Mabur.co – Pemerintah terus memperkuat transformasi layanan kesehatan nasional dengan mengubah orientasi pelayanan dari yang semula berfokus pada pengobatan menjadi lebih menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif.
Melalui program Integrasi Layanan Primer (ILP) layanan kesehatan didorong semakin dekat dengan masyarakat melalui penguatan peran Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa.
Transformasi tersebut membuat Posyandu tidak lagi hanya identik dengan penimbangan balita. Kini, Posyandu dikembangkan menjadi pusat pelayanan kesehatan bagi seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia.
Inovasi Posyandu Matahari
Salah satu implementasi program tersebut hadir di Posyandu Matahari, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman.
Posyandu ini menjadi salah satu lokasi percontohan setelah direvitalisasi melalui Program Desa Brilian 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Niken Wastu Palupi, mengatakan, pembangunan sumber daya manusia berkualitas harus dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan.
Menurutnya, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.
“Transformasi layanan kesehatan saat ini diarahkan agar pelayanan lebih menekankan upaya promotif dan preventif. Posyandu menjadi garda terdepan karena kader mengenal kondisi kesehatan masyarakat dan mampu mendeteksi berbagai faktor risiko sejak dini,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Berbeda dengan Posyandu pada umumnya, Posyandu Matahari kini memberikan layanan kesehatan yang lebih lengkap. Selain melayani ibu hamil dan balita, posyandu ini juga membuka pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat dewasa dan lansia.
Hanya Rp10.000 Bisa Cek Kesehatan Lengkap
Warga dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, hingga pemeriksaan kesehatan lainnya dengan biaya hanya Rp10.000. Posyandu juga rutin memberikan edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita.
Saat ini Posyandu Matahari melayani sekitar 65 balita, 8 ibu hamil, dan sekitar 300 lansia. Dari jumlah tersebut, rata-rata 80 lansia aktif mengikuti pelayanan kesehatan setiap bulan.
Kader Posyandu Matahari, Ika Agustin, mengatakan revitalisasi yang dilakukan membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi jauh lebih optimal.
Berbagai fasilitas baru seperti meja pelayanan, alat stimulasi tumbuh kembang anak, timbangan kesehatan, hingga perlengkapan penunjang lainnya kini tersedia untuk mendukung kegiatan Posyandu.
Menurutnya, tambahan fasilitas tersebut memudahkan kader dalam memberikan pelayanan yang lebih nyaman dan berkualitas kepada masyarakat.
“Pelayanannya sekarang jauh lebih lengkap. Tidak hanya balita dan ibu hamil, warga dewasa maupun lansia juga rutin datang untuk pemeriksaan kesehatan. Harapannya program seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut sehingga Posyandu Matahari bisa menjadi percontohan bagi wilayah lain,” kata Ika.
Ia menambahkan, para kader juga secara rutin mendapatkan pelatihan dan bimbingan teknis dari puskesmas untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.
Selama ini pencatatan hasil pemeriksaan kesehatan masih dilakukan secara manual dan dilaporkan setiap bulan kepada puskesmas sebagai bagian dari pemantauan kesehatan masyarakat.
Dengan pelayanan yang semakin lengkap dan didukung kader yang aktif, Posyandu Matahari pun diharapkan dapat menjadi model pengembangan Posyandu di wilayah lain di masa mendatang.
