Mabur.co- Biawak Komodo merupakan kadal terbesar yang ada di dunia. Reptil raksasa karnivora ini hidup alami di Taman Nasional Komodo, Pulau Longos, dan sebagian lembah Pulau Flores.
Keberadaan dan kelestarian populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo dijaga ketat oleh Balai Taman Nasional Komodo dengan melibatkan masyarakat setempat.
Wisatawan yang beruntung dapat mengamati biawak komodo secara langsung hanya dari beberapa resort jaga tertentu yang dibuka untuk aktivitas wisatawan, di antaranya Resort Loh Buaya (Pulau Rinca), Resort Loh Liang (Pulau Komodo), dan Resort Padar Selatan (Pulau Padar).
Kehidupan komodo, binatang purba yang sudah ada di muka bumi sejak jutaan tahun lalu, adalah kehidupan yang brutal dan penuh perjuangan.
Tak seperti mamalia lain yang dipelihara induknya, bayi komodo sudah harus belajar menyelamatkan diri dari komodo lain, bahkan dari ibunya sendiri, yang tak mustahil memangsanya.
Bayi komodo yang mampu bertahan akan memanjat pohon untuk menyelamatkan dirinya. Setahun kemudian, komodo kecil turun ke darat, siap berkompetisi dengan komodo lain untuk memangsa rusa, babi hutan, kerbau, atau komodo lain yang lebih lemah.
Usulan perluasan habitat komodo di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencuat untuk menjaga kelestarian satwa endemik Indonesia tersebut.
Dosen Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria Yudha, menilai, tekanan terhadap habitat komodo semakin meningkat, terutama di wilayah daratan utama Flores bagian utara.
“Upaya menjaga kelestarian komodo di Nusa Tenggara Timur dinilai perlu diperkuat dengan memperluas habitat satwa langka tersebut di Pulau Flores,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Donan menekanan, habitat komodo semakin terasa terutama di wilayah daratan utama Flores bagian utara yang mengalami degradasi lingkungan.
Kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan populasi komodo di alam liar.
“Tekanan akibat habitat yang terdegradasi terutama terjadi di mainland Flores bagian utara,” ujarnya.
Donan mengatakan, persebaran komodo tidak hanya berada di Pulau Komodo. Satwa endemik ini juga hidup di Pulau Rinca, sejumlah pulau kecil di sekitarnya, serta di daratan utama Pulau Flores bagian utara.
Populasi komodo saat ini diperkirakan sekitar 3.319 ekor. Namun, keberadaan satwa tersebut menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perburuan liar, perubahan iklim, hingga penyusutan habitat.
“Ancaman lain yang turut menjadi perhatian adalah kondisi habitat komodo yang sebagian besar berada di luar kawasan hutan. Data menunjukkan sekitar 58 persen habitat komodo berada di Area Penggunaan Lain (APL), sehingga perlindungan kawasan menjadi tantangan dalam upaya konservasi,” katanya.
Donan menjelaskan, perburuan liar masih menjadi ancaman keberadaan komodo sehingga diperlukan penguatan pengawasan kawasan, termasuk penambahan personel polisi hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), terutama di daratan utama Flores bagian utara.
Selain penguatan pengawasan, ia juga mengusulkan pemerintah mempertimbangkan program penangkaran komodo yang dikelola secara resmi dan terbatas.
Program tersebut dapat mengikuti mekanisme “Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora” (CITES).
“Dengan demikian, para kolektor hewan akan memilih jalur resmi, karena terdapat jalur resmi yang disediakan,” ujarnya.
Donan menuturkan, peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat komodo juga menjadi faktor penting dalam upaya pelestarian satwa tersebut.
Menurutnya, masyarakat lokal dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga keberadaan komodo di alam. ***
Selain itu, ia menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat di Pulau Rinca dan Pulau Komodo juga diperlukan agar warga dapat berperan aktif menjaga kelestarian komodo. “Jika warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo sejahtera, maka mereka akan dengan senang hati membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian komodo,” katanya.



