Dampak Medis Keracunan MBG, Siswi SMK di Karo Alami Kerusakan Fungsi Saraf

5 Min Read
Woman comforting a girl indoors, wiping her nose with a tissue while holding her.
Nasib malang dialami FBR, siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang diduga menjadi salah satu korban dengan dampak medis parah dalam tragedi keracunan massal program Makan Bergizi Gratis. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Nasib malang dialami FBR, siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang diduga menjadi salah satu korban dengan dampak medis parah dalam tragedi keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG).

FBR dilaporkan mengalami kerusakan fungsi saraf berat, penurunan daya ingat hingga 70 persen, serta gangguan komunikasi. Kasus yang menimpa FBR menambah panjang catatan keracunan massal dalam pelaksanaan MBG.

Orang tua FBR, Elvinus Lusiana Sitanggang mengatakan, anaknya mengalami gangguan ingatan setelah dirawat tiga hari di rumah sakit.

“Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum masih biasa, normal. Tapi setelah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya udah kayak anak-anak,” ujarnya dilansir detiksumut, Kamis (10/9/2026).

Elvinus tidak mendapatkan penjelasan terkait gangguan ingatan FBR sejak awal. Namun ia mendapatkan penjelasan tersebut saat FBR sudah dirawat inap.

“Cuma di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya, kan pindah ruangan, di bilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu,” katanya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, mengaku prihatin dengan kondisi FBR.

Diharapkan Bisa Segera Bersekolah Lagi

Ia menyebut Dinas Pendidikan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah agar FBR bisa segera bersekolah setelah kondisinya pulih.

“Tadi kita sampaikan ke sekolah agar selalu berkoordinasi dengan orang tua, apabila anak kita sudah siap untuk bersekolah, kita akan bantu fasilitasi sebaik mungkin. Kita sangat prihatin dengan kondisi anak kita ini,” tambahnya.

Sementara itu,  Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., Sp.N., FMIN., menjelaskan bahwa jenis toksin tertentu dalam kasus keracunan makanan dapat memengaruhi fungsi otak dan sistem saraf.

Pengaruh tersebut dapat terjadi ketika toksin mengganggu sistem neurotransmiter, yaitu zat kimia yang membawa pesan antarsel saraf.

Gangguan terhadap komunikasi sel saraf dapat memengaruhi fungsi kognitif, termasuk perhatian, kemampuan berpikir, dan daya ingat.

“Intoksikasi akibat keracunan makanan memang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Toksin dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter sehingga mengganggu kerja sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kognitif, termasuk gangguan daya ingat,” katanya, Kamis (10/9/2026).

Portrait of a middle-aged man with short dark hair, wearing a light blue shirt and white blazer, against a solid blue background.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., Sp.N., FMIN. (Foto: Dok. Pribadi)

Wahyu mengatakan, untuk menentukan penyebab gangguan yang dialami seorang pasien, dokter harus mempertimbangkan jenis toksin, tingkat paparan, gejala klinis, riwayat penyakit, serta hasil pemeriksaan penunjang.

Gangguan neurologis setelah keracunan tidak selalu disebabkan oleh toksin secara langsung. Kondisi lain yang menyertai, seperti kekurangan oksigen atau hipoksia, gangguan metabolik, dan kejang berkepanjangan, juga dapat memengaruhi fungsi sel saraf.

Dalam kondisi tertentu, stimulasi neurotransmiter secara berlebihan dapat memicu masuknya ion kalsium dalam jumlah berlebih ke dalam sel. Rangkaian proses tersebut berpotensi mengaktifkan enzim yang dapat merusak sel saraf.

“Kerusakan sel otak tidak selalu terjadi akibat toksin secara langsung. Ada faktor-faktor lain yang dapat ikut berperan. Karena itu, mekanisme dan penyebab gangguan pada setiap pasien harus diperiksa secara menyeluruh,” ujarnya.

Tak Boleh Dianggap Keluhan Biasa

Wahyu menilai gangguan ingatan setelah keracunan perlu mendapat perhatian dan tidak boleh dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum menentukan penyebab, tingkat gangguan, dan penanganan yang tepat.

Gangguan memori tidak selalu berakhir menjadi kerusakan otak permanen. Anak dan remaja memiliki kemampuan adaptasi dan pemulihan saraf yang relatif baik.

Meski demikian, tingkat pemulihan tetap bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, luas gangguan, kecepatan penanganan, dan respons pasien terhadap terapi.

“Harapannya, gangguan kognitif tersebut dapat pulih. Namun, perkembangannya tetap harus dipantau. Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebabnya serta diarahkan untuk memulihkan fungsi saraf dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” jelasnya.

Wahyu menegaskan bahwa penanganan kasus keracunan massal sebaiknya tidak hanya berfokus pada gejala pencernaan, seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare. Gejala lain yang melibatkan sistem saraf juga perlu diwaspadai.

Gangguan kesadaran, kejang, kesulitan berbicara, perubahan perilaku, kelemahan anggota tubuh, dan gangguan ingatan perlu menjadi tanda bagi tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan neurologis lebih lanjut.

“Jika muncul gejala neurologis, pasien perlu segera mendapatkan penilaian medis secara menyeluruh. Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui penyebab gangguan dan menentukan penanganan yang sesuai,” ujarnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar