Membuka kembali pidato pengukuhan Dr HC WS Rendra 4 Maret 2008, delapan belas tahun yang lalu, membuatku tercenung betapa cerdas si “Burung Merak” ini.
Antara lain mengutip pemikiran pujangga Ranggawarsita tentang zaman Kalatida, Kalabendu dan Kalasuba.
Pidato Doktor HC Rendra ternyata sangat relevan, untuk situasi bangsa dan negara saat ini.
Menuju Kalasuba Rendra mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berusaha mendesak tata pembangunan, tata hukum, tata negara yang membuat daya hidup dan daya cipta bangsa terus dilakukan.
Kalasuba tidak tergantung Ratu Adil tapi lebih tergantung hukum yang adil, mandiri dan terkawal.
Diperlukan rakyat yang berdaulat agar tak mudah dijajah kekuatan asing. Tak mudah dikendalikan pikirannya demi kepentingan asing.
Kalatida adalah zaman edan karena akal sehat diremehkan. Kalabendu adalah zaman hancur karena tatanilai dan tata kebenaran dijungkirbalikkan. Kalasuba adalah zaman kosmik dan kemakmuran.
Masyarakat yang berdaulat adalah yang menjunjung adat.
Rakyat dan alam hidup dalam harmoni yang baik karena dibimbing oleh hukum adat dan dikendalikan oleh tetua dan dewan adat.
Ketika hadir pemerintah berfungsi sbg pengemban adat yang patuh kepada adat.
Pertama, hirarkhi tertinggi hukum adat yang dijaga dewan adat.
Kedua, kekuasaan pemerintah, sedangkan masyarakat dan alam terlindungi dalam lingkaran dalam dari struktur ketatanegaraan.
Masyarakat semacam ini sukar terjajah oleh kekuasaan dan kekuatan asing.
Suku bangsa di Indonesia yang kuat tatanan hukum adatnya tak bisa dijajah. Sedangkan suku bangsa di mana hanya rajanya yang berdaulat mudah dijajah.
Ternyata dalam suasana akhir akhir ini, pikiran Rendra menjadi relevan. Rendra adalah pujangga besar, begawan yang dimiliki Indonesia.
Ia tak pernah secara formal menjadi sarjana, karena ia belajar di Universitas Jagad Raya Fakultas Kehidupan.
UGM sebagai Universitas “Kecil” mempersembahkan kepadanya Doktor Dengan Kehormatan. Tapi Rendra telah memberikan lebih daripada itu.
Rendra sekalipun sudah meninggal dunia, hakikatnya adalah begawan yang tetap “hidup” karena daya inspiratifnya.
Sungguh negara ini membutuhkan banyak “WS Rendra”. Setidak-tidaknya memberikan inspirasi dengan ke-“berani”-an dan ke-“teguh”-annya. ***



