Mabur.co- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan mulai menanam ranjau laut di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Langkah ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi perdagangan global, terutama karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut.
Iran membuktikan ancaman mereka untuk tidak membiarkan satu liter minyak pun melewati Selat Hormuz.
Selain menyerang kapal yang nekat melintas, negeri yang dulu bernama Persia itu juga memasang ranjau laut.
Iran juga sudah mengingatkan warga sipil di negara-negara kawasan Teluk Persia yang tinggal sekitar satu kilometer dari bank agar mengungsi.
Sebab, mereka akan menargetkan bank-bank di negara-negara yang terafiliasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sebagai bentuk balasan atas serangan kedua negara itu ke perbankan mereka.
Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa pasukannya telah menyerang 28 kapal penyebar ranjau milik Iran.
Namun, sejarah mencatat bahwa pemasangan ranjau di Selat Hormuz selalu menjadi tantangan yang sangat pelik bagi negara-negara Barat, mirip dengan situasi pada era 1980-an.
Seorang mantan perwira senior angkatan laut Perancis menyebut ranjau laut sebagai “senjata kaum miskin”.
Meski murah, senjata ini mampu melumpuhkan perdagangan maritim dan membatasi ruang gerak armada angkatan laut tercanggih sekalipun.
“Namun, ranjau menimbulkan ancaman mendasar terhadap perdagangan maritim dan kebebasan bertindak pasukan angkatan laut,” katanya, dikutip dari AFP, Sabtu (14/3/2026).
Peneliti di Institut Hubungan Internasional Perancis (IFRI), Elie Tenenbaum mengatakan, Iran diperkirakan memiliki sekitar 5.000–6.000 ranjau laut, termasuk ranjau hanyut yang sangat sulit untuk dicegat.
Ranjau kontak dapat hanyut di permukaan mengikuti arus atau dapat ditambatkan ke jangkar di dasar laut. Nantinya, ranjau ini akan meledak ketika bersentuhan dengan lambung kapal.
Ini adalah ranjau paling sederhana, paling murah, dan ancaman utama di Selat Hormuz ,” kata mantan anggota berpangkat tinggi angkatan laut tersebut. Iran juga memiliki ranjau pengaruh yang disesuaikan dengan perairan dangkal Teluk.
Senjata itu ditaburkan di dasar laut dan meledak ketika kapal besar terdeteksi di atasnya.
Menurutnya, Iran dapat menggunakan perahu cepat untuk memasang ranjau tempel pada lambung kapal yang akan diledakkan pada waktu tertentu.
“Iran dapat dengan cepat mengerahkan semua ranjau ini di Teluk Persia dan Selat Hormuz menggunakan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi yang dilengkapi sebagai kapal penebar ranjau,” demikian pernyataan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) dalam sebuah laporan tahun 2019.
Iran telah melengkapi banyak kapal kecil Ashoora miliknya dengan rel ranjau yang mampu menampung setidaknya satu ranjau.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelumnya juga memperingatkan bahwa kapal yang melintas di kawasan tersebut dapat menjadi target serangan, membuat jalur pelayaran itu digambarkan sebagai “death valley” karena tingginya risiko bagi kapal yang melintas.
Menurut Robert Strauss Center for International Security and Law, ranjau dapat berisi bahan peledak mulai dari sekitar 100 pon hingga lebih dari 2.000 pon, dan dapat digunakan baik untuk tujuan pertahanan maupun serangan.
Ranjau laut adalah alat peledak yang ditempatkan di bawah air untuk merusak atau menghancurkan kapal yang melintas.
Mirip dengan ranjau darat, perangkat ini dipasang dan dibiarkan di tempat hingga terpicu ledakan, baik karena kontak langsung dengan kapal maupun karena kapal berada di dekatnya.
Ranjau laut dapat dipasang dengan berbagai cara. Selain itu, ada juga ranjau dasar laut yang dapat mendeteksi kapal melalui sinyal akustik atau elektromagnetik sebelum meledak.
Beberapa jenis bahkan lebih canggih, seperti ranjau TE-1 buatan China yang dimiliki Iran, yang dapat menembakkan muatan peledak bertenaga roket saat kapal melintas di atasnya.
Ancaman ini semakin signifikan di Selat Hormuz.
Pada titik tersumbatnya, selat ini hanya sekitar 33 kilometer, sementara jalur pelayaran utama bahkan lebih sempit, sekitar 3 kilometer di setiap arah, sehingga relatif mudah untuk menempatkan ranjau laut di jalur kapal tanker yang melintas.
Ranjau laut sering dianggap sebagai senjata strategis karena biaya pembuatannya relatif murah, tetapi dampaknya sangat besar.
Salah satu keunggulan utama ranjau laut adalah biayanya yang rendah dibandingkan sistem persenjataan angkatan laut lainnya.
Satu ranjau yang hanya bernilai beberapa ribu dolar dapat menenggelamkan atau merusak parah kapal sipil maupun kapal perang yang nilainya mencapai jutaan bahkan milyaran dolar.



