Buku-buku sejarah sekolah termasuk di Indonesia, gemar mengagungkan Thomas Alva Edison sebagai jenius tanpa tanding yang menciptakan ratusan gawai demi membuka jalan bagi zaman yang disebut modern.
Namun, di balik narasi kepahlawanan sains tersebut, tersimpan sisi kelam yang jarang diungkap. Edison, pada kenyataannya, lebih tepat disebut sebagai penipu terbesar pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Ia mengeruk kekayaan bukan murni dari kreativitasnya sendiri, melainkan dari muslihat mencuri perangkat orang lain, mematenkannya, lalu menuntut penemu aslinya atas tuduhan pencurian ide.
Rekam jejak “penemuan” Edison penuh dengan klaim sepihak atas kerja keras ilmuwan lain. Lampu pijar listrik, yang sering menjadi simbol kejeniusannya, sebenarnya pertama kali diciptakan oleh Sir Humphry Davy pada tahun 1809.
Bahkan, pada tahun 1844, Jean Foucault telah berhasil membuat lampu yang dapat digunakan. Edison hanya memodifikasinya agar bertahan lebih lama dan mengklaimnya sebagai hak milik.
Kasus yang lebih kelam terjadi pada teknologi gambar bergerak (film). Alat perekam gambar bergerak pertama di dunia diciptakan oleh pelukis Prancis-Amerika, Louis Le Prince, pada tahun 1888.
Secara misterius dan sangat menguntungkan bagi Edison, Le Prince menghilang tanpa jejak pada tahun 1890 setelah menaiki kereta api, membawa serta seluruh dokumen patennya. Tak lama kemudian, Edison tampil sebagai “pionir” industri film.
Modus serupa terjadi pada alat perekam suara. Perekam suara elektromagnetik pertama sebenarnya diciptakan oleh Édouard-Léon Scott de Martinville pada tahun 1859.
Begitu pula dengan baterai, yang pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta pada tahun 1803. Edison dengan mudah mencuri paten baterai tersebut hanya karena saat itu belum ada klaim paten serupa di wilayah Amerika Serikat.
Fakta-fakta ini membuktikan bahwa Edison bukanlah seorang penemu, melainkan seorang pengusaha berdarah dingin. Ia mendirikan perusahaan film pertama di AS dan memonopoli industri tersebut selama lebih dari 20 tahun melalui kuasa hukum dan gugatan pengadilan.
Kekejamannya sebagai pebisnis juga terlihat jelas dalam perang bisnis melawan Nikola Tesla. Demi menjatuhkan sistem Arus Bolak-Balik (Alternating Current/AC) milik Tesla yang lebih efisien, Edison melakukan kampanye hitam yang mengerikan.
Ia bahkan tega menyengat seekor gajah dengan listrik hingga tewas di depan publik hanya untuk membuktikan bahwa arus listrik Tesla sangat berbahaya.
Thomas Alva Edison adalah pebisnis ulung yang culas. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencuri ide orang lain, memenangkan tuntutan hukum dengan agresif, dan memperkaya studio filmnya.
Di balik gemerlap lampu pijar yang menerangi dunia, ada bayang-bayang kelam dari satu di antara penipu terbesar abad ke-20 yang sukses memanipulasi sejarah.
