Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang sedang meliput Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat, ada satu tokoh Sultan Kasultanan Ngayogyakarta yang patut kita teladani.
Dia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono II. Beliau lahir dengan nama Raden Mas Sundoro pada 7 Maret 1750.
Beliau merupakan putra dari Hamengku Buwono I dan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kadipaten.
Terkenal sebagai sosok pemimpin Yogyakarta yang memiliki karakter keras, berani, dan teguh dalam menjaga kedaulatan keraton dari campur tangan asing.
Masa kecil Mas Sundoro tidak dihabiskan dalam kemewahan istana yang tenang, melainkan dalam suasana perjuangan fisik.
Ia lahir saat ayahnya, Pangeran Mangkubumi (HB I), sedang bergerilya melawan VOC dalam Perang Suksesi Jawa III.
Pengalaman hidup di hutan dan kamp militer ini membentuk mentalitasnya menjadi pribadi yang disiplin dan waspada.
Sejak belia, ia sudah akrab dengan strategi perang dan aroma mesiu, yang kelak membuatnya menjadi sultan yang paling sulit ditaklukkan secara diplomatis oleh Belanda maupun Inggris.
Menjadi Putra Mahkota yang Kritis
Saat beranjak dewasa dan diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (Putra Mahkota), Mas Sundoro menunjukkan ketidaksukaannya pada dominasi bangsa Eropa.
Ia merasa martabat keraton sering kali direndahkan oleh protokol-protokol yang dipaksakan VOC.
Di masa ini, ia mulai membangun benteng pertahanan Baluwerti yang kokoh mengelilingi keraton, lengkap dengan parit dalam, sebagai simbol bahwa Yogyakarta adalah kekuatan yang mandiri dan siap tempur.
Pembangunan Baluwarti ini sebagai respons atas dibangunnya Rutenburg, yang kemudian disebut Benteng Vredeburg oleh VOC atas izin Sultan HB I pada 1760, dengan dalih menjaga keamanan keraton.
Namun, lokasinya sangat provokatif: tepat di ujung jalan utama menuju keraton.
Takhta dan Perlawanan Tanpa Kompromi
Naik takhta pada tahun Senin Pon, 9 Ruwah tahun Je 1718, bertepatan dengan tanggan 2 April 1792, Bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana, Senapati Ing Ngalaga Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama Kalifatulah ingkang jumeneng kaping II, memerintah dalam periode yang penuh gejolak.
Berbeda dengan ayahnya yang lebih diplomatis, HB II secara terang-terangan menolak aturan baru yang dibawa oleh Herman Willem Daendels.
Ia menolak mengubah tata cara penyambutan pejabat Belanda yang dianggapnya merendahkan derajat Sultan.
Sikap “kepala batu” demi harga diri bangsa ini membuatnya harus mengalami pasang surut kekuasaan; ia tercatat mengalami tiga kali masa jabatan (naik-turun takhta) akibat intrik politik dan intervensi militer.
***
Sultan Hamengku Buwono II memiliki catatan sejarah yang unik karena ia adalah satu-satunya Sultan Yogyakarta yang naik takhta sebanyak tiga kali.
Masa jabatannya yang pasang surut ini sangat dipengaruhi oleh konfrontasinya dengan penjajah (Belanda dan Inggris).
Periode Pertama (1792 – 1810): ia naik takhta menggantikan ayahnya, HB I. Masa ini berakhir setelah ia dipaksa turun takhta oleh Herman Willem Daendels akibat sikap konfrontatifnya.
Ia kemudian digantikan oleh putranya, HB III, sebagai “Sultan Sepuh”.
Periode Kedua (1811 – 1812): ia mengambil kembali takhtanya setelah kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Inggris.
Namun, periode ini hanya bertahan singkat dan berakhir tragis dengan peristiwa Geger Sepehi. Inggris menyerbu keraton, menangkap HB II, dan membuangnya ke Pulau Pinang.
Periode Ketiga (1824 – 1828): setelah bertahun-tahun di pengasingan (Pulau Pinang dan Ambon), ia dipulangkan oleh Belanda yang berharap kehadirannya bisa meredam gejolak Perang Jawa (Pangeran Diponegoro).
Ia menjabat hingga wafat pada 3 Januari 1828. Jika dijumlahkan, beliau memerintah selama kurang lebih 23 tahun dalam rentang waktu 36 tahun yang penuh gejolak.
Gelar Dalem adalah Sultan Sepuh: ini adalah julukan yang paling populer.
