Pentingnya Kurator yang Memahami Sejarah hingga Pertumbuhan Batik dari Berbagai Zaman

4 Min Read
Batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi merupakan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni, filosofi, dan teknik pembuatan khas. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi merupakan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni, filosofi, dan teknik pembuatan yang khas.

Dalam berbagai kegiatan seperti pengadaan seragam batik, pameran batik, lomba batik, hingga kurasi produk UMKM, diperlukan seseorang yang mampu melakukan penilaian secara objektif terhadap kualitas dan keaslian batik. Profesi tersebut dikenal sebagai kurator batik.

Tugas Kurator Batik

Pengurus Komunitas Kagama Batik dan Wastra, Novi Siti Kussuji Indrastuti, menuturkan kurator batik adalah tenaga profesional yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengidentifikasi, menilai, serta memberikan rekomendasi terhadap produk batik berdasarkan aspek teknis, estetika, budaya, dan kualitas.

“Kurator berperan memastikan bahwa produk batik yang dipilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dan tetap mencerminkan nilai-nilai batik Indonesia,” ucapnya, Minggu (27/9/2026).

Pengurus Komunitas Kagama Batik dan Wastra, Novi Siti Kussuji Indrastuti (Foto: Dok. Pribadi)

Novi menuturkan, batik perlu dikurasi, terutama ketika batik ditempatkan dalam konteks pameran, koleksi museum, festival budaya, dokumentasi, atau kegiatan yang membawa nama batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Novi mengatakan, batik tidak hanya dapat dilihat sebagai kain bermotif. Di balik selembar batik terdapat pengetahuan, keterampilan, sejarah, simbol, bahkan ingatan suatu masyarakat.

Motif tertentu lahir dan berkembang dalam lingkungan budaya tertentu serta mempunyai cerita dan fungsi yang berbeda.

“Ketika batik dipamerkan atau diperkenalkan kepada masyarakat, informasi mengenai konteks tersebut perlu dijaga agar batik tidak berhenti hanya sebagai benda yang indah secara visual,” ucapnya.

Aspek Penting Kurasi Batik

Menurut Novi, kurasi batik dapat dilakukan dari berbagai aspek. Pertama, berdasarkan asal atau wilayah, misalnya batik Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Madura, dan berbagai daerah lainnya. Masing-masing mempunyai karakter yang dibentuk oleh sejarah dan lingkungan budayanya.

Kedua, kurasi dapat didasarkan pada motif dan makna simboliknya. Motif seperti parang, kawung, truntum, atau motif-motif pesisiran mempunyai latar sejarah, simbol, dan perkembangan yang berbeda.

Ketiga, dapat dilihat dari teknik pembuatannya, misalnya batik tulis, batik cap, atau kombinasi keduanya.

“Dalam konteks tertentu, penting pula membedakan batik yang dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi melalui teknik lain,” ucapnya.

Kurasi juga dapat mempertimbangkan usia kain, pembuat atau komunitas pembuatnya, bahan, pewarna, fungsi pemakaian, serta konteks sosial.

Jadi, seorang kurator tidak semata-mata memilih kain yang dianggap paling indah, tetapi membangun cerita agar masyarakat memahami mengapa kain tersebut penting.

Menjaga Pengetahuan dan Ingatan Budaya

Oleh sebab itu, menurut Novi pula, menjaga batik yang telah dikurasi sangat penting karena yang dijaga sebenarnya bukan hanya bendanya. Melainkan juga pengetahuan dan ingatan budaya yang melekat pada batik tersebut.

Kain dapat rusak karena usia, cahaya, kelembapan, penyimpanan yang tidak tepat, atau penggunaan. Namun ada hal lain yang juga dapat hilang, yaitu cerita mengenai siapa yang membuatnya, dari daerah mana berasal, bagaimana teknik pembuatannya, untuk keperluan apa digunakan, dan apa makna motifnya.

“Pelestarian batik sebaiknya berjalan dalam dua arah. Pertama, konservasi fisik, yakni menjaga kain agar tidak cepat rusak. Kedua, konservasi pengetahuan, yaitu mendokumentasikan nama motif, teknik, sejarah, pembatik, komunitas, cerita, serta konteks sosial budaya yang menyertai.

Aspek kedua ini tidak kalah penting. Jangan sampai kainnya masih kita miliki, tetapi pengetahuan tentang kain tersebut justru sudah hilang.

Kita juga perlu mengingat bahwa menjaga batik tidak cukup hanya dengan mengenakannya. Memakai batik adalah bentuk apresiasi, tetapi memahami cerita dan pengetahuan di balik batik adalah bagian dari pelestarian. Dengan cara itulah batik dapat terus hidup, bukan hanya sebagai produk mode, melainkan sebagai warisan budaya yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” katanya. *** 

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar