Menengok Arsitektur Rumah Masa Kecil Martha Tilaar, Kini Jadi Museum Estetik di Gombong

6 Min Read
Historic white building with arched windows and a tiled roof, shaded by surrounding trees and a covered veranda.
Roemah Martha Tilaar yang kini menjadi museum dan bisa dikunjungi. (Foto: Visit Jawa Tengah)

Mabur.co – Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group sekaligus pelopor industri kosmetik Indonesia, meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober 2026, dalam usia 89 tahun.

Perempuan kelahiran Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu meninggalkan warisan panjang di industri kecantikan Indonesia sejak era 1970-an. 

Di kota kelahirannya, jejak masa kecil Martha masih dapat ditelusuri melalui Roemah Martha Tilaar, rumah bersejarah yang kini menjadi museum dengan arsitektur klasik dan koleksi benda antik.

Berlokasi di Jalan Sempor Lama Nomor 28, Kedungampel, Wonokriyo, Gombong, bangunan ini menyimpan kisah keluarga sekaligus perjalanan awal kehidupan Martha Tilaar.

Dikutip dari situs resmi Roemah Martha Tilaar, Kamis (15/10/2026), rumah tersebut merupakan kediaman keluarga kakeknya, Liem Siaw Lam, yang dikenal warga setempat dengan panggilan Baba Solam. Ia merupakan pengusaha Tionghoa yang bergerak di bidang perdagangan hasil bumi dan peternakan.

Rumah yang diperkirakan dibangun sekitar 1920 itu memiliki perpaduan gaya arsitektur Belanda, Jawa, dan Tionghoa. Sebelum menjadi museum, bangunan ini ditempati keluarga besar Liem. Di sinilah Martha lahir dan menghabiskan masa kecilnya hingga berusia 10 tahun.

Rumah tersebut kemudian diubah menjadi museum dan dibuka untuk umum pada 6 Desember 2014 oleh Wulan Tilaar, putri Martha Tilaar. Pendirian museum berawal dari keinginan Martha untuk berkontribusi kepada kota kelahirannya, yang kemudian diwujudkan oleh sang putri.

Bekas Kandang Sapi

Dilansir laman Dinas Pariwisata Pemprov Jateng, ada perubahan menarik pada tata ruang rumah keluarga Liem Siaw Lam. Dahulu, bagian depan rumah digunakan sebagai kandang sapi, sedangkan bagian belakangnya menjadi tempat produksi susu dari peternakan keluarga.

Kini, area depan rumah tampil berbeda. Pelataran yang luas menjadi bagian dari kawasan museum dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat bersantai, termasuk pada malam hari.

Perubahan fungsi tersebut tidak menghilangkan karakter bangunan lama. Sebaliknya, berbagai unsur arsitektur dan perabotan tempo dulu tetap dipertahankan untuk memberikan gambaran tentang kehidupan keluarga yang pernah tinggal di dalamnya.

Sejak memasuki halaman, pengunjung akan menjumpai bangunan dengan keramik bermotif, kaca patri, serta ornamen klasik. Fasad bagian depan memiliki tiga pintu masuk yang ditata simetris, dilengkapi detail keramik dan lampu gantung bergaya lama.

Perpaduan elemen tersebut membuat Roemah Martha Tilaar memiliki tampilan khas yang menarik perhatian, terutama bagi pengunjung yang menyukai bangunan bersejarah dan suasana vintage atau jadul.

Kloset Jadul Berbahan Kayu

Begitu masuk ke bangunan utama, pengunjung akan menjumpai ruang tamu yang tertata rapi dengan berbagai perabotan lama. Kursi tamu, meja, lemari, dan sejumlah benda antik masih menjadi bagian dari penataan ruangan.

Rumah induk ini memiliki empat kamar utama dan sebuah ruang kerja. Suasana setiap ruangan dipertahankan sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, sehingga pengunjung dapat membayangkan kehidupan keluarga pada masa lalu.

Di kamar tidur, misalnya, terdapat tempat tidur, lemari rias, gramofon, dan berbagai pernak-pernik kecil kuno. Penataan koleksi yang rapi membuat benda-benda tersebut tidak sekadar menjadi pajangan, tetapi juga bagian dari cerita tentang kehidupan sehari-hari pada masa itu.

Foto-foto keluarga yang dipasang di berbagai bagian bangunan turut membantu pengunjung mengenal silsilah keluarga Martha Tilaar. Melalui foto dan koleksi tersebut, museum ini menyajikan sejarah keluarga yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup sang pengusaha.

Salah satu benda yang menarik perhatian adalah kloset tempo dulu berbahan kayu. Di sisi kanannya terdapat botol berisi air yang dahulu digunakan untuk membilas. Benda sederhana ini memberikan gambaran tentang perlengkapan rumah tangga pada zamannya.

Setelah melewati kamar tidur dan ruang kerja, pengunjung dapat menuju ruang makan yang dahulu menjadi tempat berkumpul anggota keluarga. Dari area ini, perjalanan berlanjut menuju pintu keluar dan halaman belakang.

Selain bangunan utama, terdapat pula bangunan serba guna yang digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan. Ruangan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat pameran atau lokakarya ketika Roemah Martha Tilaar menggelar acara.

Kerap Gelar Edukasi hingga Pameran Seni

Roemah Martha Tilaar tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Bangunan ini juga dikembangkan sebagai ruang pertemuan masyarakat melalui berbagai kegiatan, mulai dari diskusi, lokakarya, festival, pertunjukan hingga pameran seni.

Program-programnya terinspirasi dari empat pilar Martha Tilaar Group, yakni Pendidikan Kecantikan, Kecantikan Ramah Lingkungan, Budaya Kecantikan, dan Pemberdayaan Perempuan.

Melalui berbagai aktivitas tersebut, Roemah Martha Tilaar berupaya mempertemukan individu dan komunitas untuk berbagi gagasan serta membangun kolaborasi. Kegiatannya juga mencakup bidang sosial, ekonomi, dan pelestarian budaya lokal.

Keberadaan museum ini membuat rumah keluarga Liem Siaw Lam memiliki fungsi baru tanpa meninggalkan jejak masa lalunya. Bangunan yang dahulu menjadi tempat tinggal sekaligus bagian dari kegiatan peternakan keluarga itu kini menjadi ruang untuk mengenal sejarah dan menyelenggarakan kegiatan masyarakat.

Bagi pengunjung yang tertarik pada sejarah, arsitektur klasik, maupun koleksi barang antik, Roemah Martha Tilaar menawarkan pengalaman menyusuri rumah berusia sekitar satu abad. 

Lebih dari sekadar tempat berfoto, museum ini juga menyimpan kisah perjalanan masa kecil Martha Tilaar yang merupakan salah satu sosok pengusaha wanita ternama yang ada di Indonesia. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar