Awas, Benarkah Sibuk Tak Selamanya Baik?

8 Min Read
Ilustrasi bekerja lembur di kantor sampai malam, yang sangat jauh dari penerapan "Work Life Balance" (Foto: ahlihukumindonesia.com)

Mabur.co – Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya orang-orang akan berusaha mencari kesibukan tertentu, seperti bekerja, melakukan hobi, nongkrong bersama teman di sebuah kafe atau mal, dan lain sebagainya.

Ketika melihat dinamika kesibukan di zaman sekarang yang semakin kompleks dan beragam, termasuk dalam kegiatan yang bersifat daring (dalam jaringan/online), maka orang-orang yang tidak memiliki kesibukan tersendiri, biasanya akan dianggap cupu (culun punya), tidak gaul, tidak sukses, atau bahkan menganggur, dan seterusnya.

Sebaliknya, orang-orang sibuk (atau super sibuk) biasanya kerap diasosiasikan sebagai orang yang produktif, sukses, penuh determinasi, pekerja keras, selalu siap dengan segala instruksi atau perintah dari atasan, dan sebagainya.

Padahal, tidak melakukan apa-apa (tidak memiliki kesibukan tertentu), atau bersantai di rumah, sama sekali bukanlah hal yang buruk.

Meskipun kerap dinilai tidak produktif, namun ada kalanya, tidak memiliki kesibukan justru merupakan sesuatu yang baik, bahkan bisa jadi juga lebih baik, ketimbang memiliki kesibukan yang sifatnya semu, atau tidak menghasilkan sesuatu yang nyata, atau dapat dirasakan manfaatnya oleh diri sendiri.

Dilansir dari laman resmi BINUS UNIVERSITY, Senin (24/8/2026), berikut adalah sejumlah alasan sederhana, mengapa ketidaksibukan terkadang justru terasa lebih baik, ketimbang memaksakan diri harus sibuk, atau menyibukkan diri dengan melakukan banyak hal, hanya untuk menyenangkan orang lain, dan semacamnya.

1. Lupa Tujuan Utama di Awal

Ketika seseorang terlalu sibuk melakukan sesuatu (misalnya pekerjaan), biasanya dirinya akan “tenggelam” di dalam kesibukan itu, alias lupa dengan arti hidup yang sebenarnya, serta tujuan utama saat awal melakukan pekerjaan tersebut.

Dengan kata lain, orang hanya fokus memikirkan satu aspek dalam waktu lama, sehingga mengabaikan aspek-aspek penting lainnya dalam kehidupan, seperti keluarga, teman, menjalankan ibadah, melakukan hobi yang disukai, dan lain-lain.

Bekerja memang baik untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, namun jangan sampai bekerja menjadikan Anda justru tidak menikmati hidup itu sendiri, akibat terlalu asyik bekerja, sampai melupakan hal-hal penting lainnya.

2. Mengabaikan Aspek Lain dalam Kehidupan

Masih berkaitan dengan poin pertama di atas, ketika seseorang terlalu sibuk melakukan sesuatu, terutama pekerjaan (workaholic), biasanya akan membuat orang melupakan urusan-urusan lainnya yang tak kalah penting, seperti mengurus keluarga, istirahat, beribadah, bersantai, melakukan hobi yang disukai, dan sebagainya.

Apalagi ketika terlalu sibuk, badan menjadi lebih cepat lelah, dan pikiran juga lebih mudah terkena burnout, karena pekerjaan yang terus bertambah dan tak kunjung usai. Sementara waktu yang disisihkan untuk urusan lainnya menjadi terhambat atau berkurang. dan seterusnya.

3. Bukan Tanda Produktivitas

Orang seringkali terjebak dengan stigma bahwa sibuk sama dengan produktif. Padahal, makna produktif yang sebenarnya adalah tidak asal sibuk, atau mengisi waktu dengan sembarang kegiatan.

Karena faktanya, sibuk dan produktif adalah dua hal yang sangat berbeda.

Sibuk yang tergolong produktif adalah sibuk yang membuahkan hasil nyata, memiliki arah dan tujuan yang jelas, dan berfokus pada hal-hal penting.

Alih-alih sekadar menumpuk banyak pekerjaan dalam satu waktu, atau menghabiskan banyak waktu dengan melakukan satu pekerjaan yang sama berulang kali, dan seterusnya.

Selain itu, sibuk yang produktif tetap menghargai yang namanya jeda atau break, alias istirahat. Karena memaksakan pekerjaan terus menerus secara non-stop, pastinya tidak akan menghasilkan sesuatu yang produktif, melainkan hanya buang-buang waktu, atau berakibat pada kerja dua kali, tiga kali, dan seterusnya.

Bukankah jauh lebih baik ketika mengerjakan satu pekerjaan satu kali dan langsung selesai (lalu istirahat), ketimbang mengisi waktu luang dengan mengerjakan pekerjaan yang sama sebanyak dua atau tiga kali, bukan?

Cara Menyikapi Kesibukan dengan Bijak (dan Tetap Produktif)

1. Buat Skala Prioritas

Anda perlu membedakan mana kesibukan (misalnya dalam konteks pekerjaan) yang benar-benar penting, dan mana tugas yang hanya menyita waktu.

Usahakan untuk mengerjakan setiap tugas sebanyak satu kali saja, meskipun kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama.

Hal itu masih lebih baik ketimbang mengerjakan satu tugas secepat kilat, namun penuh dengan kesalahan, sehingga harus melakukan revisi berkali-kali, alias mengerjakannya lebih dari satu kali, yang pastinya akan menambah durasi pengerjaan jadi lebih lama.

2. Berani Menolak Tambahan Tugas (di Luar Kapasitas Diri)

Waktu istirahat Anda sangatlah berharga. Untuk itu, belajarlah untuk berani berkata “tidak” terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan tambahan tugas atau pekerjaan baru, khususnya yang tidak sesuai dengan kapasitas diri Anda sendiri.

Jangan sampai ketidaksibukan Anda kemudian dimanfaatkan oleh orang lain, untuk mengerjakan sesuatu yang tidak Anda sanggupi. Karena jika hasil pekerjaan itu tidak maksimal, maka Anda sendiri yang akan disalahkan, dan sebagainya.

3. Buatlah Manajemen Waktu untuk Beristirahat dengan Cukup

Masih berkaitan dengan poin nomor dua di atas, bahwa istirahat (atau disebut sebagai ketidaksibukan) merupakan suatu “emas” yang sangat berharga dalam keseharian Anda. Istirahat bukanlah sesuatu yang buruk, yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh orang lain untuk memanfaatkan energi dan waktu Anda.

Istirahat justru sangatlah penting dan dibutuhkan oleh setiap orang, untuk membuat pikiran dan tubuh kembali jernih dan segar (recharge and refresh), sehingga produktivitas itu akan tetap terjaga di sepanjang waktu.

Untuk itu, buatlah manajemen waktu Anda sendiri, agar momen recharge dan refresh itu bisa selalu ditemukan di setiap kesempatan. Tanpa harus selalu terlihat sibuk setiap saat, alias tidak beristirahat sama sekali.

4. Hindari Terlihat Sibuk demi Menyenangkan Orang Lain

Dalam dinamika kehidupan modern seperti saat ini, kata “sibuk” seringkali dipakai untuk menyenangkan orang lain, agar mencerminkan bahwa dirinya merupakan sosok yang penuh dengan kegiatan seru, menyenangkan, banyak teman, bahkan juga banyak uang, dan seterusnya.

Namun ada kalanya, kesibukan yang sebenarnya tidaklah demikian. Melainkan hanya sibuk mencari-cari kegiatan, menghadiri acara-acara tertentu, nongkrong dengan teman tanpa tahu batasan waktu, dan sebagainya.

Sehingga pada akhirnya, kesibukan yang Anda lakukan hanyalah semu, dan menjadi kamuflase tersembunyi, agar terlihat keren di mata orang lain.

Selain itu, sibuk dengan menyenangkan orang lain juga kerap dimaknai dengan selalu berkata “Ya” terhadap setiap permintaan orang lain (people pleaser). Sehingga Anda kemudian menjadi tidak punya kontrol atas diri Anda sendiri, dan lebih sering bekerja atau menyibukkan diri demi menyenangkan orang lain.

Untuk itu, Anda harus berani dan memiliki kesanggupan untuk berkata “Tidak” dalam situasi atau ajakan tertentu, agar waktu luang Anda tidak terus menerus dimanfaatkan oleh orang lain.

Karena sibuk yang paling utama dan produktif adalah sibuk terhadap (kebermanfataan) diri sendiri, bukan sibuk untuk kebermanfaatan orang lain, apalagi yang sifatnya hanya tambahan, tidak menghasilkan cuan, dan seterusnya.

***

Sibuk memang sesuatu yang baik, namun terlalu menyibukkan diri sampai melupakan hal-hal lainnya, tentu saja sudah menjadi sesuatu yang tidak baik lagi. Apalagi sampai tidak sempat menyenangkan diri sendiri.

Sebaliknya, ketidaksibukan atau chill alias bersantai di rumah dan sejenisnya, juga tidak selamanya buruk. Karena hal itu tetap dibutuhkan oleh semua orang.

Setiap orang pun memiliki jatah ketidaksibukan atau chill-nya masing-masing, dan jangan sampai jatah (waktu luang) itu kemudian dimanfaatkan oleh orang lain, untuk memperoleh keuntungan tertentu bagi dirinya sendiri, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar