Mabur.co – Jekikrek merupakan mainan tradisional yang terbuat dari anyaman daun lontar atau kelapa muda. Biasanya mainan ini berbentuk kuda atau jaranan yang diberi 4 roda dan biasanya diseret dengan tali. Mainan tempo dulu ini bisa dibilang sudah sangat jarang ditemui di era sekarang. Terlebih di tengah gempuran mainan modern dan digital.

Catur, penjual jekikrek mengatakan, jekikrek menyimpan nilai budaya dan fungsi serbaguna. Dalam beberapa acara adat, seperti selametan atau sedekah bumi, jekikrek kerap digunakan sebagai wadah nasi yang dikenal sebagai ketupat jaranan atau ketupat burung.
Simbol Syukur dan Kebersamaan
Nasi yang dimasukkan dalam anyaman jekikrek kemudian dimasak bersama ketupat lainnya sebagai bagian dari simbol syukur dan kebersamaan.
“Jekikrek bukan hanya mainan biasa, tetapi juga simbol kreativitas masyarakat desa yang mampu menciptakan hiburan dari bahan-bahan alami,” tuturnya, saat ditemui di Pasar Kangen, Jumat (26/6/2026).
Catur mengatakan pula, anak-anak zaman dulu senang sekali main jekikrek di jalanan tanah. Sekarang sayangnya sudah jarang terlihat. Bahkan banyak anak sekarang yang tidak tahu seperti apa bentuknya.
Tak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab pudarnya minat terhadap mainan tradisional.
“Mainan modern yang penuh warna, interaktif, dan berbasis teknologi, membuat jekikrek kalah pamor di mata anak-anak masa kini,” katanya.
Catur mengatakan pula, jekikrek adalah pengingat bahwa permainan tidak harus mahal, tidak harus canggih, tapi bisa sederhana, ramah lingkungan, dan penuh makna.
“Sudah saatnya sebagai masyarakat Lamongan, ikut menjaga agar warisan kecil ini tidak benar-benar hilang dari ingatan anak cucu kita,” katanya.

