Untung Basuki: Dari Kuli Bangunan Jadi Pebonsai Handal - Mabur.co

Untung Basuki: Dari Kuli Bangunan Jadi Pebonsai Handal

Mabur.co – Di sebuah petak lahan tak terlalu luas di kawasan pesisir pantai Kulon Progo, deretan tanaman bonsai nampak tumbuh subur, dengan keunikan lekuk batang serta daun yang khas.

Meski belum tumbuh sempurna, pesona keindahan tanamam mini itu nampak terlihat jelas, ditengah hamparan petak lahan pertanian hortikultura seperti cabai, tomat hingga sawi yang mengelilinginya.

Di balik kebun bonsai itu, ada sosok Untung Basuki (47), bapak dua anak yang setiap hari merawatnya dengan sepenuh hati.

Untung Basuki sedang menunjukkan tanaman bonsai miliknya (Foto : JH Kusmargana)

Untung Basuki awalnya bukanlah petani bonsai. Sehari-hari, warga Dusun Keboan, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, ini justru bekerja sebagai tukang harian atau kuli bangunan.

Setiap hari, ia harus bekerja memeras keringat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan penghasilan yang pas-pasan. Terlebih saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020 silam. Pekerjaannya makin sepi, sehingga membuatnya mulai melirik sektor pertanian.

Awalnya, sebagaimana warga pesisir lainnya, Untung menyewa lahan berpasir seluas 800 meter persegi untuk ditanami aneka tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, hingga terong dan sawi. Namun disamping membutuhkan perawatan yang ekstra, hasil panen tanaman hortikultura juga tak pernah menentu karena harga jualnya yang kerap anjlok.

Atas dorongan pamannya, serta berbekal hobi merawat tanaman, Untung pun nekat mengganti seluruh tanaman pangan yang sebelumnya ia tanam itu dengan tanaman hias yang kelak dibentuk menjadi bonsai.

“Waktu itu saya berpikir, daripada susah-susah tanam cabai dengan resiko gagal panen dan harga jual yang kerap jatuh, saya memutuskan untuk mencoba bonsai. Saya belajar pelan-pelan dari awal,” ujar Untung.

Sejak saat itu untung mulai menanam berbagai jenis tanaman bonsai seperti iprik, sancang, kimeng, hingga waru. Prosesnya tidak instan. Bertahun-tahun ia belajar merawat, memangkas, mengikat, dan membentuk pohon-pohon itu menjadi sebuah bonsai.

Tidak seperti tanaman hortikultura yang bisa dipanen dalam waktu singkat yakni hitungan bulan, minggu bahkan hari, tanaman bonsai baru bisa layak dijual setelah dirawat minimal tiga hingga empat tahun lamanya.

“Saat awal-awal itu, karena belum ada hasil, saya tetap bekerja sebagai tukang. Jadi pulang kerja atau saat libur saya baru fokus mengurus bonsai,” katanya.

Berkat ketekunan dan kesabarannya, usaha Untung perlahan mulai berbuah. Satu per satu bonsai miliknya mulai dilirik kolektor. Rata-rata, satu pohon usia 3 tahun, bisa terjual dengan harga Rp4 juta hingga Rp5 juta. Sehingga dalam sekali panen, Untung pun bisa meraup pemasukan hingga puluhan juta rupiah.

Terbukti membuahkan hasil, Untung pun semakin serius menekuni usaha bonsai. Ia menambah jumlah pohon rawatan hingga puluhan jumlahnya. Ia juga semakin banyak mempelajari ilmu perbonsaian yang tak semua orang memahami dan mencintainya.

Bagi Untung, bonsai bukan sekadar tanaman yang bisa menghasilkan uang. Sebab merawat bonsai baginya adalah sebuah proses melatih diri dalam segala hal. Mulai dari ketekunan, kesabaran hingga kemauan untuk terus berinovasi dan terus berkembang.

“Bonsai itu ibarat cerminan diri kita, karakter seperti apa diri kita, akan terlihat dari bonsai yang kita hasilkan,” katanya.

Keahlian Untung dalam membentuk bonsai semakin lama semakin dikenal di kalangan pecintai bonsai.  Bonsai-bonsai buatanya, bahkan kerap dibeli dengan harga cukup mahal. Beberapa bahkan bisa mencapai Rp14 juta per pohon yang tergolong masih bahan.

Tak hanya itu, ia bahkan juga kerap diminta membantu merawat atau membentuk bonsai milik para pecinta dan kolektor bonsai ternama yang sudah langganan memenangkan kontes. Sehingga ia pun perlahan mulai meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai tukang kuli bangunan.

Dari hasil menggeluti dunia bonsai, Untung pun kini mampu mengantarkan anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi ternama di kota Yogyakarta. Sebuah pencapaian yang membanggakan bagi seorang kuli bangunan seperti dirinya.

“Saya tidak pernah membayangkan dari tanaman bonsai ini bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi,” tuturnya.

Kesabaran, konsisten, dan kemauan untuk terus belajar menjadi kunci keberhasilan Untung. Ia membuktikan bahwa siapapun bisa berkembang selama ada tekad dan kemauan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *