Mabur.co- Dinamika geopolitik yang mengemuka di kawasan Arktik, khususnya di Greenland, tidak dapat lagi dipandang sebagai isu regional semata.
Perkembangan di wilayah Kutub Utara tersebut justru menjadi refleksi masa depan tata kelola perbatasan global tentang bagaimana kedaulatan dipertahankan, sumber daya alam diperebutkan, serta hukum internasional diuji di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan dunia.
Fenomena ini relevan bagi negara kepulauan seperti Indonesia, yang stabilitas dan kesejahteraannya sangat bergantung pada keutuhan wilayah serta pengelolaan batas negara yang berdaulat dan tertib.
Sebagai pulau terbesar di dunia, Greenland memiliki status politik sebagai wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Perhatian global terhadap wilayah ini kembali menguat ketika pada 2019 Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menyampaikan wacana pembelian Greenland.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, mengeluarkan peringatan resmi kepada warganya untuk mulai bersiap menghadapi kemungkinan invasi militer, menyusul ancaman aneksasi yang terus dilontarkan Presiden AS Donald Trump.
Meskipun pemerintah menilai skenario ini kecil kemungkinannya, pihak berwenang menegaskan bahwa potensi konflik tersebut tidak lagi bisa dikesampingkan sepenuhnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Arktik.
Dikutip dari Bloomberg, Minggu (15/3/2026), Nielsen mengumumkan pembentukan satuan tugas khusus yang melibatkan seluruh otoritas lokal untuk mengantisipasi gangguan kehidupan sehari-hari.
Pemerintah tengah menyusun panduan darurat baru bagi 57.000 penduduk pulau tersebut, termasuk rekomendasi spesifik agar setiap rumah tangga menyiapkan cadangan makanan yang cukup untuk lima hari.
“Kecil kemungkinannya akan ada konflik militer, tetapi itu tidak bisa dikesampingkan,” kata Nielsen.
Buku panduan ini mirip dengan yang diterbitkan oleh negara-negara Nordik seperti Finlandia, Norwegia, dan Swedia. Imbauan pemerintah ini membuat warga langsung mendatangi toko untuk membeli perlengkapan yang diperlukan.
Warga Greenland mulai menimbun bahan makanan dan perlengkapan darurat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin menguasai pulau itu.
Langkah antisipatif itu seiring dengan imbauan pemerintah Greenland agar masyarakat bersiaga menghadapi potensi krisis. ***



