Mabur.co — Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan langsung dalam operasi otak. Untuk pertama kalinya, seorang pasien menjalani operasi pengangkatan tumor dengan bantuan sistem AI yang bekerja secara real time.
Pasien tersebut adalah Rhys Hibbert, pria berusia 48 tahun asal Bedfordshire, Inggris. Ia menjalani operasi di University College London Hospital (UCLH) untuk mengangkat tumor yang tumbuh di kelenjar pituitari.
Dilansir BBC, Senin (31/8/2026), operasi ini dilakukan karena tumor berukuran sekitar 11 milimeter tersebut berada di lokasi yang sangat dekat dengan sejumlah struktur penting di otak. Jika terus berkembang, tumor dapat menekan saraf optik dan menyebabkan gangguan penglihatan.
Dalam operasi tersebut, sistem AI menganalisis rekaman video dari kamera yang digunakan dokter. Teknologi itu membantu menunjukkan posisi pembuluh darah dan saraf yang berada di sekitar tumor sehingga ahli bedah dapat menentukan bagian yang relatif lebih aman untuk ditangani.
“Alat ini dilatih untuk menangani lebih banyak operasi daripada yang dilihat atau dilakukan sebagian besar ahli bedah seumur hidup. Dapat bertindak seperti sepasang mata kedua yang ahli,” kata Profesor Hani Marcus, salah satu ahli bedah yang terlibat dalam operasi tersebut.
Meski menggunakan AI, keputusan tetap berada di tangan dokter. Teknologi tersebut hanya memberikan informasi tambahan selama operasi dan tidak menggantikan peran ahli bedah.
Tumor Jinak
Hibbert sendiri memiliki tumor jinak berukuran 11 milimeter di kelenjar pituitari. Kelenjar tersebut berada di dasar tengkorak dan berperan penting dalam menghasilkan hormon yang mengatur berbagai fungsi tubuh.
Persoalannya, posisi tumor sangat dekat dengan arteri karotis yang memasok darah ke otak serta saraf optik yang berperan dalam penglihatan. Sehingga sangat berisiko untuk operasi.
Dalam operasi itu sendiri AI digunakan untuk memetakan area berisiko di kepala pasien. Endoskop, atau kamera kecil yang dipasang pada alat berbentuk batang dimasukkan melalui hidung. Dokter kemudian bekerja menuju bagian dasar tengkorak tempat tumor berada.
Tantangan operasi ini adalah posisi pembuluh darah dan saraf penting yang tidak selalu terlihat secara langsung. Selain itu, struktur anatomi setiap pasien dapat juga berbeda-beda.
Sebelum teknologi AI digunakan, dokter biasanya mengandalkan hasil pemindaian sebelum operasi untuk mempelajari kondisi anatomi pasien.
Namun dengan pemanfaatan AI yang telah dilatih menggunakan ratusan rekaman operasi pengangkatan tumor hipofisis, sistem dapat mengenali pola anatomi seperti pembuluh darah, saraf dan struktur penting lainnya.
Saat operasi berlangsung, AI kemudian menganalisis video secara langsung, melacak alat bedah dan memberikan penanda pada area yang perlu diwaspadai.
Dengan informasi tersebut, dokter dapat memperoleh gambaran tambahan mengenai struktur penting yang mungkin tersembunyi di balik jaringan.
Penglihatan Lebih Baik
Pasca-operasi berlangsung pasien mengaku merasakan perubahan besar pada kondisi tubuhnya. Di mana penglihatannya terasa jauh lebih baik setelah menjalani operasi. Dalam waktu delapan minggu setelah operasi, pasien juga mengaku penglihatannya terus membaik.
Dikembangkan oleh para peneliti UCL dengan dukungan pendanaan dari National Institute for Health and Care Research serta Google, keberhasilan operasi ini membuat peneliti kini tengah menyiapkan pengujian yang lebih besar.
Dalam jangka panjang, tim peneliti membayangkan AI dapat berkembang menjadi semacam “ChatGPT untuk ahli bedah”.
Sistem tersebut nantinya diharapkan mampu memberikan informasi dan saran tambahan kepada dokter selama menangani kasus kompleks.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa AI tetap berfungsi sebagai alat bantu. Kendali dan keputusan medis tetap berada pada dokter.
