Mabur.co – Dominasi penggunaan produk rumah tangga berbahan plastik dan sintetis saat ini, harus diakui menjadi salah satu faktor pemicu rusaknya kondisi lingkungan di tengah-tengah kehidupan modern.
Padahal sejak lama masyarakat Nusantara khususnya Jawa, dikenal mampu menghasilkan produk-produk ramah lingkungan berbahan serat alam, sebagai bagian kearifan lokal dalam bentuk produk budaya.
Salah satunya adalah kerai atau tirai bambu yang biasa digunakan sebagai penyekat ruangan. Di masa lalu produk kerajinan tradisional ini selalu digunakan di rumah-rumah warga masyarakat di Jawa yang beriklim tropis.
Meski semakin jarang ditemui, para perajin kerai bambu hingga kini masih bisa ditrmui di sejumlah wilayah pedesaan di Kabupaten Kulon Progo. Terlebih Kabupaten Kulon Progo sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan serat alam yang sangat terkenal ke berbagai daerah.

Alain Yanto (47) warga Lendah menjadi satu dari sedikit perajin lokal yang konsisten memproduksi kerai bambu secara manual. Selama lebih dari 10 tahun, Yanto aktif mengolah bahan alam berupa bambu wulung menjadi tirai dengan peralatan sederhana buatannya sendiri.
Bertempat di kompleks Pasar Tradisional Pengasih, Yanto, biasa mengerjakan seluruh proses pembuatan tirai bambu seorang diri, mulai dari memotong bambu, mengirat, menganyam, hingga finishing. Untuk membuat satu kerai ukuran 2 x 2 meter, ia mengaku membutuhkan waktu pengerjaan sekitar dua hari. Bagian paling menyita waktu adalah mengolah bambu mentah agar siap dianyam.
Kerai buatan Yanto sendiri tersedia dalam berbagai ukuran, mulai 1 x 2 meter hingga 6 x 4 meter. Harga jual rata-rata tirai bambu buatannya biasa dipatok seharga Rp 50.000 per meter persegi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.
Meski kini banyak produk tirai modern berbahan plastik dijual di pasaran, kerai bambu buatan Yanto tetap diminati. Hampir setiap hari dagangannya terjual. Pesanan rutin datang dari pelanggan, bahkan kerap membuatnya kewalahan karena keterbatasan tenaga.
Salah satu pelanggan setianya adalah Ahmad, warga Pengasih. Ia mengaku tetap memilih menggunakan kerai bambu dibanding tirai modern karena keunikan dan kelebihannya.
“Menurut saya tirai bambu lebih nyaman, simpel, dan mudah didapatkan. Selain itu, kerai bambu bikin rumah lebih sejuk,” kata Ahmad, saat dijumpai mabur.co.
Bagi Ahmad, kerai bambu sudah menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari yang praktis dan alami. Ia juga menilai meski lebih cepat rusak, kelebihan tirai bambu adalah tidak meninggalkan limbah plastik.

Selain kerai, Yanto sendiri juga rutin memproduksi berbagai kerajinan lain, seperti gedek anyaman untuk dinding dan atap, meja kursi bambu, penyengget buah, hingga kurungan ayam. Seluruh produk tersebut juga dibuat dengan bahan-bahan alami ramah lingkungan dengan harga relatif terjangkau.
Sayangnya keberadaan produk serat alam termasuk tirai bambu semacam ini kini semakin terpinggirkan oleh barang-barang pabrikan yang instan dan massal. Padahal, bambu merupakan material yang mudah diperbarui, kuat, murah, serta minim dampak lingkungan.
Kerai bambu bukan hanya produk kerajinan, melainkan representasi kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Mencerminkan cara masyarakat Indonesia memanfaatkan alam secara bijak, jauh sebelum istilah “ramah lingkungan” dikenal luas.
Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap krisis iklim dan sampah plastik, keberadaan kerai bambu Kulon Progo menjadi pengingat bahwa solusi berkelanjutan sebenarnya telah lama hidup dalam budaya bangsa kita sendiri. ***



