Mabur.co – Kawasan wisata Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, pada pertengahan 2026 ini kembali mengalami suhu dingin ekstrim dan diselimuti salju.
Dilansir dari laman Republika, Rabu (10/6/2026), fenomena ini disebut sebagai “embun upas”, yakni munculnya embun berupa butiran es yang terbentuk di permukaan benda seperti rumput, daun, dan tanaman, saat suhu udara berada pada kondisi yang sangat dingin.
Fenomena ini umumnya terjadi ketika embun yang mengembun pada malam hari, kemudian membeku akibat suhu lingkungan yang cukup rendah. Situasi ini cukup sering terjadi di Dieng selama periode musim kemarau seperti saat ini.
Kondisi ini pun turut menarik perhatian wisatawan, yang ingin menyaksikan langsung pemandangan unik berupa hamparan rumput berwarna putih akibat tertutup kristal es tersebut.
Menurut keterangan dari pihak BMKG, fenomena embun upas atau embun es di Dieng diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan.
Bahkan, ketebalan embun es juga berpotensi meningkat, seiring dengan penurunan suhu udara yang terjadi saat puncak musim kemarau, yang akan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.
Lalu, apa yang menyebabkan kawasan Dieng kerap dilanda fenomena embun upas semacam ini?
Dilansir dari laman Republika, Rabu (10/6/2026), berikut adalah beberapa penyebab terjadinya fenomena embun upas tersebut.
1. Musim Kemarau & Langit Bersih
Saat musim kemarau, tidak ada tutupan awan ketika memasuki malam hari. Hal ini menyebabkan panas bumi yang diserap pada siang hari, akan terlepas dan terbuang bebas ke angkasa.
2. Posisi Geografis & Topografi
Dataran Tinggi Dieng berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan prinsip Lapsus Rate (penurunan suhu terhadap ketinggian), setiap kenaikan dataran sebanyak 100 meter akan langsung menurunkan suhu udara di lokasi tersebut.
3. Angin Monsun Australia
Pada pertengahan tahun, terdapat aliran massa udara dingin dan kering dari Benua Australia (Angin Timuran) yang langsung melewati Indonesia, termasuk wilayah Dieng, yang kebetulan juga memiliki ketinggian cukup besar dibanding wilayah lainnya.
4. Perbedaan Suhu yang Cukup Ekstrem
Minimnya uap air dan udara yang sangat kering selama musim kemarau, membuat pelepasan panas terjadi sangat cepat, terutama saat dini hari hingga pagi hari, sehingga embun yang menempel pada tanaman dan permukaan tanah akan langsung membeku.
***
Meskipun fenomena ini menyajikan pemandangan alam yang menakjubkan bagi wisatawan, namun tanpa disadari, kawasan Dieng yang membeku dan “bersalju” seperti ini juga sering kali membawa dampak buruk bagi petani setempat, karena dapat menyebabkan tanaman layu dan gagal panen.
Sehingga keindahan fenomena alam yang satu ini, tidak selamanya berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat di wilayah yang bersangkutan. (*)

