ada juga orang biasa yang mampu memelihara kuda untuk mencari nafkah. Meskipun yang seperti ini tergolong jarang.
Apa pun maknanya, memang hanya makhluk homo sapiens yang bisa merumuskan keberadaban kebudayaan. Aneh juga kalau ditelusuri, kapankah sebenarnya nama kuda disematkan untuk pertama kalinya?
Siapakah orang yang memberi nama kuda? Kalau Anda bertanya ke mesin pencari di google maka jawabannya bisa macam-macam. Arahnya bersumber dari bahasa Sanskerta.
Saya sendiri hanya bisa heran, penyebutan nama kuda yang dulu belum bisa dipatenkan oleh kementerian yang mengurusi hak milik kekayaan intelektual, ternyata sudah bisa disepakati sebagai nama paten.
Pengarsip nama kuda pertama kali itulah yang hebat. Hingga menjadi nama sebagai perpanjangan kesepakatan sosial.
Dari penelusuran sederhana ini saja sudah merefleksikan jika kebudayaan kita benar-benar dibangun dari mulut ke mulut. Budaya oral menjadi dominasi sebelum akhirnya didokumentasikan dalam pahatan batu atau bahkan serat-serat Jawa sebagaimana yang dilakukan para pujangga sebagai perekam zaman.
Di masa kini kita tinggal memaknai, melestarikan, dan mengambil hikmah atau filosofi yang memang diperlukan dalam konteks hidup sehari-hari. Selebihnya hanya menyisakan kekaguman.
Inilah yang juga akan kita bagi turun temurun sehingga rekaman zaman itu selalu ada yang mengarsip dan melanjutkan pengarsipan dalam budaya oral, tertulis, atau visual.
Ditafsirkan berlebihan juga boleh, jika itu memang menyehatkan mental Anda. Misalnya menjadi simbol superioritas dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. ***



