Mabur.co – Terus meningkatnya eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah membuat harga minyak mentah dunia resmi tembus level US$100 barel per hari pada Minggu (8/3/2026).
Lonjakan harga minyak mentah dunia ini tercatat mencapai 15 persen sekaligus mencatatkan rekor tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu.
Melansir CNN, harga minyak mentah acuan jenis Brent tercatat mengalami kenaikan 12,63 persen ke level US$ 104 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS tercatat naik hingga mencapai 14,7 persen.
Lonjakan harga minyak mentah ini diduga terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perang antara AS – Israel – Iran yang akan berlangsung lama.
Selain itu ditutupnya Selat Hormuz sejak serangan pertama Israel Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari lalu juga memicu pembatasan berkepanjangan pada aliran distribusi minyak di wilayah Timur Tengah.
Akibat tak bisa melintasi Selat Hormuz, para produsen minyak kini tidak lagi memiliki ruang untuk menyimpan minyak yang mereka pompa, yang berarti banyak negara produsen minyak kini mulai mengurangi hasil produksinya.
Kondisi lonjakan harga minyak mentah ini diketahui juga turut mengguncang indeks saham seperti Dow Jones yang merosot 851,6 poin atau sekitar 2 persen. Sedangkan Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing juga turun 1,73 persen dan 1,65 persen.
Trump mengatakan kepada ABC News bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia ini sebagai “gangguan kecil” dan menyebut lonjakan harga minyak yang tengah terjadi sebagai “pengalihan” yang sudah diproyeksi sebelumnya.
Sementara itu dikutip Al Jazeera, Peter McGuire selaku CEO Trading.com Australia, mengatakan kecepatan dan volatilitas kenaikan harga minyak saat ini berjalan sangat “dramatis”.
Ia mencatat bahwa pada hari Kamis harga minyak berada di antara $75 dan $80, sebelum tiba-tiba melonjak ke $90 dan kemudian mencapai $116 dalam perdagangan Asia. Meskipun harga telah turun kembali ke sekitar $106,
“Perubahan harga minyak ini akan berdampak pada konsumen, dan dalam jangka panjang bisa menimbulkan inflasi, jika ini berlangsung selama berminggu-minggu, atau mungkin sebulan atau lebih,” katanya.
Kenaikan harga minyak mentah dunia ini dikatakan terjadi sebagai reaksi pasar terhadap hilangnya pasokan dan kekhawatiran akan terus meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, di mana pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah terhenti.
Ia bahkan memprediksi harga minyak mentah dunia akan bisa mencapai $140-$150 per barel jika dalam beberapa waktu ke depan semakin banyak negara produsen minyak di wilayah Teluk menghentikan produksi mereka.
Menyikapi kondisi ini menyebut saat ini para menteri keuangan G7 sedang membahas kemungkinan pelepasan minyak secara bersama-sama dari cadangan melalui Badan Energi Internasional.
Sehingga diharapkan dapat menenangkan sentimen pasar dan mengurangi gejolak kenaikan harga minyak mentah dunia. ***



