Mabur.co – Hari ini masyarakat Indonesia memperingati peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret yang juga ditetapkan sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara.
Keberhasilan para pejuang merebut ibu kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda dengan peristiwa 6 jam di Jogja tahun 1949 itu tak bisa dilepaskan dari dukungan masyarakat di berbagai wilayah.
Salah satunya adalah dukungan masyarakat di wilayah pedesaan terpencil di Dusun Boro, Kalurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.
Di tempat inilah dulu, semasa Perang Agresi Militer Belanda II pecah, para pejuang bersama masyarakat sekitar bahu membahu berjuang mempertahankan kemerdekaan RI.
Salah satu bukti perjuangan itu terlihat di Monumen Markas Besar Komando Djawa (MBKD) yang ada di Dusun Boro sekitar 30 kilometer di sisi barat Kota Yogyakarta.
Ya, meski terletak cukup jauh dari pusat Kota Yogyakarta, Dusun Boro pernah menjadi lokasi markas para pejuang kemerdekaan, yang dipimpin langsung Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Kala itu menjabat sebagai Panglima Tentara Teritorium Djawa (PTTD).
Terbuat dari bahan marmer setinggi 4,2 meter, monumen MBKD ini nampak masih berdiri kokoh sejak diresmikan 29 Juni 1982 silam oleh Gubernur DIY kala itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Salah seorang warga sekitar, Mustoyo, menyebut monumen MBKD ini dibangun di depan rumah salah seorang tokoh masyarakat kala itu yang rumahnya digunakan sebagai markas para pejuang.
“Dulu rumah itu digunakan sebagai pos perlindungan dan penampungan para pejuang. Di situ mereka tidur dan bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda. Kalau ada yang terluka juga diobati di situ,” ujarnya.

Keberadaan monumen yang memiliki gambar bintang kehormatan ini, menjadi bukti kawasan Dusun Boro pernah menjadi pusat pergerakan perlawanan, melawan penjajah semasa perang Agresi Militer Belanda II tahun 1948-1949.
Di desa terpencil inilah para pejuang yang dikomando sejumlah petinggi militer TNI saat itu menyusun strategi perang gerilya hingga berhasil merebut Kota Yogyakarta selama 6 jam yang dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret.
Dipimpin langsung oleh Jenderal AH Nasution yang juga menjabat Wakil Panglima Besar sekaligus Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI, MBKD Kalibawang memiliki peran vital dalam menyebar-luaskan berita dan perintah terkait perang gerilya yang dilaksanakan oleh tentara republik.
Tak hanya itu, di MBKD inilah seluruh proses komunikasi para pejuang dilakukan secara sembunyi-sembunyi baik lewat surat maupun radiogram bertenaga baterai yang dirakit sendiri oleh para pejuang.
Menurut Lurah Banjarasri, Mardi Santoso, pemilihan Dusun Boro sebagai MBKD selama masa perang Ageresi Militer II memang bukan tanpa alasan.
Selain memiliki sumber makanan yang melimpah, dusun ini juga dipilih sebagai tempat persembunyian, karena memiliki posisi geografis yang sangat strategis.
Terlebih dusun ini juga telah memiliki sejumlah fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, gereja, hingga asrama serta pabrik, yang tentu akan sangat jarang ditemui di desa-desa lainnya kala itu.
“Dulu Dusun Boro ini memang menjadi pusat penyebaran agama Katolik. Sehingga sejak tahun 1930-an sudah sangat berkembang dan maju. Mungkin karena memiliki kesamaan latar belakang agama dengan penjajah Belanda itulah, para pejuang memilih markas di sini, karena akan lebih aman dan kecil kemungkinan untuk diserang,” katanya.
Untuk menjaga monumen agar tetap terawat, masyarakat bersama pemerintah desa sendiri rutin melakukan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan dan merawat monumen.
Saat momen-momen tertentu, monumen ini juga kerap dijadikan sebagai tempat kegiatan upacara atau pun peringatan hari besar nasional.
Selain menjadi tetenger atau penanda peristiwa bersejarah di masa lalu, keberadaan Monumen MBKD ini juga diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat sekitar, agar dapat meneladani perjuangan para pendahulu dalam membantu mempertahankan kemerdekaan RI. ***