“Sepuh” berarti tua atau senior. Gelar ini diberikan karena beliau sempat bertakhta kembali di usia senja (naik takhta hingga tiga kali) dan untuk membedakannya dengan putranya (HB III) yang pernah naik takhta saat beliau masih hidup.
Sultan Dhamar: merujuk pada kegemaran dan perhatian beliau terhadap cahaya atau penerangan, baik secara harfiah di lingkungan keraton maupun secara simbolis sebagai pemberi petunjuk.
Sultan Komidi: julukan ini muncul karena kegemaran beliau terhadap pertunjukan seni dan kemegahan protokoler keraton yang sangat teatrikal sebagai bentuk unjuk kewibawaan di depan bangsa Eropa
Sinuhun Banguntapa: julukan ini berkaitan dengan hobinya membangun berbagai pesanggrahan (tempat peristirahatan dan meditasi) yang tersebar di wilayah Yogyakarta.
Sultan Sugih: kadang disebut demikian karena pada masa awal pemerintahannya, kekayaan Keraton Yogyakarta mencapai puncaknya, yang ditunjukkan dengan kemewahan upacara dan pembangunan fisik yang masif.
Situasi Global Masa HB II
Di masa kekuasaan HB II terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Inggris di Nusantara (termasuk dampaknya terhadap Yogyakarta) terjadi pada 1811. Peristiwa ini dipicu oleh dinamika politik besar di Eropa yang merembet ke tanah Jawa.
Sebab-sebab utamanya adalah:
1. Dampak Perang Napoleon di Eropa
Pada saat itu, Prancis di bawah Napoleon Bonaparte berhasil menaklukkan Belanda. Belanda kemudian berubah menjadi negara vasal Prancis bernama Koninkrijk Holland.
Karena Belanda sudah “menjadi” Prancis, maka Inggris —yang merupakan musuh bebuyutan Napoleon—menganggap seluruh wilayah jajahan Belanda (termasuk Hindia Belanda) sebagai wilayah musuh yang sah untuk direbut.
2. Kelemahan Pertahanan Pasca-Daendels
Sebelum Inggris datang, Napoleon mengirim Herman Willem Daendels ke Jawa untuk memperkuat pertahanan dari serangan Inggris (termasuk membangun Jalan Raya Pos).
Namun, kepemimpinan Daendels yang sangat keras memicu kebencian luar biasa dari raja-raja lokal dan rakyat.
Ketika Daendels digantikan oleh Jan Willem Janssens yang lebih lemah, mentalitas pertahanan di Jawa sedang berada di titik terendah.
3. Penyerbuan Inggris ke Batavia (Agustus 1811)
Inggris mengirim armada besar di bawah pimpinan Lord Minto dan Sir Stamford Raffles.
Mereka mendarat di Cilincing, Batavia, dan dengan cepat menguasai ibu kota. Pasukan Belanda-Prancis terdesak hingga ke Semarang.
4. Kapitulasi Tuntang (18 September 1811)
Ini adalah penyebab formal beralihnya kekuasaan. Belanda (Janssens) menyerah tanpa syarat kepada Inggris melalui perjanjian ini. Poin utamanya:
- Seluruh wilayah Jawa dan sekitarnya yang dikuasai Belanda diserahkan kepada Inggris.
- Tentara Belanda menjadi tawanan perang Inggris.
- Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi Letnan Gubernur di Jawa.
Hubungan dengan Sultan HB II
Peralihan ini sempat memberi harapan bagi HB II untuk merebut kembali kedaulatan Yogyakarta yang sempat ditekan Daendels.
Namun, harapan itu sirna karena Raffles ternyata jauh lebih ambisius dan menuntut kepatuhan yang lebih tinggi daripada Belanda, yang akhirnya memicu pecahnya Geger Sepehi 1812.
India: Pusat Kekuatan Inggris (EIC)
India berperan sebagai pangkalan utama bagi Inggris untuk meluaskan pengaruhnya ke Asia Tenggara. Pasukan Inggris yang menyerang Yogyakarta pada peristiwa Geger Sepehi (1812) sebagian besar diberangkatkan dari India.
Nama “Sepehi” dalam Geger Sepehi berasal dari kata Sepoy, yaitu tentara pribumi India yang direkrut oleh perusahaan dagang Inggris (EIC) untuk menyerbu Keraton Yogyakarta.
Thomas Stamford Raffles adalah Letnan Gubernur Inggris di Jawa juga memiliki kaitan erat dengan pemerintahan Inggris di India (Lord Minto), yang membawa visi liberalisme ekonomi dan penguasaan tanah yang berbeda dari gaya Belanda.
