Roti MBG Berjamur, Guru Besar UGM: Harus Jadi Perhatian Serius - Mabur.co

Roti MBG Berjamur, Guru Besar UGM: Harus Jadi Perhatian Serius

Mabur.co- Pemberian roti memang menjadi solusi praktis dalam menu Makan Bergizi Gratis atau MBG kering yang dibagikan selama bulan puasa.

Namun, temuan roti berjamur pada menu MBG kering di sejumlah daerah harus dievaluasi total oleh pemerintah.

Menu MBG tidak boleh mengabaikan mutu dan kelayakan konsumsi.

Ratusan roti berjamur itu ditemukan di SMP Negeri 5 Blora, Jawa Tengah pada 24 Februari 2026 dan di SMPN 1 Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada 27 Februari 2026, serta di sejumlah daerah di Provinsi Lampung pada akhir Februari.

Kejadian ini memicu evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Program Makan Bergizi (SPPG).

Temuan serupa juga terjadi di SMPN 1 Delanggu, dan sejumlah daerah lain di Sumatra Selatan seperti di SDN 1 Tugu Papak, Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, SDN 1 Pulau Benawang di Kecamatan Kotaagung Barat, dan sejumlah SD di wilayah Kotaagung Timur.

Meski dinilai praktis dalam penyimpanan dan distribusi, program MBG yang diwujudkan dalam bentuk roti oleh sejumlah pihak sebaiknya tetap tidak mengabaikan mutu dan kelayakan konsumsi.

Guru Besar bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D, mengatakan, peristiwa ditemukannya roti berjamur dalam menu program makan bergizi gratis (MBG) sudah semestinya menjadi perhatian serius banyak pihak.

Meski program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi untuk anak sekolah namun aspek keamanan pangan harus tetap menjadi prioritas utama.

Roti yang sudah berjamur memperlihatkan adanya pertumbuhan mikroorganisme dan berarti produk tersebut tidak layak untuk konsumsi.

“Kejadian seperti ini umumnya berkaitan dengan masalah penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Zullies menuturkan, roti yang berjamur biasanya ditumbuhi oleh kapang (mold) seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus.

Selain pertumbuhan jamurnya sendiri, beberapa jenis kapang, disebutnya, dapat menghasilkan mikrotoksin, yaitu senyawa toksik yang dihasilkan oleh jamur.

“Contohnya adalah aflatoksin, ochratoxin, atau toksin lainnya, dan itu tergantung jenis kapangnya.

Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang sudah berjamur tidak boleh dikonsumsi, karena secara awam kita tidak bisa memastikan jenis jamur yang tumbuh dan apakah sudah menghasilkan toksin atau belum,” jelasnya.

Zullies mengatakan, mengonsumsi roti berjamur dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, dan pada sebagian orang bisa menyebabkan gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare.

Untuk beberapa individu yang sensitif, jamur bisa memicu reaksi alergi. Bahkan jika makanan yang terkontaminasi mengandung mikrotoksin dalam jumlah tertentu, dalam jangka panjang dapat berdampak lebih serius, misalnya gangguan hati atau efek toksik lainnya.

“Pada anak-anak, yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa,” ucapnya.

Zullies mengatakan, roti berjamur tidak selalu telah melewati masa kedaluwarsa, pasalnya bisa saja roti belum melewati tanggal kedaluwarsa tetapi sudah berjamur.

Karena perlakuan penyimpanan yang tidak baik seperti di tempat yang terlalu lembab atau suhu terlalu hangat.

Menurutnya, jamur dapat tumbuh lebih cepat dalam kondisi tersebut. Karena itu terlepas dari tanggal kedaluwarsa, sebaiknya roti yang sudah berjamur untuk tidak dikonsumsi.

Ada beberapa ciri fisik yang menandakan roti tidak layak dikonsumsi.

Zullies menyebut di antaranya muncul bintik atau bercak jamur, biasanya berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan.

Roti berbau apek atau asam yang tidak biasa, tekstur menjadi lembab berlebihan atau berlendir, dan adanya perubahan warna pada permukaan roti.

“Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi,” ucapnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *