Ketawang Tunggal Jiwa: 100 Puisi 1 Gending

3 Min Read
Ilustrasi. 70 Tahun Prof. Minto. (Foto Ilustrasi: Dok. Prof. Minto)
2 dari 2 Series - Jejak Sastra Prof. Suminto A Sayuti dari IKIP Muhammadiyah hingga Antologi Puisi "Ketawang Tunggal Jiwa"

Mabur.co – Pusat perhatian sore itu: peluncuran buku “Ketawang Tunggal Jiwa” 100 puisi karya Suminto A Sayuti, terbitan Pustaka Pelajar. Judulnya bukan kebetulan.

Dalam tradisi karawitan Jawa yang digeluti Suminto ia penabuh gamelan, pengurus Masyarakat Karawitan Jawa, ketawang adalah bentuk gending yang menghadirkan keseimbangan, ketenangan, pengendalian rasa.

Tunggal Jiwa: Satu Jiwa

Jabrohim, yang juga menulis esai pengantar “Ketawang Tunggal Jiwa: Menyimak Gending Kehidupan dalam Puisi Suminto A. Sayuti”, mengatakan: “Puisi-puisi Suminto tidak sekadar meminta pembaca memahami makna. Puisi-puisi itu mengajak pembaca memasuki ruang batin, ketika kata-kata tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi menjelma menjadi pengalaman. Membaca antologi ini serupa menyimak gending yang mengalun perlahan, berkembang, lalu mengendap menjadi kesadaran”.

Saya membuka bukunya, halaman 12, puisi berjudul “Siapa Berkata”. Puisi yang sama yang menjadi pembuka buku sebelumnya “Ketika Diri adalah Kepulangan dan Keberangkatan” (Cantrik Pustaka, 2023) yang berisi 100 puisi juga.

Siapa bilang dengan kata-kata.

Sekali hari ini lalu esok yang lusa.

Adalah cintamu yang kenanga…”

Kumpulan puisi ini berisi 100 puisi. Kumpulan ini dibuka dengan puisi persembahan yang ‘teramat waktu’ sebelum daftar isi.

“Puisi ‘Siapa Berkata’ menggemakan sekali lagi antiterminasi, juga siklus, dan semesta waktu,” tulis Cantrik Pustaka yang mengulas buku Suminto sebelumnya, dikutip cantrikpustaka.com.

Antiterminasi, menolak akhir. Itu watak Pak Minto. Ia menolak purna.

Bahasa Menjadi Pencarian, Bukan Sekadar Penyampai

Dalam “Ketawang Tunggal Jiwa”, menurut pembacaan Jabrohim, watak ketawang itu terasa: emosi tidak dipertontonkan demonstratif, tapi lirih, seperti tabuhan kethuk yang pelan tapi meninggalkan gaung.

Gunung Merapi, hujan, angin, daun, jalan, pendhapa, wayang, gamelan, ketawang, ladrang, blencong, semua hadir bukan sebagai dekorasi Jawa, tapi sebagai bahasa spiritual. Alam Jawa sebagai bahasa jiwa.

“Alam dan tradisi Jawa tidak berhenti sebagai latar tempat puisi berlangsung, tetapi menjadi perangkat untuk mengungkapkan pengalaman manusia dan kedalaman batinnya,” kata Jabrohim dalam esainya.

Dua sahabat. Prof. Minto berbincang hangat dengan Pak Jabrohim (Foto: Dok. Jabrohim)

Ada metapuitik: Suminto menulis tentang kata itu sendiri. Tentang frasa, klosa, tanda baca, puisi yang merenungi puisi.

Bahasa menjadi pencarian, bukan sekadar penyampai. Dan waktu kehilangan istri tercinta yang sering muncul dalam puisi-puisinya, kerinduan pada pasangan, percakapan dengan anak cucu Bayu, Sekar, Sadewa, kesadaran usia senja.

Semua bermuara pada perjalanan pulang. Doa yang disamarkan menjadi sajak.

“Puisi-puisinya membimbing kita melalui medan batin yang terbuka, dari ledakan sunyi Malam Tamansari ke suluk ketibaan Bangsal Sri Manganti. Menghadirkan refleksi mendalam tentang realitas dan eksistensi,” tulis Borobudur Writers mengulas perjalanan puitiknya. Sebab “Ketawang Tunggal Jiwa” adalah suluk ketibaan itu sendiri. (Bersambung).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar