Mabur.co – Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, turut memberikan pandangannya terkait sikap Prabowo Subianto selama 1,5 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia, lalu membandingkannya dengan isi buku yang ditulis sendiri oleh Prabowo, saat ia masih berada di luar pemerintahan.
Prabowo diketahui pernah menuliskan buku mengenai pandangannya tentang Indonesia, dengan judul Prabowo Subianto, Paradoks Indonesia dan Solusinya yang terbit pada 2017 lalu.
Dalam buku itu, Prabowo kerap mengkritik rezim pemerintahan yang telah maupun yang sedang memimpin Indonesia (presiden beserta jajarannya). Dimana Indonesia sebagai negara yang begitu kaya akan sumber daya alam, tapi justru rakyatnya masih hidup dalam garis kemiskinan.
Dan tentu saja, salah satu solusi yang ia tawarkan dalam buku itu adalah, dengan menjadikan dirinya sebagai presiden, alias menjadi “the main show” bagi keberlangsungan negara ini, agar bisa memecahkan setiap masalah yang ia kemukakan di dalam buku tersebut.
Namun sayangnya, menurut Islah, apa yang dituliskan Prabowo di dalam bukunya itu, hampir tidak pernah tercermin dalam perilakunya sehari-hari setelah ia benar-benar berada di sana (sebagai presiden).
“Kita kan ikut membaca (buku) Paradoks Indonesia itu, apa yang diutarakan, idealisme dia, Prabowo tentang Indonesia, lalu jika kita bandingkan dengan Prabowo hari ini (saat sudah menjadi presiden), kan sebenarnya anomali semua. Jadinya malah ‘paradoks baru’ dari bukunya sendiri,” ungkap Islah Bahrawi dalam podcast Ruang Sahabat, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (15/4/2026).
Menurut Islah, “paradoks baru” ini harus bisa tersampaikan kepada Presiden Prabowo secara langsung, agar ia menyadari bahwa sikapnya sudah berubah dari isi bukunya sendiri, setelah impiannya menjadi presiden telah tercapai.
“Ya, ini memang harus sampai (Presiden Prabowo menyadari ‘paradoks baru’ yang ia ciptakan atas isi bukunya sendiri). Pak Prabowo harus mendengar ini. Bahwa sampeyan itu berbeda (sikapnya). Ketika dia melihat Indonesia dan ketika memegang Indonesia (menjadi presiden) itu kan berbeda. Nah ini harus terus disuarakan,” tambah Islah.
Meskipun cukup rentan untuk disampaikan, apalagi jika didengarkan langsung oleh presiden (berpotensi menimbulkan ancaman atau teror), namun Islah meyakini, ia sudah berada di jalan yang benar.
Apalagi jika berkaca dari teori-teori demokrasi, maka sikap Prabowo sudah jelas bertentangan dengan isi bukunya sendiri. Sehingga orang yang bersangkutan harus bersedia mendengarkan masukan itu. (*)



