Mabur.co – “Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana…” begitu bunyi sajak KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Sajak itu seperti menggedor gendang telinga para mahasiswa, mempertanyakakan berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Rabu malam, 29 Oktober 2026, sajak Gus Mus itu jadi nyata. Di Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat, jam 14.23 WIB, seorang mahasiswi berhijab hitam naik ke mobil komando. Almamater biru kebesaran Trisakti. Suaranya pecah, tapi lantang. Ia yang memimpin Sumpah Mahasiswa.
Namanya Zahra Nazira Firman. Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti periode 2026-2027.
“Nama Zahra Nazira Firman menjadi perhatian publik setelah menyampaikan orasi dalam demonstrasi mahasiswa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti tersebut terlihat memimpin massa aksi saat membacakan Sumpah Mahasiswa,” tulis kalderanews.com, dikutip mabur.co (4/11/2026).
Jejak Zahra
Bukan tiba-tiba saja ia muncul di antara kerumunan massa. Gerakannya tercatat begitu panjang. Kalderanews mencatat, Zahra tercatat Ketua OSIS SMP Alexandria Islamic School 2018, Ketua OSIS SMA Alexandria Islamic School 2021-2022. Masuk FH Trisakti angkatan 2023, ia staf Kementerian Hukum dan Perundang-undangan Presiden Mahasiswa 2024-2025, staf Divisi Mahasiswa LKBH Trisakti, staf Biro Kemahasiswaan BEM FH 2025-2026. Baru kemudian terpilih ketua.
Jalur kaderisasinya pun normal, bukan karbitan. Yang bikin beda minggu ini adalah momentum sejarah. Trisakti adalah kampus reformasi 1998. Setiap 12 Mei, nama Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, Herry Hartanto disebut. Jadi ketika Zahra teriak di Patung Kuda, publik melihat kontinuitas mitos: Trisakti kembali ke jalan.
Tuntutannya juga bukan kaleng-kaleng. Ia membawa Tritura Trisakti:
- Pertama, pulihkan ekologi, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan nasional;
- Kedua, hilangkan rangkap jabatan dan inkompetensi pejabat publik;
- Ketiga, tegakkan supremasi sipil.
“Tiga tuntutan rakyat yang kami bawa itu adalah pulihkan ekologi, ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan nasional. Lalu yang kedua adalah hilangkan pejabat-pejabat yang merangkap dua jabatan, serta yang ketiga supremasi sipil,” kata Zahra tulis twaslnews.
Siapa di Sekitar Zahra?
Di sekitar Zahra ada lingkaran baru gerakan mahasiswa perempuan 2026. Media menyandingkan dia dengan Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI, dan Naomi Artika Simamora dari UPR Palangka Raya yang bawa isu karhutla. Tiga srikandi, tulis media.
“Gelombang demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di Jakarta pada akhir Oktober 2026 menghadirkan dua sosok perempuan muda yang menjadi sorotan publik. Mereka adalah Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, dan Ketua BEM FH Trisakti, Zahra Nazira Firman,” dilansir dari caamar.id.
Di balik itu, ada bayang-bayang keluarga yang bikin cerita makin ramai. Publik menemukan Zahra adalah putri Okta Kumala Dewi, anggota Komisi I DPR RI dari PAN dapil Banten III. Fakta ini yang bikin ia viral dua kali. Pertama karena orasi, kedua karena pertanyaan: “Anak DPR kok demo DPR?” Akun Instagram @zaranzrr naik dari 900 ke 27 ribu follower dalam 3 hari. Video orasinya di TikTok ditonton 4,2 juta.
Apa Efek Sosialnya?
Di kampus, FH Trisakti yang biasanya sepi diskusi jadi ramai. Di warung kopi belakang kampus, mahasiswa angkatan 2025 mencetak kaos “Mahasiswa Asli, Bukan Bayaran” sindiran langsung ke polemik deklarasi mahasiswa palsu di Bundaran HI sehari sebelumnya yang dihadiri Raffi Ahmad.
Secara nasional, kemunculan Zahra mempengaruhi narasi gerakan. Aksi 28 Oktober #IndonesiaSadar di Bundaran HI yang dipimpin BEM UI butuh kekuatan pergerakan mahasiswa yang lebih luas dan massif. Kehadiran Zahra sehari setelahnya di Patung Kuda dengan bahasa Tritura yang lebih membumi, kesehatan, pendidikan, rangkap jabatan membuat isu mahasiswa masuk makin menusuk dan memasuki gang-gang perkampungan kaum proletar.
Kenapa nama Zahra mencuat sekarang? Karena ruang kosong. Setelah Fathimah Azzahra Wakil Ketua BEM UI sering diserang buzzer, publik butuh wajah baru yang bisa saling menguatkan Fatima: sama, berhijab, anak DPR tapi kritis, bahasa hukum tapi tidak elitis. Zahra mengisi ceruk itu.
Di rilis resmi BEM FH Trisakti 30 Oktober, Zahra menulis: “Kami tidak menolak dialog, tapi kami menolak dialog yang hanya formalitas. Supremasi sipil bukan jargon.” Itulah Zahra. Bukan sekadar media darling baru. Ia adalah pengingat bahwa Trisakti belum selesai dengan sejarah perlawanannya.
