Apakah Selera Film Bisa Disusun Rapi Seperti Rak Buku? - Mabur.co

Apakah Selera Film Bisa Disusun Rapi Seperti Rak Buku?

Saya pernah cukup naif untuk percaya bahwa selera film bisa disusun rapi seperti rak buku, diberi nomor, lalu dituntaskan satu per satu sampai tuntas, seperti orang menyelesaikan utang moral terhadap sejarah sinema.

Dan tentu saja, seperti semua ilusi yang terlalu percaya diri, keyakinan itu datang dalam bentuk buku dengan judul yang hampir provokatif: 1001 Movies You Must See Before You Die.

Saya beli delapan tahun lalu, dengan semacam kesombongan halus yang hanya dimiliki penonton yang merasa dirinya sudah “lumayan tahu”, tapi diam-diam ingin divalidasi oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ironisnya, buku fisiknya sampai sekarang masih dalam kondisi nyaris sempurna. Bersih, kaku, tidak banyak disentuh.

Seperti artefak yang lebih cocok dipajang daripada dipakai. Karena kenyataannya, saya jauh lebih sering membaca versi PDF-nya.

Di layar. Di sela waktu kosong. Tanpa ritual. Tanpa rasa hormat yang berlebihan. Sementara yang di rak itu tetap diam, seperti penjaga gerbang yang tidak pernah benar benar saya lewati.

Waktu pertama kali punya buku ini, saya sempat membukanya dengan cara yang agak khidmat. Halaman demi halaman terasa seperti ujian kecil.

Ada judul yang saya kenal, yang memberi rasa aman. Ada yang pernah saya dengar, yang memancing rasa penasaran. Dan ada yang sama sekali asing, yang secara halus seperti mengatakan: selera kamu belum sejauh yang kamu kira.

Buku ini tidak pernah berteriak. Dia tidak perlu. Cara dia menyusun film sudah cukup untuk menciptakan hierarki. Ini penting. Ini wajib. Ini bagian dari kanon. Dan kalau kamu belum sampai sini, ya mungkin kamu masih di luar.

Versi PDF-nya, yang justru lebih sering saya baca, pelan pelan merusak aura itu. Saya tidak lagi membukanya secara berurutan.

Tidak ada lagi ambisi untuk mengikuti kronologi sejarah film seperti sedang naik tangga menuju pencerahan. Saya scroll.

Berhenti di satu judul. Baca sedikit. Lompat lagi. Kadang tidak selesai. Kadang cuma lihat gambarnya. Seperti orang nongkrong tanpa tujuan jelas, tapi tetap merasa ada sesuatu yang sedang terjadi.

Yang menarik, walaupun bentuknya berubah, efeknya tetap sama. Setiap entri di buku ini seperti kompresi kecil dari sesuatu yang lebih besar.

Tidak pernah cukup untuk benar benar memahami filmnya, tapi cukup untuk menciptakan rasa bahwa film itu penting. Dan mungkin, pada akhirnya, itu fungsi utamanya. Bukan menjelaskan, tapi menunjuk.

Delapan tahun kemudian, saya tidak lagi melihat buku ini sebagai daftar yang harus diselesaikan. Lebih seperti arsip dari fase tertentu dalam hidup saya sebagai penonton.

Fase di mana saya percaya bahwa selera bisa divalidasi lewat checklist. Fase di mana angka 1001 itu terasa seperti target, bukan sekadar gimmick editorial.

Sekarang saya lebih sadar bahwa daftar seperti ini selalu punya bias. Terlalu banyak Eropa. Terlalu banyak Amerika.

Beberapa wilayah dunia muncul sekilas, seperti tamu undangan yang datang terlambat lalu langsung pulang.

Tapi justru di situ letak kejujurannya. Buku ini bukan peta objektif. Ini kurasi. Dan seperti semua kurasi, ia lebih banyak bicara tentang siapa yang memilih daripada apa yang dipilih.

Kadang saya masih membuka versi PDF-nya secara acak. Dari film Jepang tahun 50-an, lompat ke New Hollywood, lalu ke sesuatu dari Eropa Timur yang bahkan saya tidak tahu harus mencarinya di mana.

Ada kenikmatan kecil dalam ketidakteraturan itu. Tidak ada tekanan. Tidak ada target. Tidak ada rasa bersalah kalau berhenti di tengah.

Sementara itu, buku fisiknya tetap di rak. Bersih. Tenang. Sedikit terlalu sempurna. Seperti versi ideal dari diri saya yang dulu ingin menjadi penonton film yang “lengkap”.

Saya lihat dia sesekali, bukan untuk dibuka, tapi lebih seperti melihat bukti bahwa saya pernah punya ambisi itu.

Dan mungkin itu yang tersisa sekarang. Bukan daftar filmnya, bukan angka 1001-nya, tapi jarak antara saya yang dulu dan saya yang sekarang.

Dulu ingin menaklukkan sinema. Sekarang cukup duduk, nonton, dan kadang tidak mengerti apa apa.

Lucunya, setelah delapan tahun, saya baru sadar satu hal sederhana. Dari 1001 film itu, yang benar-benar saya butuhkan mungkin cuma beberapa puluh saja.

Sisanya? Ya tetap saya simpan… Biar kelihatan sibuk saja kalau ada tamu yang nanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *