Mabur.co- Konflik di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan sekutu Israel melancarkan serangan militer ke Iran.
Hal itu memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global. Pasar minyak dunia diproyeksi mengalami lonjakan tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan depan.
Harga minyak mentah dunia melesat tajam seiring langkah para pelaku pasar mengantisipasi potensi eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Jumat (27/2/2026).
Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Donald Trump yang mengisyaratkan ketidakpuasannya terhadap negosiasi nuklir guna menghindari serangan militer.
Mengutip CNBC International, Minggu (1/3/2026), fokus utama pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari, setara 31% dari total arus minyak laut dunia melewati jalur tersebut.
“Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela,” kata salah satu kepala bagian investasi di Santa Lucia Asset Management Florian Weidinger.
Jika Iran mengambil langkah balasan yang mengganggu arus kapal tanker, harga minyak berpotensi melonjak 5% hingga 10% dalam waktu singkat.
“Itulah mengapa risikonya lebih besar. Anda bisa memperkirakan harga minyak akan naik lebih tajam minggu depan sebagai akibatnya,” tambahnya.
Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu tekanan inflasi global.
Negara-negara importir minyak, terutama di Asia dan Eropa, akan menghadapi kenaikan biaya produksi dan transportasi.
Namun, lonjakan harga bisa bersifat sementara apabila konflik tidak berkembang menjadi perang berkepanjangan dan Selat Hormuz tetap beroperasi normal.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,8% dan ditutup di atas US$67 per barel, level penyelesaian tertinggi sejak Agustus tahun lalu.
Trump mendesak Iran untuk segera menyepakati perjanjian nuklir sembari mengeluhkan bahwa Teheran tidak bernegosiasi dengan niat baik.
Ia menambahkan akan ada “pembicaraan tambahan hari ini” setelah kedua pihak gagal mencapai kesepakatan di Jenewa awal pekan ini.
Di saat yang sama, AS, Cina, dan beberapa negara lain telah mengimbau warganya untuk segera meninggalkan beberapa bagian di kawasan tersebut.
“Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami sama sekali tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi,” tegas Trump dilansir Reuters, Minggu (1/3/2026).
Reuters melaporkan, Saudi meningkatkan produksi dan ekspor minyak sebagai bagian dari rencana darurat, jika serangan AS terhadap Iran mengganggu pasokan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan menggempur Iran jika mereka tak mencapai kesepakatan nuklir.
Trump ingin pengayaan nuklir Iran di angka nol dan produksi rudal sangat dibatasi. Rudal adalah salah satu senjata pertahanan Iran.
Mereka juga berulang kali menyatakan program nuklir yang dibuat untuk tujuan damai. Selain itu, Iran juga menegaskan siap menjalani pengawasan nuklir dari badan atom internasional. ***



