Buah Karya Komikus asal Bantul Ini 1.400 Euro per Halaman

10 Min Read
Man in a dark polo shirt holds up colorful comic books beside a wall calendar.
Komikus Apri Kusbiantoro menunjukkan komik karyanya. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Kamis sore yang teduh (4/6/2026) mabur.co mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama komikus handal, Apri Kusbiantoro, sebelum Apri berangkat ke negara Eropa, Sabtu mendatang.

Komikus kelahiran Selong, Lombok, 21 April 1976 ini, menempuh studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual.

Apri Kusbiantoro punya nama besar di dunia komik asing, khususnya Eropa. Langganan setiap tahun di comic con negara-negara Eropa seperti Belanda, Belgia, Perancis, dan Jerman. Apri selalu kebanjiran fans setiap sesi penandatanganan karya komik.

Man at a book signing table signs a comic book as fans stand nearby inside a brick-arched, stone hall; tables display artwork and materials.
Apri Kusbiantoro saat melayani permintaan tanda tangan dari penggemar komiknya. Apri punya nama besar di dunia komik asing, khususnya Eropa. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Komikus asal Bantul, Apri Kusbiantoro tersebut, memang dikenal mencuat dengan karya epiknya. Berkolaborasi dengan Fajar Nugros, Apri kerap membuat komik berlatar belakang kisah sejarah Nusantara berjudul Elang Jawa.

Menariknya, komik bertema sejarah dan budaya Jawa itu lebih dulu dikenal pembaca Belanda dan Jerman sebelum ramai diperbincangkan di tanah air.

Dari Yogyakarta, semangat merawat identitas budaya kini bergerak menembus pasar internasional melalui medium komik yang semakin relevan bagi generasi muda.

Mengirimkan Komik di Sebuah Manajemen Artis Amerika

Apri mengatakan, setelah malang melintang di dunia animasi Indonesia, mencoba memberanikan diri membuat komik dan mengirimkan pada sebuah manajemen artis di Amerika.

Pengiriman ini berbuntut tawaran posisi in-house di manajemen tersebut. Tetapi Apri lebih memilih sebagai freelancer.

Pada tahun 2008, datanglah tawaran untuk membuat komik kompilasi horor. Walaupun ia tidak menyukai komik horor, tetapi tawaran itu tetap diterima olehnya.

“Saya pengen punya portofolio di industri internasional,” jelasnya saat ditemui di rumahnya di Trimulyo, Jetis, Bantul.

Apri mengatakan, atas pengalaman itu, baru orang bertanya-tanya siapa dirinya. Ketenaran ini membawa dilema lain untuknya.

“Saya yang aslinya bernama Apriyadi akhirnya terpaksa memotong nama Apri saja. Karena kebanyakan orang Barat susah menyebutkan dan mengingat namanya. Padahal nama panggilan saya Yadi, jadi saya mohon maaf sama orang tua,” kenangnya sambil tertawa.

Apri mengatakan lagi, masih belum berani meninggalkan dunia animasi. Sampai akhirnya, seorang penulis dari Belanda, editor komik ‘Strom’ dan ‘Trigan’ yang populer di tahun 1980-an, menghubunginya untuk proyek kolaborasi.

Untuk proyek ini, Apri tidak dibayar karena dijanjikan exposure di majalah komik terkenal di Belanda, Brabant Strip.

Judul komiknya saat itu ‘Close Call’. Ternyata, sambutannya lebih baik di Eropa. Bahkan ia digadang sebagai penerus Don Lawrence, penulis komik Storm, karena gaya gambar yang serupa.

“Sebenarnya saya malu, karena gambar Don Lawrence itu jauh lebih keren dari saya, tapi ya terima saja,” ujarnya.

Two men sit at a table at a convention, one studying a magazine with his hand on his head while the other in a white shirt chats nearby.
Apri (kiri) bersama Fajar Nugros (kanan). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Apri menuturkan lagi, Elang Jawa ini memang bukan besutan dirinya sendiri, ada nama Fajar Nugros membersamainya dalam penggarapan komik yang terinspirasi dari kisah pemisahan wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta pasca-Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Elang Jawa Karya Ikonik

“Kisah dalam Elang Jawa sejatinya bermula dari dongeng masa kecil yang diceritakan ayah Fajar Nugros tentang alasan wilayah Yogyakarta lebih kecil dibanding Surakarta,” ujarnya.

Apri mengatakan pula, judul Elang Jawa diambil karena melibatkan tokoh Elang. Diceritakan bahwa burung Elang Jawa itu burung sakti, burung pelindung Pulau Jawa, dan pelindung Nusantara.

Kebetulan juga Elang Jawa simbol negara Indonesia, yakni Garuda. Elang Jawa yang ada jambulnya di belakang. Itu satu alasan kuat kenapa memilih judul Elang Jawa. Karena tokohnya memang juga banyak yang melibatkan Elang. Cerita tentang Elang sakti juga.

Open two-page comic spread with hand visible, featuring black-and-white ink panels and speech bubbles.
Komik Berjudul Elang Jawa terinspirasi dari kisah pemisahan wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta pasca-Perjanjian Giyanti tahun 1755. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Secara filosofis, si penulis sekaligus yang mempunyai cerita juga mengatakan, itulah gambaran tentang komik Indonesia.

“Jadi komik Indonesia ini seperti burung Elang. Dia itu sedang terancam punah dan sedang terluka, tetapi dia tetap harus terbang, harus tetap menjaga Pulau Jawa, meskipun dia kondisi terluka. Elang Jawa ini burung langka yang habitatnya bisa dihitung dengan jari dan sangat sedikit. Ada fakta yang kita ungkapkan di dalam cerita komik Elang Jawa, yakni kepedulian tentang lingkungan, tentang makhluk hidup,” ujarnya.

Apri mengatakan lagi, ketertarikan membuat komik bermula dari senang melihat bentuk dan mencoba menggambarnya, bakatnya sudah terlihat dari sebelum sekolah.

“Saya senang mulai menggambar figur dari sebelum sekolah, tracing dari buku tulis kakak-kakak saya, dari kertas kado,” ceritanya.

Sewa Komik Keliling

Apri menjelaskan, kesukaannya membaca komik dari penyewaan komik keliling dan menonton kartun yang populer di zaman kecilnya dulu di era 1980-an. Hal itu semakin menumbuhkan kecintaannya pada komik dan gambar.

“Saya mulai mencoba membuat komik sendiri saat SMP. Saat kuliah Apri mengikuti lomba komik Diknas dan berhasil menyabet juara dua. Komiknya saat itu bertema superhero dengan judul ‘Bunglon’,” ujarnya.

Apri menuturkan, dulu komik dianggap dimusuhi, dalam tanda kutip dimusuhi oleh para orang tua, karena mereka menganggap komik tidak berguna. Bahkan ekstremnya, membuat bodoh.

Sekilas dilihat isi komik cuma ada fantasi. Orang tuanya dulu mengatakan daripada membaca komik membaca buku pelajaran saja.

Namun melalui komik, justru yang mengenalkan Apri mengetahui Selat Jawa, Selat Bali, dan perang Diponegoro.

“Saya tahunya dari komik. Komik bukan sekadar gambar di atas kertas, melainkan perjalanan panjang,” katanya.

Apri menjelaskan, bahwa pembuatan komik dimulai dari naskah yang kemudian dipecah ke dalam story board untuk menentukan jumlah panel dan alur visual. 

Story board ini selanjutnya didiskusikan bersama penulis naskah, editor, atau penerbit sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Setelah disetujui, perlahan story board akan dihidupkan melalui ilustrasi dan melewati proses editing, hingga akhirnya lahir menjadi komik yang siap dinikmati,” katanya.

Apri menilai, industri komik Indonesia perlahan mulai bangkit setelah sempat redup sejak era kejayaan komik lokal pada 1960–1980-an.

Tantangan terbesar di era ini adalah menjaga konsistensi berkarya di tengah pasar yang belum sepenuhnya besar.