Asia: Pergeseran Jalur Perdagangan
Secara regional di Asia, terjadi dinamika penting:
- Runtuhnya Monopoli Tradisional: Kebangkrutan VOC pada 1799 mengubah hubungan dagang menjadi lebih bersifat birokrasi negara (pemerintah kolonial langsung).
- Hubungan dengan China dan India: Jawa tetap menjadi titik strategis jalur perdagangan internasional antara India dan China. Permintaan komoditas seperti gula dan rempah dari Jawa mulai meningkat di pasar global Asia.
- Sentimen Pan-Islamisme: Meski masih samar, hubungan spiritual dan perdagangan dengan Kesultanan Utsmaniyah (Turki) dan wilayah Arab tetap terjaga, memberikan pengaruh moral bagi raja-raja Jawa dalam menjaga wibawa Islam di tengah tekanan Kristen Eropa.
HB II memerintah di tengah transisi kekaisaran dunia. Beliau terjepit di antara kepentingan Prancis (melalui Daendels) dan Inggris (melalui Raffles), yang pada akhirnya mengakibatkan penyerbuan fisik ke keraton karena sikap beliau yang tetap ingin mempertahankan otonomi di tengah badai kolonialisme global tersebut.
Geger Sepehi
Geger Sepehi adalah lidah Jawa untuk menyebut Sepoy, yaitu tentara bayaran asal India yang bekerja untuk East India Company (EIC) Inggris.
Pasukan ini didatangkan dari resimen-resimen di Bengal, India. Mereka dikenal disiplin dan ahli dalam taktik perang modern Eropa.
Saat menyerbu Yogyakarta, Inggris membawa sekitar 1.200 pasukan, dan sebagian besar adalah infanteri Sepoy.
Secara teknis, pasukan Sepoy inilah yang merayap di dinding-dinding Benteng Baluwerti dan melakukan serangan mendadak pada dini hari melalui pintu belakang (gerbang sisi timur dan selatan).
Dampaknya, pasukan Sepoy menembus pertahanan HB II menghancurkan mitos bahwa benteng keraton tidak tertembus.
Pasca-kemenangan, banyak dari tentara Sepoy ini yang kemudian ditempatkan di garnisun-garnisun di sekitar Yogyakarta untuk mengawasi aktivitas keraton.
Penjarahan Naskah oleh Raffles dan Crawfurd
Setelah keraton jatuh, Thomas Stamford Raffles dan asistennya, John Crawfurd, melakukan apa yang sejarawan sebut sebagai “pencurian intelektual terbesar”.
Raffles adalah seorang orientalis yang sangat haus akan ilmu pengetahuan.
Ia percaya bahwa untuk menguasai Jawa sepenuhnya, ia harus menguasai sejarah dan budayanya. Berpuluh-puluh gerobak berisi naskah kuno (serat, babad, dan hukum adat) diangkut.
Termasuk di dalamnya adalah salinan-salinan naskah yang sangat dicintai HB II seperti naskah-naskah silsilah dan ajaran kepemimpinan.
Naskah-naskah ini dibawa ke Kalkuta (India) sebelum akhirnya dikirim ke Inggris. Sebagian besar koleksi tersebut kini menjadi bagian dari British Library di London dan perpustakaan di Universitas Oxford.
Ironisnya, penjarahan ini membuat Raffles mampu menulis buku monumentalnya, The History of Java. Tanpa naskah-naskah jarahan dari era HB II tersebut, buku tersebut tidak akan pernah selengkap itu.
Hingga saat ini, sebagian besar naskah asli peninggalan masa HB II masih berada di luar negeri. Meskipun ada beberapa upaya digitalisasi (proyek naskah digital), fisik aslinya menjadi saksi bisu betapa besarnya kekalahan politik dan budaya yang dialami Yogyakarta akibat konflik HB II dengan Inggris.
Kehilangan naskah ini dianggap lebih menyakitkan bagi keraton daripada kehilangan emas, karena naskah adalah “ruh” dan panduan pemerintahan bagi seorang Sultan.
Kesepakatan-kesepakatan terhadap Eropa
Hubungan diplomatik HB II dengan kekuatan kolonial ditandai dengan ketegangan dan pemaksaan kehendak oleh pihak asing. Berikut adalah kesepakatan-kesepakatan penting yang melibatkan HB II:
- Kesepakatan dengan Belanda
Kontrak Politik Akte Van Verband 1792 (Awal Takhta):
Saat naik takhta, Belanda menuntut HB II menandatangani kontrak yang mengakui VOC sebagai pelindung.
