Zaman Para Pesihir

5 Min Read
Walter Benjamin (Sumber: monthlyreview.org)

Semula saya menduga bahwa buku karya Wolfram Eilenberger berjudul “Time of the Magicians” alias Zaman Para Pesihir adalah sejenis buku fiksi sihir-menyihir seperti serial Harry Potter atau legenda Merlin. Ternyata saya total keliru.

Di dalam buku Zaman Para Pesihir, Wolfram Eilenberger mengajak kita ke dekade “keajaiban”  1919–1929, periode pasca-Perang Dunia I yang penuh gejolak sosial, politik, dan ekonomi di Jerman dan Austria.

Buku ini bukan sekadar biografi empat filsuf besar —Walter Benjamin, Martin Heidegger, Ludwig Wittgenstein, dan Ernst Cassirer — tetapi juga sebuah “biografi filosofis” yang menyandingkan kehidupan pribadi mereka dengan gagasan-gagasan revolusioner yang mereka cetuskan.

Empat filsuf besar berbahasa Jerman yang dianggap sebagai para pesihir zaman “ Pencerahan Baru” adalah:

– Walter Benjamin – Kritikus kebudayaan yang terobsesi dengan hubungan seni, politik, dan teknologi. Kehidupannya dipenuhi ketidakpastian dan berakhir tragis di tangan Nazi.

– Martin Heidegger – Filsuf eksistensialis yang mengembangkan konsep “Dasein” (ada-di-dunia), namun kemudian terlibat dengan Nazisme sehingga sempat dipersona-non-gratakan setelah Jerman yang semula berjaya namun akhirnya perlaya akibat kalah pada Perang Dunia II.

– Ludwig Wittgenstein – Putra keluarga mahakayaraya yang menolak warisan, beralih ke kehidupan sederhana dan menulis opus magnus teori gambaran bahasa “Tractatus Logico-Philosophicus” serta permainan bahasa di dalam  “Philosophical Investigations“ yang berpendapat bahwa makna sebuah kata ditentukan oleh penggunaannya dalam konteks tertentu dan bukan hanya sebagai representasi realitas

– Ernst Cassirer –  Filsuf Neo-Kantian paling terkemuka, dan terakhir, pada abad ke-20. Kontribusi filosofis utamanya adalah transformasi adaptasi matematis-logis gurunya, Hermann Cohen, terhadap idealisme transendental Kant menjadi filsafat komprehensif tentang bentuk-bentuk simbolik yang ditujukan untuk membahas semua aspek kehidupan dan kreativitas budaya manusia.

Dengan demikian, Cassirer memberikan perhatian yang sama pada kedua sisi pembagian Neo-Kantian tradisional antara  ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam.

Garis besar tema sentral adalah :

1. Bahasa sebagai Fondasi Pemikiran

Ketiganya (kecuali Cassirer) mempertanyakan batas bahasa dan bagaimana bahasa membentuk realitas. Wittgenstein menyatakan “Batas bahasaku berarti batas duniaku”; Heidegger meredefinisi istilah-istilah eksistensial; Benjamin melihat bahasa sebagai medium politik.

2. Krisis Identitas Pasca-Perang

Perang Dunia I menghancurkan keyakinan lama. Keempat filsuf berusaha menjawab pertanyaan dasar: *Apa itu manusia?* Mereka menawarkan jawaban berbeda —dari Cassirer yang melihat manusia sebagai “pembuat simbol”, hingga Heidegger yang menempatkan “ketakutan akan kematian” sebagai inti eksistensi.

3. Pertemuan Davos 1929

Puncak narasi buku adalah debat antara Heidegger dan Cassirer di Davos. Cassirer membela humanisme dan etika, sementara Heidegger menegaskan bahwa filosofi harus menghadapi ketakutan eksistensial. Pertemuan ini menjadi simbol perpecahan antara tradisi analitik (Wittgenstein) dan kontinental (Heidegger).

Dalam konteks historis dapat disimpulkan bahwa Eilenberger menempatkan filsafat dalam konteks sosial-politik Weimar: hiperinflasi, ketidakstabilan politik, dan bangkitnya Nazisme. Ini menjelaskan mengapa keempat “magician” tersebut muncul pada waktu yang sama dan mengapa gagasan mereka masih relevan hingga kini.

Secara alasanologis buku ini menjadi menarik untuk disimak atas beberapa alasan antara lain dengan menggabungkan kisah pribadi, anekdot, dan analisis filosofis sehingga pembaca non-akademisi pun bisa mengikuti. Di samping menunjukkan bagaimana gagasan-gagasan dari dekade 1920-an masih memengaruhi pemikiran modern tentang bahasa, budaya, dan eksistensi.

“Time of the Magicians” adalah sebuah kisah epik tentang empat filsuf yang hidup di tengah kekacau-balauan pasca-Perang Dunia I yang berkembang menjadi Perang Dunia II, masing-masing menawarkan perspektif unik tentang manusia dan bahasa.

Melalui narasi yang lincah bergerak dinamis, Eilenberger mengajak pembaca memahami bagaimana konteks historis membentuk pemikiran revolusioner dan mengapa warisan mereka masih relevan hingga hari ini.

Semoga para akademisi filsafat Indonesia tak sudi tertinggal dalam swasembada menggagas Zaman Para Pesihir Indonesia abad XXI.

Tokoh filsuf Indonesia tersedia berlimpah semisal Frans Magnis Suseno, Achmad Charris Zubair, Karlina Supeli, Simon Tjahjadi, Tommy Auwy, Saras Dewi, Okky Madasari, Ashoka Siahaan, Setyo Wibowo, Chappy Hakim, Martin Suryajaya, Rocky Gerung, Franky Hardiman, Nasir Tamara, Santaccito, Siti Musdah Mulia, dan lain-lain.

Share This Article
Portrait of a middle-aged man with round glasses and a black shirt, smiling slightly against a blue background.
Seniman-Budayawan
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar