Mabur.co – Kue bulan merupakan kue kering khas Tiongkok yang memiliki keterkaitan erat dengan perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur.
Festival ini sendiri merupakan salah satu festival besar di Tiongkok, dan juga merupakan tradisi turun temurun yang dirayakan oleh masyarakat Tiongkok di berbagai dunia. Khususnya setiap tanggal 15 bulan ke-8 dalam perhitungan kalender lunar Cina.
Bukan Sekadar Makanan Penutup
Di balik bentuknya yang cantik, kue ini tidak hanya sekadar makanan penutup di tengah perayaan, tetapi juga memiliki banyak kisah menarik yang tersimpan di dalamnya dan mewakili kebudayaan Cina.
Dilansir dari Smithsonian Magazine, Jumat (25/9/2026), semua bermula dari kisah cinta antara seorang pemanah dengan Dewi Bulan.
Alkisah, Tiongkok dihadapkan pada cuaca panas ekstrem yang berakibat buruk pada kondisi panen dan kekeringan.
Panas ini disebabkan oleh sepuluh matahari yang mengelilingi bumi secara bersamaan.
Hou Yi atau sang pemanah di dalam cerita ini, kemudian memenuhi panggilan dari istana untuk membantu menembak jatuh sembilan dari sepuluh matahari tersebut.
Ia berhasil menuntaskan misi yang diberikan berkat kepiawaiannya dalam teknik memanah. Akhirnya berkat keberhasilannya, Hou Yi dihadiahi oleh para dewa sebuah ramuan yang dapat memberikannya keabadian.
Situasi kemudian berubah, pada akhirnya, Hou Yi justru menjadi seorang tiran. Chang’e, istri Hou Yi, mulai merasakan bahwa dengan kepribadian baru suaminya, ramuan keabadian hanya akan menjadi risiko yang berbahaya.
Ia lalu memutuskan menenggak ramuan tersebut dan diangkat oleh dewa ke atas bulan. Dalam versi lain, ada juga yang menyebut bahwa alasan Chang’e menenggak ramuan itu bukanlah karena Hou Yi berubah menjadi tiran. Tetapi karena murid Hou Yi mencoba merampok ramuan tersebut ketika Hou Yi tidak ada di rumah.
Persembahan Kue Bulan
Kepergian Chang’e menyisakan kesedihan bagi hati Hou Yi. Kerinduan yang ia rasakan akibat kepergian istrinya kemudian membuatnya menciptakan sebuah persembahan berupa kue bulan.
Kue bulan pada umumnya berbentuk bulat seperti bulan dan memiliki ukuran sekitar 10 sentimeter. Ketika sudah mendekati hari pelaksanaan festival, kue ini dapat ditemukan hampir di berbagai supermarket, toko kue, atau pun toko oleh-oleh.
Tradisi tidak selalu tinggal di masa lalu. Di Semarang, Jawa Tengah, budaya dan tradisi Pecinan dirangkai menjadi satu perayaan yang mempertemukan warisan budaya dengan kehidupan masa kini.
Kue Bulan Jajanan Khas Warga Tionghoa
Dari kue bulan jajanan khas warga Tionghoa, kisah Laksamana Cheng Ho serta jamuan Tok Panjang serta geliat Pecinan, dihadirkan melalui Mooncake Festival 2026.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menjelaskan, keberagaman budaya yang tumbuh di Semarang merupakan bagian dari perjalanan kota yang terus bergerak dari masa lalu menuju masa kini dan masa depan.
“Semarang ini tidak hanya bicara tentang sesuatu yang kuno, sesuatu yang di masa lalu. Tetapi ini adalah titik pertemuan antara masa lalu, masa kini, yang akan mendorong perahu kita maju menuju ke masa depan,” ujarnya, dilansir Kumparan, Jumat (25/9/2026).
Pecinan Destinasi Wisata Budaya
Agustina menilai, Pecinan tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga memiliki potensi untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata budaya.
“Kalau orang dulu melihat Pecinan sebagai kawasan yang kuno, saya melihat sisi yang berbeda. Saya melihat ada keindahan, keakraban, keasyikan, dan gotong royong,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Mooncake Festival 2026, Tanto Hermawan, menjelaskan, Mooncake Festival 2026 menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun.
“Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan dan persatuan, semangat yang kami harapkan dapat terus kami jaga dalam kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan,” ucapnya. ***