HB II menolak protokol yang mengharuskan Sultan berdiri saat menyambut Gubernur Belanda. Ini adalah awal keretakan hubungan.
Pada Perjanjian Januari 1811 (Era Daendels), di bawah ancaman militer Herman Willem Daendels, HB II dipaksa menandatangani perjanjian yang sangat merugikan:
- Hapusnya hak Sultan atas pemungutan pajak di wilayah pantai utara (pasisir).
- Pengalihan kendali atas hutan jati kepada pemerintah kolonial.
- Perubahan protokol: Residen Belanda kedudukannya dianggap setara dengan Sultan (duduk di kursi yang sama tinggi).
Kesepakatan 1826 (Kembali dari Pengasingan)
Belanda membawa HB II kembali dari Ambon untuk naik takhta ketiga kalinya. Syaratnya adalah HB II harus membantu meredam pemberontakan Pangeran Diponegoro.
Namun, dalam praktiknya, HB II bersikap pasif dan tidak benar-benar membantu Belanda.
- Kesepakatan dengan Inggris (EIC)
Perjanjian Awal 1811 (Surat Rahasia):
Sebelum Inggris menyerang Jawa, HB II sempat melakukan korespondensi rahasia dengan pihak Inggris (Raffles) dengan harapan Inggris akan membantunya menyingkirkan pengaruh Belanda dan mengembalikan wilayah Yogyakarta yang direbut Daendels.
Perjanjian Pascageger Sepehi (Agustus 1812):
Setelah kalah dalam perang, HB II dipaksa menandatangani kesepakatan yang menghancurkan kedaulatan Yogyakarta:
- Penyerahan Wilayah: Yogyakarta kehilangan wilayah mancanegara (wilayah luar) yang luas ke tangan Inggris.
- Pembentukan Pakualaman: Sebagian wilayah Yogyakarta diambil untuk membentuk Kadipaten Pakualaman sebagai imbalan bagi Pangeran Natakusuma yang memihak Inggris.
- Biaya Perang: Keraton diwajibkan membayar biaya ganti rugi perang kepada Inggris.
- Penghapusan Angkatan Bersenjata: Jumlah prajurit keraton dibatasi ketat dan tidak boleh memiliki kekuatan artileri (meriam) besar.
HB II hampir selalu menandatangani perjanjian tersebut di bawah tekanan militer (point of a sword), bukan melalui diplomasi sukarela.
Beliau sering kali melanggar kesepakatan-kesepakatan tersebut segera setelah memiliki kesempatan, yang menyebabkannya dibuang berkali-kali.
Karya-karya HB II
Selain dikenal sebagai sosok yang keras kepala terhadap penjajah, HB II memiliki spektrum keahlian yang luas: Arsitektur dan Tata Kota: Ia adalah sosok di balik keindahan dan kekokohan fisik Yogyakarta.
Selain Baluwarti, ia berperan besar dalam pembangunan pesanggrahan-pesanggrahan (istana peristirahatan) seperti Rejawinangun dan Giri Peni, yang memadukan fungsi estetika dan pertahanan.
Strategi Militer: Sejak kecil terbiasa di medan perang, ia memiliki keahlian dalam mengorganisir pasukan. Ia membentuk unit-unit prajurit elit keraton dan sangat paham mengenai balistik (penggunaan meriam).
Sastra dan Budaya: Di balik wataknya yang gahar, ia adalah pelindung seni yang tekun. Ia menggubah beberapa tari tradisi (Yasan Dalem) dan sangat menaruh perhatian pada penulisan manuskrip atau serat-serat Jawa untuk melestarikan nilai luhur leluhur.
Diplomasi Tekanan: Keahliannya bukan dalam negosiasi yang manis, melainkan dalam diplomasi konfrontatif.
Ia mahir menggunakan simbol-simbol protokol untuk menunjukkan posisi tawar yang tinggi di depan utusan Eropa.
Dalam menjalankan pemerintahannya yang keras dan penuh gejolak, HB II dikelilingi oleh tokoh-tokoh kuat yang menjadi pilar pertahanan sekaligus otak di balik sikap politiknya.
Mereka terbagi dalam lingkaran keluarga, militer, dan penasehat spiritual.
Beberapa tokoh-tokoh kunci pendukung HB II:
1. Raden Mas Jaka Puring (Pangeran Dipokusumo)
Beliau adalah saudara HB II yang menjabat sebagai Panglima Perang. Dipokusumo adalah sosok yang sangat setia dan menjadi pelaksana utama dalam memperkuat sistem pertahanan keraton. Ia dikenal memiliki visi militer yang sejalan dengan HB II dalam menentang dominasi asing.
2. Pangeran Ngabehi
Salah satu putra HB II yang paling setia. Pangeran Ngabehi merupakan sosok yang selalu mendampingi ayahnya, terutama dalam masa-masa sulit saat harus menghadapi tekanan Daendels maupun Raffles. Ia menjadi garda terdepan dalam menjaga wibawa ayahnya di internal keraton.
3. Pangeran Mangkudiningrat
Putra sulung HB II yang dikenal memiliki semangat tempur tinggi. Ia adalah pendukung utama kebijakan ayahnya yang konfrontatif. Keberadaannya sering membuat Belanda khawatir karena ia mewarisi watak keras dan keberanian HB II secara utuh.
4. Raden Rangga Prawiradirja III
Meskipun hubungan mereka dinamis (Rangga adalah menantu HB II sekaligus Bupati Wedana Madiun), ia adalah tokoh penting yang melakukan pemberontakan terbuka terhadap Belanda pada tahun 1810.
Pemberontakan ini sering dianggap sebagai “pesanan” atau setidaknya mendapat restu diam-diam dari HB II untuk menguji kekuatan Belanda.
5. Lingkungan Ulama dan Penasehat Spiritual
HB II sangat didukung oleh golongan Abangan dan Kaum Santri yang nasionalis. Ia sering berkonsultasi dengan para ulama keraton yang memberikan legitimasi religius bahwa melawan penjajah (VOC/Eropa) adalah bagian dari menjaga marwah agama dan tanah air.
Dukungan ini membuat HB II memiliki basis massa rakyat yang sangat militan.
6. Para Prajurit Estri (Prajurit Wanita)
Jangan lupakan peran korps prajurit wanita keraton yang sangat loyal. Mereka bukan sekadar pengawal, tetapi juga menjadi mata dan telinga HB II di dalam istana untuk mendeteksi adanya intrik atau pengkhianat yang bekerja sama dengan Belanda.
Faktor Urgen: Para pendukung ini diikat oleh satu ideologi yang sama, yaitu “Anti-Intervensi”. Mereka melihat HB II bukan hanya sebagai raja, tapi sebagai simbol perlawanan terhadap martabat Jawa yang diinjak-injak bangsa Eropa.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II, korps prajurit wanita ini lebih dikenal dengan nama Prajurit Langenkusumo.
Mereka adalah pasukan elite yang sangat tangkas dalam berkuda, mahir menggunakan senjata api (salvo), serta ahli dalam memanah dan memainkan pedang.
Meskipun identitas individu prajurit rendah sering kali tidak tercatat secara rinci dalam naskah sejarah besar, terdapat beberapa nama tokoh kunci dan pemimpin yang terkait erat dengan eksistensi korps ini:
- Ratu Ageng Tegalrejo (GKR Hageng): Beliau adalah istri Sultan HB I sekaligus nenek buyut Pangeran Diponegoro. Ratu Ageng dikenal sebagai komandan pertama atau perintis korps prajurit estri ini. Di bawah bimbingannya, korps ini menjadi kekuatan yang sangat disiplin dan disegani, bahkan oleh Gubernur Jenderal Daendels.
- Raden Ayu Dewoningrat: Tercatat sebagai mantan Wedana Korps Amazon (sebutan Barat untuk Prajurit Estri) pada masa HB II. Beliau memegang peran kepemimpinan administratif dan operasional dalam pasukan pengawal pribadi Sultan ini.
- Para Putri Pejabat dan Keluarga Elit: Sebagian besar anggota Prajurit Langenkusumo pada era HB II berasal dari putri-putri pejabat tinggi keraton atau keluarga lapisan atas di pedesaan yang dididik khusus secara militer sejak dini.
Tragedi Geger Sepehi dan Masa Tua
Puncak dramatis hidupnya terjadi pada peristiwa Geger Sepehi tahun 1812, ketika pasukan Inggris (di bawah Raffles) menyerbu Keraton Yogyakarta.
Meski melawan dengan gagah berani, HB II akhirnya ditangkap dan dibuang ke Pulau Pinang, lalu ke Ambon.
Namun, garis takdir membawanya kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1824, ia dipulangkan dan kembali naik takhta untuk ketiga kalinya hingga wafat pada tahun 1828.
Sri Sultan HB II dikenang sebagai Sultan Sepuh yang tak pernah benar-benar tunduk. Ia adalah perlambang harga diri Mataram yang menolak menjadi sekadar pion di papan catur kolonialisme. ***