“Ketika kita dapat sambutan yang baik, kita harus menjawab dengan konsistensi karya. Dengan demikian pembaca tidak akan terputus membaca karya kita,” tuturnya.

Apri menjelaskan, setiap karakter dan cerita yang dibuat memiliki royalti. Penerbit tidak memiliki hak sama sekali untuk ikut campur mengubah karakter dan penulisan narasi komik tersebut.

Berbeda halnya dengan sistem penulisan komik yang ada di Amerika Serikat atau Jepang. Seorang penulis hanya berhak menciptakan karakter ke sebuah penerbit. Karakter tersebut kemudian menjadi milik penerbit.

Karena itu, sekalipun suatu saat nanti penulisnya keluar dari penerbitan tersebut, cerita dari karakter yang diciptakan penulis tersebut masih bisa dilanjutkan ilustrator dan penulis lainnya dari penerbit yang bersangkutan.

“Tidak ada kepentingan dari penerbit memberikan royalti kepada orang yang pertama membuat karakter tersebut,” ujarnya.

Lebih Suka Bergelut di Eropa

Apri mengatakan pula, lebih suka bergelut di dunia komik Eropa. Penerbit menyerahkan semua hak penulisan komik tersebut kepada penulis. Para penggemar terbitan komik Eropa pun begitu. Ketika menyukai sebuah komik, mereka akan mengenali penciptanya.

“Tak jarang, ada penggemar yang sengaja menyimpan koleksi komik dari penulis tertentu,” katanya.

Apri mengatakan, setiap komik yang diproduksi digambar sendiri di sebuah kertas berukuran A3. Setiap panel dia gores dengan menggunakan tangan.

Mulai penggambaran dengan pensil hingga pewarnaan menggunakan kuas. Karena secara manual, pengerjaannya otomatis membutuhkan waktu cukup lama. Paling cepat dalam satu halaman dikerjakan dua hari.

Satu edisi komik biasanya berisi 44 lembar. Belum lagi, jika penerbit meminta adanya revisi.

“Kalau revisi, biasanya saya kerjakan di kertas sendiri, di panel yang menurut mereka butuh diganti. Nanti mereka digitalisasi sendiri, untuk diprin,” terangnya.

Dalam pengerjaan komiknya memang memakan waktu cukup lama. Niat untuk mengerjakan harus besar. Namun, itu memberikan kelebihan tersendiri baginya. Setiap ada pertemuan yang diadakan di Eropa, ia selalu berkesempatan menjual panel yang dikumpulkan tersebut.

Bagi para penggemar komik, original artwork memang selalu menjadi incaran para pembaca. Tak jarang, mereka akan merogoh kocek cukup dalam untuk itu. Setiap satu halaman, karya Apri biasanya dihargai dengan kisaran harga Euro 250-1.400.

Harga itu bergantung penting tidaknya panel tersebut dalam sebuah cerita. Harga termahal Apri kenakan pada halaman yang memperlihatkan karakter utama yang sedang bertarung atau original artwork dari sampul halaman.

“Jadi, kalau jual beginian (original artwork) saya biasanya bisa nambah uang buat jajan di sana,” celotehnya.

Apri menjelaskan lagi, karirnya bermula dari sebuah tempat persewaan komik yang ada di kampung halaman Selong, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Semasa kecil dulu ia merupakan pelanggan setia di persewaan komik tersebut.

Nama-nama komik yang paling gemar dia pinjam beragam. Mulai Jaka Tuak, Ki Ageng Brangasan, Jaka Sembung, hingga Gundala.

Tahun 1980-an dia mulai mengenal beberapa komik dari luar negeri seperti Asterix & Obelix dan Storm and Trigan.

“Waktu SMA saya sering bikin komik, tapi tidak pernah selesai,” kenangnya.

Apri bukanlah tipe komikus yang mau menjual komiknya di dunia maya atau di sebuah wadah pembacaan komik di gawai.

“Saya memang memiliki idealisme tersendiri. Membaca komik itu seharusnya dipegang, bukan hanya di-swipe di handphone,” katanya. ***


Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment