Saudaraku, kepahlawanan bukan sesuatu yang jauh, bukan bayang-bayang masa silam yang dikenang dari kejauhan —bukan pertanda kesilaman dan kematian.
Ia hidup —atau seharusnya hidup— di dalam diri kita, di sini, saat ini.
Bukan penantian akan hadirnya juru selamat, melainkan keberanian kecil yang terus kita pilih, kejujuran yang kita rawat, kesediaan berdiri tegak meski tanpa sorak.
Namun kita kerap kehilangan arah. Kita diajari—atau membiarkan diri percaya— bahwa pahlawan datang dari luar diri, muncul saat genting untuk menyelamatkan. Maka kita pun menunggu.
Dalam penantian itu, krisis dibiarkan berlarut, karena tanggung jawab kita tangguhkan pada sosok yang tak kunjung hadir.
Di saat yang sama, ruang publik dipenuhi kegaduhan yang menyesatkan. Di era media sosial, algoritma menentukan siapa yang terlihat dan lenyap.
Sensasi dipelihara karena mendatangkan perhatian, sementara keteladanan berjalan sunyi, nyaris tanpa pengakuan.
Yang bising diberi panggung, yang bernilai kerap tersisih —seolah kita lebih terpikat gemuruh daripada merawat yang tumbuh perlahan.
Padahal, seperti diingatkan oleh Jalaluddin Rumi: “Benih tumbuh dalam kesenyapan, sedangkan pohon tumbang jatuh dengan gemuruh. Destruksi itu penuh kebisingan, sementara kreasi berlangsung dalam keheningan.”
Di sanalah kita diuji: akan terus larut dalam riuh, atau belajar mendengar yang hening?
Jika kita menghendaki tumbuhnya keteladanan, kita harus mengubah arus —memberi tempat bagi yang sunyi untuk terlihat, menghargai yang bekerja tanpa riuh, dan mengarusutamakan kisah kepahlawanan di sekitar kita.
Karena bangsa ini tidak kekurangan pahlawan—ia hanya kekurangan cara mengenali dan menghidupkannya.
Seperti tergambar dalam dialog antara Andrea dan Galileo dalam drama Bertolt Brecht.
Andrea berkata, “Negeri murung yang tak punya pahlawan.”
Galileo menukas, “Bukan. Negeri murung yang memerlukan pahlawan.”
Bukan tak ada pahlawan, melainkan masih terbenam dalam diri dan gemuruh kerumunan. Maka pahlawan tak perlu dinanti.
Ia perlu dihidupkan —dalam diri setiap jiwa, dalam tindakan sehari-hari, dan dalam keberanian menghadirkan kebaikan di ruang publik.



