Perang Iran-Israel-Amerika kini memasuki hari ke-25. Pastilah menimbulkan banyak pendapat di tengah masyarakat.
Salah satunya datang dari Andi Mallarangeng. Pengamat hubungan internasional yang juga mantan Menpora ini menyatakan terkait adanya ancaman Donald Trump kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 2 x 24 jam.
Dikutip dari akun Facebook Andi Mallarangeng, Selasa (24/3/2026), inilah pendapat utuh Andi Mallarangeng terkait dinamika konflik di Timur Tengah. Ditulis seperti sebuah surat terbuka.
DONALD TRUMP ULTIMATUM IRAN SOAL SELAT HORMUZ. ESKALASI TANPA UJUNG?
Donald Trump mengancam Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 2 x 24 jam. Kalau tidak, maka kilang minyak dan gas serta infrastruktur kelistrikan Iran akan dihancurkan.
Iran membalas, bahwa Selat Hormuz terbuka untuk siapa saja, kecuali bagi musuh-musuh Iran. Dan kalau diserang, Iran akan menyerang balik dengan menyerang infrastruktur minyak dan gas dan sebagainya kepada sekutu-sekutu Amerika di Teluk Persia.
Saya tidak tahu apa yang ada di benak Donald Trump.
Apakah dia berpikir, setelah berperang lebih dari 3 minggu, setelah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran serta tokoh-tokoh Iran yang lain, bahkan juga setelah menewaskan warga sipil seperti lebih dari 170 anak sekolah perempuan dan menghancurkan berbagai sarana prasarana di Iran, lantas Iran akan menurut karena diancam?
Ini komedi yang tidak lucu. Karena sebenarnya Selat Hormuz baik-baik saja sebelum Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Iran menguasai Selat Hormuz, justru sebagai balasan terhadap serangan Amerika dan Israel tersebut. Karena ini ada perang asimetris, yang lebih lemah harus menggunakan strategi yang berbeda untuk menyakiti kepentingan musuhnya. Dan memang kenaikan harga minyak dan gas dunia berdampak terhadap seluruh masyarakat sedunia, termasuk juga di Amerika.
Lalu sekarang Amerika mengancam Iran agar mebuka Selat Hormuz sebagaimana sebelum perang. Amerika terjebak dalam lingkaran setan eskalasi yang dibuatnya sendiri.
Tentu saja ancaman semacam itu akan mengeskalasi perang. Karena Iran bukan Venezuela, dan tidak akan menyerah begitu saja.
Bahkan rudal dan drone Iran masih bisa menggempur target-target di di Teluk, di Israel, bahkan pangkalan Amerika-Inggeris Diego Garcia di Samudera Hindia.
Jalan paling tepat adalah deeskalasi, bukan eskalasi. Amerika dan israel berhenti menyerang Iran dan sebaliknya Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi siapapun.
Persis seperti sebelum perang. Lalu semuanya duduk di meja perundingan untuk menyelesaikan persoalan. Karena dunia tidak menjadi lebih baik dengan adanya perang ini. ***


