Mabur.co – Siapa tak kenal sosok Raden Mas Said atau juga dikenal sebagai Mangkunegara I.
Cucu dari Raja Mataram ke-8, Amangkurat IV ini begitu dikagumi karena kehebatan dan keberaniannya dalam berperang melawan musuh-musuhnya.
Saking hebatnya salah seorang tokoh VOC bahkan menjulukinya dengan julukan Pangeran Samber Nyowo (Pangeran Penyambar Nyawa).
Suka Berperang Sejak Muda
Dalam berbagai catatan sejarah, Raden Mas Said yang sudah mulai berperang sejak usia muda, hampir tak pernah dikalahkan. Baik oleh pihak Belanda, maupun lawan-lawan pribuminya.
Namun siapa sangka ternyata ada satu sosok santri muda yang pernah mengalahkan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo.
Santri muda itu dijuluki Jago Wiring Kuning yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen. Kelak ia dikenal dengan nama Kiai Syihabudin.

Kiai Syihabudin muda merupakan sosok santri alim yang memiliki ilmu agama serta ilmu kanuragan tinggi.
Ia dipilih sebagai ‘jago’ oleh Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk melawan Pangeran Samber Nyawa, saat terjadi konflik di dalam tubuh Kasultanan Mataram yang ada di Kartasura.
Setelah terjadi pertempuran dahsyat dengan pasukan Pangeran Samber Nyawa, pasukan Pangeran Mangkubumi yang dipimpin Kiai Syihabudin singkatnya berhasil memperoleh kemenangan.
Berkat keberhasilan itu, Kiai Syihabudin kemudian diangkat oleh Sri Sultan HB I menjadi Penghulu (pemuka agama tertinggi) Keraton Yogyakarta pasca-perjanjian Giyanti.
Mendirikan Masjid Kecil
Namun ia justru menolak jabatan itu dan memilih mendirikan masjid kecil di wilayah Dongkelan, Bantul yang saat ini dikenal sebagai Masjid Pathok Negara Dongkelan.
Di masjid inilah Kiai Syihabudin kemudian mulai berdakwah dan memberikan pengajaran atau pendidikan keagamaan kepada masyarakat sekitar.
Setelah meninggal, Kiai Syihabudin kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman yang berada di sisi barat Masjid Pathok Negoro Dongkelan.
Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan DIY, Rabu (10/6/2026) sosok Pangeran Diponegoro muda yang kala itu masih bernama Raden Ontowiryo kerap datang ke masjid yang didirikan Kiai Syihabudin ini untuk belajar agama.
Bahkan saat Perang Diponegoro berkecamuk, masjid ini menjadi sasaran penyerangan oleh Tentara Belanda karena dianggap sebagai markas pengikut setia Pangeran Diponegoro. Akibatnya masjid ini pun ludes terbakar hingga tak bersisa.

Berkat kesalehan dan ketinggian ilmu agama yang dimilikinya, hingga saat ini masjid Pathok Negoro Dongkelan (yang telah dipugar) serta makam Kiai Syihabudin banyak diziarahi masyarakat dari berbagai kalangan.
Ilmu Tinggi
Salah satu tokoh besar yang juga mengakui kealiman dan ketinggian ilmu Kiai Syihabudin adalah KH. Muhammad Munawwir ulama besar sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak di Bantul.
Menurut Raden Bekel Muhammad Burhanudin, Penghulu Masjid Pathok Negoro Dongkelan, semasa hidupnya Kiai Munawir kerap berziarah ke makam Kiai Syihabudin. Yakni untuk meneladani sikap hidup serta mencari keberkahan dari Kiai Syihabudin.
“Bahkan saking Ta’zim-nya KH Munawir pada Kiai Syihabudin, ia sampai berwasiat agar ketika meninggal dimakamkan di dekat makam beliau,” ujar Burhanudin.
Dan benar saja, saat ini makam KH Munawwir Krapyak berlokasi di satu kompleks pemakaman dengan Kiai Syihabudin di sebelah barat Masjid Pathok Negoro Dongkelan. Jika Makam Kiai Syihabudin ada di sisi timur, maka Makam KH Munawwir ada di sisi barat.
Sejak saat itu tak sedikit anak keturunan KH Munawwir juga ikut dimakamkan di kompleks pemakaman ini, termasuk di antaranya adalah KH Ali Maksum Krapyak. Maka tak heran bila sampai sekarang setiap haul, seluruh santri ponpes Krapyak akan melakukan ziarah ke kompleks pemakaman ini.

