Hari Kebangkitan Nasional, Masa Depan Bangsa di Tangan Generasi Muda - Mabur.co

Hari Kebangkitan Nasional, Masa Depan Bangsa di Tangan Generasi Muda

Mabur.co- Banyak orang mengenal Hari Kebangkitan Nasional hanya sebagai hari libur yang memperingati sebuah peristiwa sejarah.

Namun, Harkitnas sebetulnya memiliki arti yang relevan dengan kehidupan saat ini, yaitu mengenai semangat untuk bangkit, berkembang, dan tidak gampang putus asa ketika menghadapi berbagai tantangan di zaman.

Budi Utomo

Peringatan ini dimulai dari pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang menjadi awal mula munculnya rasa persatuan di kalangan masyarakat Indonesia. Dari momen inilah semangat kebangkitan nasional bermula dan terus diingat hingga perayaan Harkitnas pada tahun 2026.

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional berkaitan langsung dengan pembentukan organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Dibuat oleh sekelompok mahasiswa cerdas di sekolah kedokteran STOVIA Batavia termasuk Soetomo dan teman-temannya berdasarkan ide inspiratif Dr. Wahidin Soedirohoesodo.

Organisasi ini menjadi penggerak utama dalam menciptakan kesadaran nasional di kalangan masyarakat pribumi. Kehadiran mereka memberikan harapan baru bagi perjuangan kemerdekaan yang pada saat itu masih tidak menentu dan tanpa arah yang jelas.

Sebelum tahun 1908, usaha rakyat untuk melawan penjajahan Belanda selalu mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh perjuangan yang bersifat lokal, tidak teratur, dan sangat bergantung kepada sosok pemimpin yang memiliki karisma.

Ketika pemimpin daerah tersebut ditangkap atau hilang di medan perang, maka semangat perlawanan rakyat pun pudar, sehingga Belanda bisa dengan mudah kembali menguasai keadaan.

Dengan menyaksikan kelemahan tersebut, munculnya Boedi Oetomo merombak secara drastis cara perjuangan.

Semangat tahun 1908 menjadi simbol nyata dari perubahan perjuangan bangsa, mengalihkan fokus dari perlawanan fisik bersenjata ke medan yang lebih intelektual, pendidikan, diplomasi, dan kesatuan nasional.

Para pendiri bangsa mulai menyadari bahwa untuk memerdekakan sebuah bangsa, tidak lagi bisa dicapai hanya dengan mengandalkan kekuatan senjata, tetapi harus melalui kecerdasan berpikir dan pengorganisasian yang lebih modern.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengatakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Pendidikan dinilai memiliki peran strategis, tidak hanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan zaman,” katanya saat ditemui usai upacara, Rabu (20/5/2026) di Lapangan Pemda Sleman.

Harda mengatakan, masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang saat ini sedang dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan zaman.

Semangat Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa lahir dari kesadaran kolektif untuk bersatu, berpikir maju, serta terus berinovasi.

“Tantangan bangsa saat ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan bagaimana membangun kedaulatan pengetahuan, teknologi, dan karakter di tengah perkembangan era digital,” katanya.

Penguatan Karakter Budaya Lokal

Harda mengatakan, pentingnya penguatan karakter generasi muda melalui nilai-nilai budaya lokal dengan filosofi Mulat Sarira Lumangkahing Jumangkah Jatraning Laku.

Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya mawas diri, tanggung jawab, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah kehidupan.

“Melalui filosofi tersebut, saya mengajak seluruh masyarakat Sleman untuk terus membangun budaya belajar, budaya disiplin, budaya gotong royong, dan budaya inovasi. Karena kebangkitan bangsa sesungguhnya dimulai dari kualitas manusianya,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *