Selamat Datang Dunia Tanpa Kunang-kunang 

Mabur.co – Belakangan ini media sosial diramaikan dengan bahasan yang menyebut bahwa, generasi saat ini adalah generasi terakhir yang mungkin dapat melihat langsung kunang-kunang. 

Hal itu terjadi karena, sejak beberapa dekade terakhir, populasi kunang-kunang  tercatat mengalami penurunan secara masif di berbagai belahan dunia.

Di Amerika Utara, 11 persen spesies kunang-kunang terancam punah, sementara beberapa populasi kunang-kunang lokal di India, juga dilaporkan telah turun dari 500 ekor menjadi hanya 10–20 ekor per 10 meter persegi. 

Dengan jumlah populasi kunang-kunang yang terus menyusut setiap tahunnya, para ahli memperingatkan bahwa manusia saat ini, bisa jadi merupakan generasi terakhir yang menyaksikan kunang-kunang di alamnya. 

Peneliti utama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin hingga dosen biologi dan ahli fisiologi serangga dari Universitas Gadjah Mada, Drs. Hari Purwanto, MP, Ph.D tak menampik hal tersebut. 

Sebagaimana dikutip Kompas, mereka menjelaskan berbagai hal yang menjadi sejumlah faktor penyebab menurunnya populasi kunang-kunang secara drastis. 

Mulai dari faktor perubahan iklim, hilangnya habitat alami akibat alih fungsi lahan, adanya polusi tanah, suara serta cahaya, hingga penggunaan pestisida berlebih.

Meski miris, namun sepertinya kepunahan kunang-kunang, sulit untuk dicegah. Seolah-olah kepunahan kunang-kunang tinggal menunggu waktu saja. 

Bukan karena manusia tak mampu mencegahnya, namun karena manusia terlalu angkuh dan egois untuk bisa sedikit mengalah dan berbagi dunia, dengan hewan kecil nan cantik itu.

Padahal sebenarnya keberadaan kunang-kunang hampir tak pernah mengancam kehidupan manusia. Kunang-kunang bahkan ikut membantu manusia dan berperan sebagai predator alami hama tanaman.

Terlepas dari semua itu, sebagai generasi milenial merasa sangat beruntung, sempat menyaksikan secara langsung ribuan kunang-kunang terbang bebas di alamnya. 

Pemandangan itu bahkan bisa saya temukan dengan mudah, di sekitar tempat tinggal saya semasa kecil, yang berada di tengah kota Jogja.

Dan mungkin generasi saya adalah generasi terakhir yang bisa menyaksikan pemandangan seindah dan se-memorable itu.

Sebab, sudah lebih dari 25 tahun terakhir ini, saya hampir tak pernah lagi menyaksikan pemandangan serupa di sekitar lokasi yang sama. 

Memang, saat ini saya masih bisa menemukan beberapa kunang-kunang di peloksok-pelosok desa pinggiran di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta.

Meski kunang-kunang itu hanya bisa ditemukan dalam jumlah sangat minim. Paling banyak hanya satu, dua atau tiga ekor saja. 

Ancaman punahnya kunang-kunang ini, tentu tak hanya akan menghilangkan satu spesies serangga cantik yang ada di dunia. Namun pada saatnya, juga akan menghapus semua ingatan dan kenangan manusia akan dunia yang pernah dipenuhi kunang-kunang.

Berbagai karya sastra seperti ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’-nya Umar Kayam, hingga ‘Requiem Kunang-kunang’-nya Agus Noor mungkin juga tak akan pernah lagi tercipta. 

Tentu ini menjadi sebuah kehilangan yang besar bagi peradaban manusia. Semoga ancaman punahnya kunang-kunang ini tak benar-benar terjadi di Indonesia.  

Saya masih membayangkan, suatu saat nanti, anak cucu saya, masih bisa menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang bebas di alamnya. Entah itu di sebuah pulau terpencil, atau di tengah hutan belantara. Semoga. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *