Mabur.co- Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, bukan sekadar pencipta lagu.
Ia adalah maestro perjuangan yang melahirkan himne abadi Gerakan Reformasi 1998.
Sosok alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986 ini meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Sleman, setelah berjuang melawan stroke sejak pertengahan Desember 2025.
Lahir pada 1 Desember 1965 di Binjai, Sumatra Utara, John adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga.
Ayahnya seorang PNS hakim yang sering mutasi, membuat keluarga berpindah-pindah. Sejak kecil John sudah jatuh cinta pada musik.
Ia belajar gitar secara autodidak sejak kelas 5 SD, meminta orang tua membelikan gitar pertama dengan ikrar menghemat uang saku hingga kuliah.
John menempuh SMA di beberapa kota, termasuk SMA Santo Thomas Yogyakarta (tak lulus karena kenakalan remaja) dan menyelesaikan di SMA Katolik Banjarmasin.
Tahun 1986 ia diterima di Fakultas Filsafat UGM (juga UKI Jakarta) dan memilih Yogyakarta. Awalnya ingin hidup “biasa saja” sebagai penebusan dosa masa sekolah, tapi pertemanan dengan Wibi Warao dan Sugeng Bahagyo menyeretnya ke dunia aktivis.
Di kampus, ia ikut mendirikan Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF) sebagai alternatif senat. Mulai 1988, diskusi mahasiswa berubah jadi aksi jalanan.
John terlibat dalam gerakan solidaritas Waduk Kedung Ombo (1989-1991), Kusumanegara Berdarah, hingga Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) di mana ia jadi wakil ketua.
Pengalaman melihat kekayaan Indonesia yang “dibodohi” pemerintah itu yang melahirkan lagu-lagunya. Lagu legendaris “Darah Juang” diciptakan John sekitar 1991-1992 di kontrakan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta —yang juga jadi sekretariat KM-UGM.
Melodi lahir dari gitar akustiknya saat gelisah malam hari. Lirik awal ditulis bersama Dadang Juliantara (Fakultas MIPA UGM) karena John kurang percaya diri menulis kata-kata.
Lalu direvisi berkali-kali oleh teman-teman, termasuk Budiman Sudjatmiko yang mengusulkan ganti “Tuhan” menjadi “Bunda” agar lebih menyentuh hati.
Kabar duka itu dikonfirmasi oleh rekan John sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni UGM, Arie Sujito.
“Betul, Mas, ini saya baru saja sampai RSA UGM dan bertemu dengan keluarga John,” ujarnya saat dikonfirmasi Rabu (25/2/2026) malam.
Sementara itu, Sangaji dari Layanan Duka GKI Adisutjito, di mana selama ini John menjadi jemaat di sana, menyebut setelah wafat dan dimandikan di RSA UGM, mendiang John langsung disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda pada Rabu (25/2/2026) malam.
“Setelah dari RSA UGM kita bawa ke Rumah Sakit Bethesda untuk disemayamkan di sana sampai dimakamkan sesuai dengan permintaan keluarga,”ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Sangaji menuturkan, mendiang John rencana akan dimakamkan di TPU Madurejo, Prambanan, Sleman, maksimal pada Sabtu (28/2/2026) mendatang.
“Rencana dari istri John minta dimakamkan di TPU Madurejo di Prambanan, permintaan keluarga tadi maksimal hari Sabtu karena ada tradisi Batak dan menunggu keluarga berkumpul,” ujarnya. ***



